Saat ia di halaman belakang, Zhou Shiyue kembali mempelajari teknik kedua dari teknik petir abadi. Pada dasarnya dalam teknik petir abadi memiliki tingkatan jika yang terlemah dimulai dari no 1(pertama) maka semakin tinggi angka tersebut maka semakin kuat pula hasilnya.
Dalam teknik kedua tertulis bahwa ia tetap melakukan hal yang sama saat menciptakan energi petir pertama hanya saja teknik kedua ini dibarengi dengan aura jiwa di dalam energi Qi yang dikumpulkan.
Zhou Shiyue tentu langsung mempraktikannya, tak lama kemudian cahaya kebiruan tampak di kepalan tangannya, ada cahaya keemasan yang samar-samar tercampur di dalamnya.
Dengan satu tarikan nafas Zhou Shiyue menembakan energi petir kearah salah satu pohon yang ada di sudut halaman.
BOMMM!!!
Suara ledakan itu terdengar sangat nyaring, di barengi api yang menyala di pohon besar yang tumbang itu. Jelas Zhou Shiyue merasa senang, ia merasa latihannya kali ini berhasil dalam satu percobaan.
Karena ia masih menginginkan hasil yang luar biasa, ia pun kembali membuat energi-energi petir lainnya. Kali ini ia menggunakan kedua belah tangannya. Hasil yang ia dapatnya cukup memuaskan. Hingga terdengar suara seorang perempuan dari belakangnya.
“Shiyue!! Cepat kemari!” panggil Ling Xifeng ada muridnya.
“Baik guru!” sahut Zhou Shiyue, ia menyimpan teknik itu kedalam jubahnya lalu ia pun mendekati Ling Xifeng sambil tersenyum.
“Hahah aku tak mengira bahwa kekuatanmu meningkat dengan sangat pesat, bahkan bagi orang dewasa untuk mencapat kekuatanmu dari awal sampai saat ini mungkin membutuhkan waktu kurang lebih satu tahun.” Puji Ling Xifeng dengan terus terang, ia menepuk pundak muridnya itu dengan bangga.
“Terima kasih sesepuh, ini semua berkat sesepuh Xifeng.” Jawab Zhou Shiyue sambil menunjukkan rasa hormatnya pada Ling Xifeng.
“Ya, tak perlu sungkan karena kau adalah muridku. Sekarang ayo kita makan siang, aku tau kau memasak banyak makanan lezat.” Ucap Ling Xifeng sambil mengedipkan matanya menggoda muridnya.
“Hehee, ayo guru. Aku juga sudah lapar.” Sahut Zhou Shiyue cengengesan, ia berjalan mengiringi Ling Xifeng.
Mereka pun makan siang bersama. Nampak kebahagiaan di mata mereka berdua, apalagi semua cerita yang diceritakan Zhou Shiyue saat di hutan membuat Ling Xifeng berkali-kali meneteskan air matanya karena tertawa yang berlebihan.
‘rasanya sudah lama aku tak merasakan perasaan ini, dulu sebelum teman seperjuanganku mati aku sangat bahagia sekarang setelah sekian lama akhirnya aku mendapatkan seorang murid berbakti yang melengkapi kesunyianku’ batin Ling Xifeng sambil menatap Zhou Shiyue yang sedang melahap makanannya.
“Sesepu tak perlu menatapku seperti itu, aku tau bahwa diriku sangat tampan.” Ucap Zhou Shiyue dengan narsisnya karena sadar akan tatapan sang guru.
Ling Xifeng hanya berdecih dan menggelengkan kepalanya merasa muridnya ini sangat percaya diri.
Usai makan mereka pun bersantai di gazebo yang ada di taman depan kediaman Ling Xifeng. Zhou Shiyue juga memberikan inti Kristal merah milik ular roh kepada gurunya.
“Kristal ini sangat berharga, apa kau tidak ingin menyerapnya? Dengan Kristal ini mungkin kau bisa menerobos ke tingkat kaisar.” Ucap Ling Xifeng pada muridnya.
“Tidak, kristal ini aku berikan sebagai hadiah perjalananku. Aku tidak akan mengambilnya, aku juga bisa mendapatkannya lain kali.” Ucap Zhou Shiyue menolak dengan jelas, ia tak ingin memanfaatkan apapun yang sudah ia berikan.
“Kalau begitu baiklah, aku akan menyimpannya.” Jawab Ling Xifeng sambil menaruhnya ke dalam kantong koin yang biasa ia bawa.
“Ya, itu hak guru mau menggunakannya untuk apa.” Sahut Zhou Shiyue.
