Beberapa Minggu Kemudian.
Jam masih menunjukan pukul 8, namun Aluna sudah bersiap dengan pakaian kerjanya. Ia turun dari kamarnya di lantai dua menuju dapur untuk sarapan. Ia membuka kulkas besar disana lalu mengedarkan matanya mencari apa yang bisa ia makan untuk sekedar mengganjal perutnya. Ia pun memutuskan untuk mengambil kotak susu. Setelah menuangkannya kedalam gelas, dengan lahap ia meneguknya hingga habis separuhnya.
" Apa sarapanmu hanya itu?."
Mendengar suara dibelakangnya Aluna terkejut hingga ia tersedak saat minum.
Uhuk.. uhuk..
Aluna memukul-mukul dadanya yang terasa sedikit sesak. Melihat hal itu Dean mendekat dan menahan tangan Aluna yang terus saja memukul dadanya dan dengan tangan satunya menepuk pelan punggung Aluna.
" Maaf aku tidak bermaksud mengagetkanmu."
Setelah merasa lebih baik Aluna baru sadar sejak tadi tangannya masih dipegangi oleh Dean, karena merasa malu dan salah tingkah ia melepaskannya dengan cepat.
" Saya baik-baik saja. Terimakasih. Anda mau sarapan apa biar saya buatkan."
" Hhhm..apapun yang kau inginkan."
Aluna awalnya hanya berbasa-basi karena selama mereka tinggal bersama tidak pernah sekalipun ia melihat Dean sarapan dipagi hari.
Dean berlalu begitu saja meninggalkan Aluna yang akan menyiapkan sarapan mereka.
Setelah mendudukan dirinya di meja makan ia terus saja memperhatikan punggung Aluna yang membelakanginya. Dalam diam Dean kembali mengingat pembicaraannya dengan Aluna kemarin.
Kemarin.
" Tuan, ada yang ingin saya bicarakan apa anda ada waktu sebentar?."
Untuk pertama kalinya Luna menginjakan kaki dikamarku. Ia yang sedikit malu-malu terlihat menggemaskan sangat berbeda dengan saat pertama kali bertemu denganku.
" Masuklah. Kita bicara disana."
Aku menuju sofa dikamarku dan iapun mengikutiku dibelakang. Saat aku duduk Luna hanya berdiri dengan sopan.
" Duduklah. Aku tidak nyaman melihat kau berdiri."
" Oh, baiklah."
" Memangnya kita mau interview kerja, kenapa kau duduk jauh sekali dariku?."
Luna menatapku tajam mungkin baginya aku hanya atasan yang cerewet. Akhirnya sifatnya yang dulu ia tunjukkan lagi padaku.
" Kau sepertinya ingin memakiku." lanjutku.
" A-Apa maksud anda, saya tidak mengatakan apa-apa."
Luna gelagapan sambil bergeser agar lebih dekat denganku. Aku hanya tertawa kecil karena sangat menyenangkan menggodanya.
" Jadi apa yang ingin kau bicarakan?."
" Mengenai kontrak kerja saya, disana tertulis bahwa saya akan bekerja pada anda selama 6 bulan tapi kenapa anda membayar gaji saya untuk 1 tahun."
" Ah, memangnya seperti itu ya? kalau begitu anggap saja sisa pembayaran adalah bonus dariku."
" Bagaimana mungkin anda memberikan bonus padahal saya belum memperlihatkan hasil kerja yang bagus. Apa anda tidak takut saya akan membawa kabur uang anda."
" Kalaupun kau kabur aku akan tetap menemukanmu karena aku akan mengerahkan semua anak buahku untuk mencarimu."
" Hahaha... baiklah saya percaya. Mungkin itu yang disebut kekuatan orang kaya. Jujur saja awalnya saya sangat tergiur dengan uang itu sampai-sampai saya langsung menyetujui tawaran anda. Tapi setelah saya pikirkan kembali rasanya itu tidak adil untuk anda.."
Aluna menjeda ucapannya untuk memastikan ekspresi wajahku namun sedetik kemudian aku terkejut melihatnya mengeluarkan sebuah amplop besar berwarna coklat.
" I-Ini apa?."
" Ini uang yang anda berikan pada saya tempo hari. Saya hanya mengambil sejumlah gaji saya satu bulan ini. Silahkan anda hitung sendiri jika tidak percaya."
Sungguh aku tidak percaya dan hampir tidak bisa berkata-kata, gadis ini sangat diluar dugaan.
" Tapi kenapa kau mengembalikan ini padaku uang ini kan sudah menjadi milikmu."
" Saya merasa terbebani dengan uang ini lagipula pekerjaan yang anda berikan sudah lebih dari cukup untuk saya. Jadi mulai saat ini tolong berikan gaji saya setiap bulan dan sesuai nominal yang ada dalam surat perjanjian saja, tuan."
Aku menghela nafas panjang, matanya yang indah masih menatapku untuk menuntut jawaban.
" Baiklah jika ini yang kau inginkan, tapi ada syarat tambahan yang harus kau penuhi."
" Hah? kenapa harus ada syarat lagi, padahal hal ini bukan sesuatu yang merugikan anda."
" Ada. Kau bisa saja melarikan diri atau beralasan tidak bisa bekerja lagi dalam kurun 6 bulan itu, kan. Jadi bagaimana kau bisa menjaminnya."
" Ck, saya bukan orang seperti itu jadi anda tidak perlu khawatir."
" Bagaimana aku bisa mempercayaimu?."
" Haah..baiklah begini saja, saya akan membayar anda 2x lipat kalau saya tidak menyelesaikan pekerjaan ini sampai batas waktu tersebut."
" 5x lipat." ucapku.
" 3x lipat "
" 10x lipat."
" Kenapa angkanya semakin tinggi?."
" 10x lipat jika kau mau pembicaraan ini selesai."
" Iya, oke oke.. kalau begitu saya permisi dulu."
Aluna yang sudah kesal bangun dari duduknya dan siap meninggalkanku.
" Satu lagi.."
" Apa lagi?."
" Bisakah kau tidak memanggilku tuan, panggil namaku saja Dean.."
Selama beberapa detik Luna tidak sedikitpun bergeming entah apa yang sedang dipikirkannya setelah aku memintanya untuk sedikit lebih akrab denganku.
" Itu..sangat sulit untuk saya kecuali anda menurunkannya menjadi 2x lipat."
" Apa? kau masih memikirkan itu, jadi benar kau memang berniat melarikan diri ya."
Luna tersenyum untuk mengejekku lalu dengan setengah berlari ia keluar dari kamarku. Sifatnya sangat unik aku semakin menyukainya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments