Tinggal Bersama

Keesokan harinya Aluna datang kembali ke tempat baru yang akan ditinggalinya yaitu rumah Dean. Karena masalah keamanan taksi yang ditumpanginya hanya bisa mengantar sampai pintu gerbang hingga terpaksa ia harus berjalan dengan ringkih membawa satu koper besar dan tas punggungnya yang berat.

"Kenapa jalan menuju rumahnya harus menanjak dan jauh sekali. Rasanya seperti aku sedang mendaki gunung. Haah.."

Saking lelahnya Aluna hanya bisa menggerutu sepanjang jalan. Sedikit lagi ia akan sampai tiba-tiba seseorang dari belakang merampas koper yang dipeganginya.

" Tuan.."

" Biar aku bantu."

Belum sempat Aluna menjawab, Dean sudah lebih dulu mengambil tas punggung beserta koper miliknya. Aluna begitu tertegun melihat Dean membawa barang-barang itu seperti membawa sekantong kapas yang ringan.

Menyadari Aluna hanya terdiam, Dean berhenti dan berbalik.

" Kau mau berdiri disana sampai kapan?."

" Ah, maaf.."

Aluna sedikit berlari untuk mengejar langkah Dean yang panjang dan cepat.

" Ini kamarmu."

" Tuan, apa anda tidak salah? kamar ini terlihat seperti kamar utama rumah ini."

Dean mulai terlihat kikuk dan menggaruk lehernya yang tidak gatal.

" Memangnya kenapa? aku tidak keberatan kau memakainya."

" Lalu kamar anda yang mana?

" Yang itu."

Dean menunjuk sebuah pintu yang bersebrangan dengan kamar Aluna. Aluna tidak mengatakan apapun lagi namun tatapan matanya begitu jelas memperlihatkan kebingungannya.

" Aku tidak suka kamar yang terlalu luas jadi kau saja yang memakai kamar ini." lanjut Dean.

" Apa boleh seperti itu saya jadi merasa tidak enak."

" Lalu kau ingin satu kamar denganku disana?."

" Hah? ti-tidak tuan saya akan masuk sekarang."

Dengan terburu-buru Aluna memasuki kamar utama itu, ia sedikit menggerutu karena sikap Dean yang menyebalkan. Sejujurnya Aluna merasa tidak nyaman dengan hal itu namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Hari itu Aluna masih dibebaskan untuk tidak bekerja namun ia tetap tidak sabar untuk melihat-lihat rumah kaca milik Dean yang diberi nama House of Paradise.

sumber : google.com

" Sepertinya aku tidak akan menyesali keputusanku untuk bekerja untuknya."

Begitu takjubnya Aluna hingga mulutnya tidak berhenti terbuka. Dengan penuh kekaguman ia terus berjalan mengelilingi rumah kaca atau green house yang terbilang luas itu.

Sedari tadi ada yang terus memperhatikan gerak geriknya, Dean dengan senyum sumringahnya begitu terhibur dengan tingkah Aluna yang berubah ceria.

" Ekkhm.."

Seseorang memberi isyarat akan kedatangannya dan sedetik kemudian wajah Dean kembali menjadi serius.

" Kau kembali menjadi orang bodoh saat ada Luna mu."

" Joe, berhenti mengataiku bodoh atau aku akan membuat perhitungan denganmu."

" Hei..tenang kawan. Orang yang akan membantu pekerjaan Luna sudah datang kau mau bertemu dengannya sekarang?."

" Baiklah."

Tanpa basa-basi lagi Dean dan Joe meninggalkan tempat mereka untuk menemui calon pekerja lainnya.

Tanpa terasa hampir 1 jam Aluna berada di green house. Ia yang masih asyik mengamati satu per satu tanaman disana dikejutkan oleh seseorang yang dikenalnya.

" Miranda?."

" Hai Aluna."

" Kenapa kau bisa ada disini?."

" Hhmm itu.. bagaimana kalau kita duduk disana dan membicarakan hal ini."

Miranda menunjuk sebuah tempat yang terdapat beberapa kursi dan sebuah meja untuk bersantai.

" Sebenarnya aku sudah mengajukan resign jauh sebelum kau akan ditempatkan disini. Kau tahu kan Mike, aku sudah tidak tahan dengannya orang itu sepertinya seorang misoginis karena dia sangat membenci semua wanita di tim nya."

" Ah Mike ya, iya aku tahu. Tapi alasan kau ada disini?."

" Tentu saja karena tuan Ivailo menawarkan pekerjaan ini. Tanpa berpikir pun aku akan dengan senang hati menerimanya."

" Aku tidak menyangka kau akan seantusias ini Miranda. Akupun awalnya bingung dengan semua ini tapi sepertinya bekerja disini tidak akan seburuk itu apalagi ada kau yang sudah kukenal baik." Raut wajah Aluna begitu bahagia saat tahu Miranda akan kembali menjadi rean kerjanya.

" Tapi Aluna, sesuai kontrak dengan tuan Ivailo aku hanya akan membantumu saat kau membutuhkanku. Dan karena aku sudah menikah aku tidak bisa tinggal disini bersamamu."

Aluna tampak berpikir setelah mendengar perkataan Miranda. Sebagai seorang ahli holtikultura senior sangat disayangkan Miranda melepas pekerjaannya begitu saja dan memilih bekerja ditempat kecil apalagi hanya sebagai orang yang membantu Aluna. Namun apapun alasannya Aluna tidak berani bertanya karena menurutnya sangat tidak sopan. Mereka menghabiskan waktu hari itu dengan berbincang perihal pekerjaan dan Miranda banyak memberi arahan terkait pekerjaan baru Aluna. Setelah dirasa jelas Miranda pun berpamitan untuk pulang meninggalkan Aluna yang kini tinggal bersama dengan Sang Alpha.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!