“Oh ya, tunggu sebentar.” Ucap Ling Xifeng, wanita cantik itu berjalan memasuki kediaman.
Tak lama kemudia Ling Xifeng kembali sambil membawa batu jiwa ditangannya.
“Batu ini dinamakan batu jiwa, dan akan aku berikan kepadamu. Jika suatu saat kau berada dalam keadaan genting kau bisa menghancurkannya dan aku akan langsung muncul membantumu.” Ling Xifeng menyerahkan batu jiwa itu kepada Zhou Shiyue.
“Baik guru, aku hanya berharap jika aku tidak pernah berada di keadaan genting.” Ucap Zhou Shiyue, ia membayangkan keadaan genting berarti itu menyangkut nyawanya yang berada di amabang kematian, jadi ia tak ingin berada di saat seperti itu.
“Ya, semoga saja.” Jawab Ling Xifeng, ia menatap aneh pada muridnya yang terlihat seperti orang linglung.
“Aku lupa memberitahumu, besok aku akan turun gunung dan belum tau kapan akan kembali jadi aku hanya berpesan padamu agar menjaga kediamanku dengan baik.” Ucap Ling Xifeng yang tentunya membuat Zhou Shiyue cukup kaget.
“Padahal aku ingin bertanya tentang teknik pengendalian jiwa.” Ucap Zhou Shiyue dengan wajah kusut.
“Kau tidak boleh belajar teknik itu, itu adalah jurus keramat!” ucap Ling Xifeng dengan wajah serius, ada kilatan kebencian dimatanya.
Zhou Shiyue tak berani membantah, jadi ia hanya mengiyakannya saja apalagi setelah melihat perubahan di wajah Ling Xifeng, itu membuat bulu kuduknya berdiri.
‘kalau tak boleh dipelajari, kenapa ia menyimpannya?’ batin Zhou Shiyue ingin protes.
“Lebih baik kau belajar teknik petir, api, angin, air, dan teknik lainnya kecuali teknik pengendalian jiwa itu.” Ucap Ling Xifeng kembali ke ekspresi semula.
“Baik guru, murid mengerti.” Sahut Zhou Shiyue dengan cepat.
“Guru saya ingin pergi membaca dulu” pamit Zhou Shiyue memberi hormat lalu pergi ke ruang baca.
Ia menutup pintu itu dengan rapat, setelahnya ia mengambil teknik pengendalian jiwa dari dalam jubahnya lalu menaruhnya di tempat sebelumnya ia ambil.
“Untung aku tidak menunjukkan buku itu, jika tidak guru akan murka.” Ucapnya sambil menghela nafas lega. Ia tak bisa membayangkan bagaimana jika sang guru murka padanya.
Setelah merasa tenang ia pun memilih buku apa saja yang ingin ia pelajari. Hingga ia selesai mengumpulkan setumpuk buku yang ingin ia baca.
Buku yang berisi teknik api,air,angin,tanah, teknik pedang, memanah, dan meringankan tubuh. Bukan main, ia sangat ingin belajar teknik meringankan tubuh karena ia mengingat bagaimana sang guru terbang dengan bebas diudara itu membuatnya sangat iri.
Ia berjalan menuju kamarnya dengan setumpuk buku ditangannya. Sesampai di kamar ia merasa ada yang aneh, kenapa ada banyak anggrek yang bergantungan di kamarnya? Bahkan ada lemari pakaian di pojok ruangan, siapa yang mengaturnya? Apa dia salah masuk kamar? Tapi tidak mungkin, ia mengingat dengan jelas posisi kamarnya. Lalu ia menaruh buku-bukunya di atas meja.
Dengan rasa penasaran ia membuka lemari itu, ia melihat banyak pakaian pria seukurannya di dalam sana. Bahkan ada satu yang menarik perhatiannya, jubah hitam bercampur merah.
Pasti guru yang menyiapkannya, memang siapa lagi kalau bukan dia sedangkan di tempat ini hanya ada kami berdua. Ucap Zhou Shiyue tak berpikir panjang.
Setelah melihat lemari barulah ia kembali duduk di atas ranjang, dan mengambil buku yang berisi teknik meringankan tubuh.
Jangan lupa baca episode selanjutnya kawan-kawan !!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Harman LokeST
laaaaaaaaaaaaaajjjjjjjjuuuuuuuuuuuutttttt
2023-09-17
0
Gatot Suharyono
terlalu pendek chapter nya !
2022-04-24
0
vanessa
👍👍👍👍
2022-03-17
0