Suasana kembali hening saat Jing Zishu pergi meninggalkan ruangan Zhou Shiyue. Sedangkan Zhou Shiyue sendiri hanya kembali memulihkan energi sampai energinya benar-benar kembali 100%.
Merasa sudah bugar Zhou Shiyue pun keluar dari ruangan dan mencari keberadaan Mye Jing Xiao dan lainnya untuk berpamitan sekaligus mengucapkan terima kasih.
Ia tidak menyangka bahwa ternyata ia sekarang berada di dalam sakte, walau sebelumnya Mye Jing Xiao dan rekannya mengatakan bahwa mereka adalah tetua sakte gunung bunga persik.
“Disini sangat ramai, banyak murid yang sedang berlatih sepertinya keberadaanku hanya mengganggu waktu mereka saja.” Pikirnya, ia melihat banyak kelompok-kelompok terpisah yang berlatih teknik seni beladiri.
Matanya tanpa sengaja melihat seorang gadis yang sangat cantik bagaikan dewi sedang melayang diudara, melakukan gerakan seperti tarian namun dengan pedang ditangannya. Setiap gerakannya memiliki makna dan setiap tebasan dari pedang wanita itu terkandung kelembutan namun juga tampak mematikan.
“Teknik itu dinamakan jurus tarian dewi perang, memiliki 9 tahap yang sangat mematikan. Semakin bertambahnya tahapan yang dipelajari maka akan semakin sulit pula untuk dikuasai, tetapi hasil yang didapatkan tidak akan mengecewakan.” Ucap seseorang membuat Zhou Shiyue ingin melompoat dari tempatnya.
“Eh,, tuan Yi Heng! Maaf tuan jika saya tidak sopan.” Ucap Zhou Shiyue merasa telah lancang memperhatian jurus orang lain, karena itu sama saja tindakan seorang pencuri jurus.
“Tidak apa, jangan sungkan. Aku hanya memberitahumu jurus itu saja.” Kekeh Yi Heng, ia merasa lucu setelah melihat ekspresi Zhou Shiyue yang tertangkap basah.
“Ngomong-ngomong kenapa kau sudah keluar dan tidak beristirahat?” tanya Yi Heng
“Ohh itu, keadaan saya sudah baik dan energi saya telah kembali 100% jadi saya memutuskan untuk pergi siang ini. Bolehkan saya bertanya keberadaan tuan Mye Jing Xiao dan nyonya Mye Ai?” tanyanya.
“Mereka sedang pergi karena ada urusan, jika memang ada keperlua mendesak kau tidak pelu berpamitan pada mereka nanti aku akan mengatakannya pada mereka. Tapi jika tidak ada keperluan anda bisa menunggu sambil melihat-lihat sekitaran sini” ucap Yi Heng.
“Maaf tuan, bukannya saya tidak menghargai hanya saja sekarang saya memiliki urusan penting jadi saya harap tuan menyampaikan salam saya pada tuan Mye Jing Xiao dan nyonya Mye Ai.” Ucap Zhou Shiyue.
“Hmm, tidak masalah. Lain kali kau bisa berkunjung kemari, kami akan menerimamu dengan baik.” Ucap Yi Heng
“Baik tuan, kalau begitu terima kasih. Dan saya mohon pamit.” Ucap Zhou Shiyue, ia memberi hormat seperti para pendekar umumnya, lalu ia pun berjalan keluar sakte.
“Sepertinya anak itu tertarik dengan putriku” kekeh Yi Heng mengingat bagaimana Zhou Shiyue menatap Yi Fei, putrinya.
Setelah keluar dari sakte gunung bunga persik, Zhou Shiyue berjalan menelusuri hutan. Ia kembali ke desa Yulu setelah memakan waktu sekitar 3 hari perjalanan barulah ia sampai di desa Yulu.
Saat sampai di desa Yulu, Zhou Shiyue melihat kondisi desa tersebut. Ia melihat para warga yang sedang melakukan aktivitas masing-masing karena hari masih siang. Sampai ia baru sadar bahwa banyak warga yang sedang memindahkan barang-barang ke dalam kereta kuda mereka.
Beberapa kali ia melihat sekelompok orang dengan jumlah yang banyak membawa gerobak besar memasuki hutan jalan menuju Kota Yuhan. Karena penasaran ia ikut masuk ke dalam hutan tersebut sambil menggunakan ilmu meringankan tubuh.
Di jalan diadalam hutan ia memang merasa heran karena kelompok warga yang ada di perjalanan tersebut tidaklah sedikit. Jika di jumlahkan kiranya ada 15 kelompok yang terdiri dari 10 sampai 20 orang di masing-masing kelompok.
Saat mengikuti para warga tersebut tak jarang ia menemui kelompok-kelompok yang harus dihadapkan dengan adanya perampok. Zhou Shiyue juga turut serta membantu kelompok tersebut menghadapi para perampok.
Karena penasaran dengan banyaknya orang-orang yang menuju pusat kota yuhan, akhirnya Zhou Shiyue pun bertanya kepada salah satu orang.
“Maaf paman, sebenarnya orang-orang banyak ini mau kemana?” tanyanya pada seorang pria paruh baya.
