Ingin Bertemu

Tok.. tok..

Aku mengetuk pintu ruangan atasanku dengan sedikit kesal. Setelah dipersilahkan masuk aku berdiri dihadapannya dengan wajah tegang.

" Saya sudah melihat perintah penempatan pekerja magang, tapi kenapa hanya saya yang ditempatkan di rumah tuan Dean Ivailo, pak kepala?."

" Memangnya ada masalah dengan itu?."

" Tidak, maksud saya.. saya bekerja untuk Taman Nasional ini tapi kenapa saya ditempatkan di rumah pribadi orang lain diluar departemen."

" Tuan Dean Ivailo bukan orang lain, dia adalah investor kita dan dia ingin salah satu dari kita dipercaya untuk merawat rumah kaca miliknya. Kau tidak perlu khawatir, pekerjaanmu sama dengan disini. Kau hanya perlu memastikan bahwa semua tanaman miliknya terawat dengan baik. Ku dengar koleksi bunga langkanya sangat banyak dan butuh diuji jadi dia perlu seseorang dari kita."

" Tapi pak.."

" Kau masih menjadi bagian departemen ini maka dari itu aku akan meminta kau menulis laporan penelitianmu dan apa saja yang kau lakukan selama disana. Jika kau tidak bersedia silahkan kau mengundurkan diri dan bayar pinalti untuk itu."

Aku terkejut mendengar keputusannya. Apakah ini hukuman karena kekacauan yang kuperbuat saat menjelajah kemarin, jika benar maka Mike--orang itu benar-benar seorang pendendam. Sungguh membuatku frustasi. Aku sangat menyukai pekerjaan ini tentu aku tidak akan melepaskannya begitu saja, tapi memang sudah resiko pekerja magang aku harus mengikuti semua perintah atasanku tanpa kecuali meskipun aku tidak ingin. Aku harus sedikit bersabar karena mungkin ini kesempatanku untuk bisa menjadi pekerja tetap.

Dengan langkah gontai aku kembali ke meja kerjaku. Aku membereskan beberapa dokumen juga barang-barang milikku ke dalam kardus. Aku terlihat seperti baru saja dipecat tapi memang mulai besok meja ini bukan lagi tempatku, ku harap ini hanya sementara.

Setelah berpamitan dengan rekan-rekan kerjaku, aku kembali ke kediamanku karena atasanku memberiku cuti setengah hari.

Rumah sewaan yang sudah kutinggali selama beberapa tahun ini masih memberiku kenyamanan. Sejak masuk kuliah aku tinggal disini dan sekarang aku sudah bekerjapun aku tidak ingin pindah dari sini meski jarak ke tempat kerja cukup jauh.

Aku memandangi secarik kertas yang diberikan kepala direktur. Disana tertera sebuah alamat.

Dia kuno sekali, memangnya dia tidak bisa mengirim pesan lewat handphone.

Aku mengambil laptop milikku dan mulai mencari alamat itu. Jaraknya hampir satu jam dari rumahku. Apa aku harus mencari tempat tinggal baru yang lebih dekat.

Aku masih berpikir keras bagaimana nanti aku akan bekerja disana namun suara bel rumahku membuyarkan isi kepalaku.

Dengan malas aku bangkit dari dudukku, dan saat melihat orang yang bertamu aku mengerutkan kening karena pria yang berdiri didepan rumahku sekarang sangatlah asing.

" Maaf mengganggu apa benar ini rumah nona Aluna Lancaster?."

" Iya benar, anda siapa?."

" Saya diperintahkan oleh tuan Dean Ivailo untuk menjemput anda, beliau ingin bertemu."

" Hah?"

Aku tercengang mendengar hal itu, dan sedikit meragukan perkataan pria ini. Aku menelisik penampilannya yang rapi dengan jas dan yang begitu mencuri perhatianku adalah mobil yang dibawanya. Mercedes-Benz berharga jutaan dollar.

Sekarang mungkin aku bisa percaya tapi tetap saja aku harus waspada. Aku mencoba memastikan hal itu dengan menghubungi atasanku dan memang benar yang dikatakan pria itu bahwa tuan Ivailo yang mengutusnya.

Kenapa dia ingin bertemu denganku sekarang, toh besok juga aku akan bekerja disana.

Kepalaku dipenuh pertanyaan yang tidak bisa kujawab, namun aku tidak ada waktu untuk memikirkannya. Dengan kecepatan ekstra aku segera mengganti pakaianku. Aku memilih t-shirt dan celana hitam yang kupadukan dengan long coat berwarna krem serta boot heels andalanku.

Setelah memakai riasan tipis, aku sudah selesai dalam 5 menit dan siap berangkat menuju kediaman tuan Ivailo.

Seperti yang sudah ku tahu sebelumnya jarak dari rumahku hampir satu jam perjalanan. Dan hal yang kembali membuatku tercengang adalah jalan menuju rumahnya. Tempat itu adalah area hutan seluas ribuan hektar mungkin, dan sejauh yang kulihat rumahnya adalah satu-satunya yang berada disana.

Satu hal lagi yang menarik perhatianku saat tiba disana, rumah kaca miliknya yang akan menjadi tempatku bekerja aku tidak menyangka tempat itu hampir sebesar rumahnya. Dari kejauhan pun aku bisa melihat begitu banyaknya tanaman disana terutama bunga yang berwarna-warni.

Untuk sesaat aku begitu terpana namun aku harus mengingat tujuanku kemari adalah untuk menemui pemiliknya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!