Hari ketiga di rumah sesepuh cantik.
Zhou Shiyue dan sesepuh cantik itu sedang sarapan di kamar Zhou Shiyue, karena hari ini entah angin datang dari mana membuat Zhou Shiyue memasak makanan dengan sangat lezat.
“Kau cukup ahli dalam memasak.” Puji sesepuh cantik yang masih mengunyak makanan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Zhou Shiyue hanya mengangkat kedua bahunya membalas perkataan sang guru. Beberapa saat kemudian merekapun selesai makan.
Usai makan sesepuh cantik mengajak Zhou Shiyue ke suatu tempat. Hingga membutuhkan waktu kurang lebih setengah jam perjalanan dengan berjalan kaki untuk sampai ke tempat tujuan.
Sesampainya disana Zhou Shiyue merasa bingung ketika melihat banyaknya batang bambu yang sudah di potong rapi tertancap di tanah lapang dengan panjang yang berbeda-beda.
“Sesepuh kenapa bambu itu di tancapkan disana?” tanyanya.
“Hanya untuk melatih keseimbangan.” Jawab sang guru.
“Sekarang cobalah kau berdiri di atas bambu bambu itu.” Perintah sesepuh cantik.
“Aku? Bagaimana caranya?” jawab Zhou Shiyue, ia merasa tak bisa melakukannya ditambah lagi senyum dibibir sang guru membuatnya merasakan firasat buruk..
“Untuk caranya kau pikirkan sendiri karena itu bukan urusanku, yang ingin aku tau hanya nanti setelah aku kembali lagi kesini kau sudah harus bisa berada di atas bambu bambu itu.” Ucap sang guru sebelum pergi meninggalkan Zhou Shiyue.
Setelah ditinggalkan sang guru, Zhou Shiyue berpikir keras mencari cara untuk berdiri diatas bambu bambu itu. Setelah sekian lamaa tiba-tiba ada sebuah ide muncul dikepalanya.
Ia mengambil batang bambu yang tidak tertancap lalu menyenderkannya ke bambu yang sudah tertancap hingga jalan naik ke atas bambu pun sudah didepan mata.
Dengan mata berbinar ia segera melangkah naik ke bambu yang disenderkan dan berusaha naik keatasnya. Ia pun sampai diatas bambu dengan selamat.
Namun kesialan menimpanya, saat ia menginjak bambu itu ada serangan mendadak dari arah kanan, beruntung ia menghindar dengan tepat waktu jika tidak mungkin panah yang meleset tadi mengenai kepalanya.
Tubuhnya juga tak seimbang karena bambu yang ia injak bergerak bebas, ia terpaksa menginjak bambu lainnya untuk bertahan di atas sana.
Sayangnya setiap bambu yang ia injak juga tergerak membuatnya tidak bisa diam ditempat. Ditambah lagi ia juga harus menghindari setiap serangan yang datang secara mendadak. Salah sedikit nayawanya bisa melayang.
“Apa yang harus aku lakukan agar bisa seimbang diatas bambu ini?” tanyanya pada diri sendiri.
Kakinya terus berpindah tempat serangan-serangan kilat juga terus menyerangnya. Tentu saja ia cukup merasa kelelahan. Namun tiba-tiba saja Zhou Shiyue dikejutkan dengan suara seseorang.
“Jika kau terus bergerak kau akan terus mendapat serangan, berusahalah untuk diam di bambu yang kau injak. Karena kuncinya ada di bambu itu, jika bambu yang kau injak tidak bergerak maka serangan juga tidak muncul.” Ucap seseorang yang tak terlihat keberadaannya.
Zhou Shiyue merasa waspada takut orang yang barusan berbicara adalah orang jahat. Namun pikirannya menjadi jernih karena ia sudah mengetahu kunci dari masalahnya.
“Kau siapa? Diamana kau?” Zhou Shiyue melihat sekitarnya sambil menangkis setiap serangan yang menghampirinya.
“Murid bodoh, sudah ku bilang kuncinya ada di bambu itu kau malah terus bergerak.” Ucap seseorang yang ternyata adalah gurunya sendiri.
Zhou Shiyue menghembuskan nafas lega ketika melihat gurunya yang datang menghampirinya.
“Sesepuh bantu aku, aku sangat lelah berada di atas sini.” Ucap Zhou Shiyue memelas
“Coba kau ingat kembali apa yang ku katakan tadi, dasar murid bodoh! Cihh” sesepuh cantik itu kembali meninggalkan Zhou Shiyue.
‘tentu saja aku mengingatnya!’ batin Zhou Shiyue, ia tersenyum tipis dibalik sandiwaranya.