“Kamu tidak tau? Kami semua menuju kota yuhan untuk merayakan festival bulan merah.” Jawan paman itu.
“Festival bulan merah?” tanyanya sambil mengernyit.
“Ya, semacam upacara tahunan untuk menghormati bulan merah yang akan muncul dua minggu lagi.” Ucap paman itu menjelaskan.
“Ohh begitu, terima kasih paman.” Ucap Zhou Shiyue sambil memberi hormat, lalu ia pun pergi meninggalkan paman itu.
‘memangkan kenapa bulan merah harus dihormarti? Dan aku juga baru pertama kali mendengar adanya kemunculan bulan merah.’ Pikir Zhou Shiyue, ia merasa penasaran dan memutuskan untuk menghadiri festival tersebut.
Ia pun terbang menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk hinggap di salah satu pohon tinggi. Ia mengamati jalan di hutan itu yang dipenuhi banyaknya orang.
“Sepertinya festival itu akan sangat ramai.” Gumamnya.
Bagi para penduduk biasa mungkin untuk sampai di kota membutuhkan waktu kurang lebih 2 minggu untuk sampai disana. Tetapi bagi para pendekar mereka cukup membutuhkan waktu beberapa hari saja.
Zhou Shiyue melangkah dari pohon ke pohon, waktu yang ia tempuh hanya beberapa jam saja ia pun menginjakan kakinya di desa Yixin.
“Seingatku ini desa yang disebutkan saudara Jizshu waktu itu.” Gumamnya. Ia mengingat cerita waktu Jing Zishu menguping pembicaraan Ryu Shi dan kawan-kawannya yang berada di perbatasan desa Yixin dan desa Yulu.
Zhou Shiyue memutuskan untuk berjalan kaki di desa itu sekaligus melihat-lihat siapa tau ada yang menarik perhatiannya. Desa Yixin ini juga termasuk besar 11 12 dengan desa Yulu. Memiliki pinggiran yang ramai penduduk dengan berbagai macam jenis dagangan.
Ia singgah di salah satu penjual pedang. Ia tak berniat membeli ia hanya melihat-lihat siapa tau ada yang menarik hatinya.
‘bahan-bahannya dari kualitas menengah, benda seperti ini hanya cocok untuk pendekar bumi dan langit.’ Batinnya menilai pedang-pedang itu.
“Selamat datang tuan, bagaiaman kiranya bahan yang anda inginkan tuan? saya memiliki berbagai macam jenis pedang.” Ucap penjual tersebut dengan ramah.
“Maaf paman saya hanya ingin melihat.” Jawab Zhou Shiyue ramah membuat pandangan penjual tersebut berubah.
“Kalau tidak beli tidak usah mampir.” Ucap penjual tersebut dengan sinis, Zhou Shiyue hanya mengernyit heran lalu pergi karena tidak ingin membuat masalah.
‘manusia bermuka dua memang menjengkelkan’ batinnya.
Saat tengah berjalan santai seorang wanita tak sengaja menabrak dirinya hinggat membuatnya hampir terjatuh.
“Kalau jalan lihat pakai mata!” ucap orang tersebut dengan kasar.
‘gadis ini, sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi dimana?’ batin Zhou Shiyue memperhatikan gadis yang mengomel tersebut.
“Kau yang menabrakku bukan aku.” Protes Zhou Shiyue.
“Sudah salah tak mengaku, cuih..” perempuan itu meludah ke tanah dengan ekspresi marah.
“Terserah kau saja, pergi sana!” usir Zhou Shiyue mendorong wanita itu untuk menjauh darinya.
“Siapa juga yang mau dekat-dekat dengan pria aneh, ishhh” perempuan itu pun pergi meninggalkan Zhou Shiyue dengan tatapan jijik.
Zhou Shiyue hanya memutar bola matanya jengah, namun kejadian singkat itu menarik perhatian warga disekitarnya. Beberapa orang sedang berbisik namun ada juga yang memujinya dengan terang-terangan.
“Pemuda itu tampan sekali”
“Aaahh, sepertinya ada dewa disini! Wajahnya sangat sempurna ”
“Andai dia mau menikahi putriku, keturunan kami pasti akan berubah dengan drastis”
Begitulah kiranya ucapan orang-orang disekitar. Zhou Shiyue merasa risih ia pun pergi meninggalkan lokasi tersebut. Merasa sudah cukup jauh dari para warga yang menggosipinya akhirnya ia pun menghembuskan nafas lega.
“Perasaan wajahku biasa saja” gumamnya.
Ia melihat bangunan mewah yang bertuliskan ‘restoran syurga’. Zhou Shiyue merasa lapar jadi Ia memasuki restoran tersebut.
Jangan lupa baca episode selanjutnya kawan-kawan !!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Diah Susanti
masih 22 tahun kok disebut nyonya 🤨🤨🤨🤨
2023-11-03
1
ⁱ'ᵐ ᵗʰᵉ ⁿⁱᵍʰᵗ ᵈᵉᵛⁱˡ
memangnya
2022-04-07
0
Mikha Benny
blood moon fest
2022-01-19
1