Setelah kepergian gurunya, Zhou Shiyue mencoba mengendalikan dirinya. Ia menarik nafas dengan dalam lalu menghembuskannya perlahan. Ia berdiri dengan tenang diatas bambu.
‘jika seperti ini kuncinya bukan bambu itu, tapi ketenangan diri sendiri. Pikirnya.
Cukup lama ia berdiri diatas bambu, bahkan matahari sudah tenggelam menandakan siang akan berganti malam. Dari jauh sesepuh cantik datang menemuinya. Nampak senyum tipis terukir di sudut bibir sang guru melihat Zhou Shiyue berhasil melewati pelatihan.
“Latihan hari ini sudah cukup, sekarang turunlah!” panggil sesepuh cantik dari bawah.
Zhou Shiyue pun melompat dengan santai dihadapan sang guru. Tanpa basa-basi mereka berdua berjalan menuju kediaman sesepuh cantik.
Usai membersihkan diri, keduanya tengah duduk di depan kediaman sambil menatap bulan dan bintang yang bersinar terang.
“Besok aku akan mengajarimu beberapa teknik seni beladiri” ucap sesepuh cantik memulai obrolan.
“Hmm,aku menantikannya sesepuh.” Jawab Zhou Shiyue
“Oh ya, kalau boleh tau sebenarnya siapa nama guru?” tanya Zhou Shiyue, ia sudah cukup lama ingin menanyakan hal itu namun ia tak memiliki waktu banyak saat bersama gurunya.
“Namaku Xifeng, margaku Ling.” Sahut Ling Xifeng.
(Sekarang sesepuh cantik sudah punya nama, jadi kita cukup menyebutkan namanya saja ya tanpa embel-embel sesepuh cantik.)
“Berarti nama guru Ling Xifeng?” tanya Zhou Shiyue
“Ya bisa dibilang begitu, hanya saja aku membenci marga Ling jadi aku lebih suka di panggil Xifeng.” Jelas Ling Xifeng.
“Oh begitu ya? Ternyata kita benar-benar mirip hehe” kekeh Zhou Shiyue, mengingat ia juga membenci margaanya sendiri.
“Aku pikir memang begitu, tapi marga Zhou mu itu terdengar cukup baik” ucap Ling Xifeng.
“Dulunya ya, tapi sekarang itu terdengar sangat buruk bagiku. Makanya aku lebih suka di panggil Shiyue saja tanpa marga.” Jelas Zhou Shiyue.
“Ya, tidak masalah. Shiyue juga cukup bagus. Oh ya! Aku lupa memberitahumu kalau di sebelah kamarmu itu ada ruang baca yang berisi banyak buku ilmu pengetahuan dan lain-lain. Siapa tau kau mau membaca” Ucap Ling Xifeng.
“Baik guru!” siapa sangka Zhou Shiyue langsung berdiri dan menuju ruangan yang baru disebutkan.
“Bocah itu, antusiasnya sangat tinggi” ucap Ling Xifeng hanya bisa menggelengkan kepala.
Sesampainya diruang baca, Zhou Shiyue menatap isi ruangan itu dengan mata berbinar.
“Akhirnya aku bisa membaca banyak buku setelah sekian lama… Huhuhuu…” Zhou Shiyue sangat senang ia, berputar-putar ditengah ruangan itu seperti anak kecil, sampai kesialan menimpanya.
“Auwwhhh,, Awww…” jeritnya saat kakinya tak sengaja menendang meja diruangan itu.
“Apa yang bocah itu lakukan sampai berteriak begitu keras?” tanya Ling Xifeng yang masih duduk diluar.
“Ahhh,, meja sialan!” umpat Zhou Shiyue menatap tajam meja tersebut.
Jangan lupa baca episode selanjutnya kawan-kawan !!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Sang M
gak paham maksudmu, Thor...
2025-03-29
0
Harman LokeST
seeeeeeeeeeeeeeemmmaaaaaaaaaannngggaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaTtttttttttttttttttt teeeeeeeeerrrrrrrrrrruuuuuuuusssssssss Zhou Sheyue untuk meningkatkan kultivasimu yaaaaaaaaAaaaaaaaaaaaaaaaaaaaannnggg lebbbiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiihh tinnnngggggggggggggggggggiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii laaaaaggiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii
2023-09-16
0
Harman LokeST
seeeeeeeeeeeeeeemmmaaaaaaaaaannngggaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaTtttttttttttttttttt teeeeeeeeerrrrrrrrrrruuuuuuuusssssssss Zhou Sheyue untuk meningkatkan kultivasimu yaaaaaaaaAaaaaaaaaaaaaaaaaaaaannnggg lebbbiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiihh tinnnngggggggggggggggggggiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii laaaaaggiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii
2023-09-16
1