Kembali

Author POV.

Seorang pria berjas mewah baru saja turun dari pesawat jet pribadi miliknya. Tampak pria gagah itu adalah seorang milyarder diikuti oleh beberapa orang dibelakangnya dia berjalan penuh keangkuhan.

Sekelompok orang berdiri menyambut kedatangannya penuh rasa hormat. Mereka berjabat tangan dan mulai berbasa basi.

" Selamat datang Tuan Ivailo. Semoga anda memiliki waktu yang menyenangkan selama disini."

" Ya, terima kasih."

Hanya kata itu yang keluar dari mulut pria yang bernama Ivailo itu.

Rombongan orang itu lalu menuju tempat yang ditunjuk oleh sang tuan rumah.

Dean Ivailo. Nama lengkap pria tampan nan gagah itu. Dengan wajah masam ia mendudukkan tubuhnya pada sebuah sofa.

" Hah.. staminaku sepertinya semakin berkurang karena urusan bisnis ini. Ini lebih melelahkan dibanding saat kita berburu ataupun bertarung."

" Jangan lupa obatmu. Itu akan membantu kesehatan kita."

" Sepertinya kita memang sudah menjadi manusia seutuhnya. Haha.."

Dean tertawa getir, ia bangkit lalu menuju dinding yang keseluruhannya adalah kaca. Dari sana dia bisa melihat pemandangan kota dibawahnya karena sekarang dia berada di lantai tertinggi sebuah hotel atau biasa disebut penthouse.

" Berapa lama kita sudah meninggalkan negara kita?."

" Hampir 3 tahun mungkin."

" Itu artinya aku hampir melewatkan tiga musim lagi." gumam Dean.

" Joe, setelah urusan disini selesai segera urus pemindahan kepemilikan. Serahkan semua bisnisku kepada orang-orang kepercayaan kita."

" Baik Alpha-ku."

" Sudah kubilang jangan sembarangan memanggilku seperti itu disini."

" Baik Tuan Ivailo."

Joe segera meralat ucapannya.

" Bagaimana keadaan Luna?"

" Dia baik-baik saja, anak buah kita melakukan tugasnya dengan baik menjaganya selama ini. Dia menyelesaikan kuliahnya lebih cepat dan sedang bekerja magang di Taman Nasional St. Nature."

Dean tersenyum bangga mendengar hal itu. Lama berada di dunia manusia lambat laun dia mulai mengerti tentang ambisi dan cita-cita.

Pandangannya terhadap manusia pun kini mulai berubah, dia mulai belajar bahwa tidak semua dari mereka buruk. Keserakahan lah yang menuntun manusia melakukan hal yang tidak baik.

" Aku sangat tidak sabar untuk bertemu dengannya." pungkasnya.

Rumah Emily.

" Ya ampun bu kau akan mengadakan pesta? aku hanya pulang satu hari dan kau memasak semua ini?."

Protes Aluna pada ibunya yang sedang menyajikan masakan buatannya sendiri.

" Ssstt..berhenti mengomel dan makan yang banyak. Kau pulang tidak setiap hari jadi aku harus memastikan kau makan yang cukup."

" Ini berlebihan untukku."

Jawab Aluna dengan mulut penuh makanan.

Emily duduk didepan Aluna, dia menopang wajahnya dengan tangan memandangi putri kesayangannya, mengagumi kecantikan Aluna yang semakin terlihat seiring ia tumbuh dewasa.

" Ibu tidak makan?."

" Hah? tidak..tidak.. ibu sedang diet. Kau tahu semakin tua ibumu ini semakin gemuk nanti tidak ada baju yang muat untukku."

" Meskipun gemuk kau masih cantik jangan khawatir pria sekarang lebih menyukai wanita yang berisi."

" Bicara apa kau, aku sudah tua mana mungkin memikirkan laki-laki. Lalu bagaimana denganmu? A-Apa kau sedang dekat dengan laki-laki?."

Emily bertanya dengan ragu-ragu.

" Tidak. Aku belum menemukan seseorang yang menarik perhatianku."

" Ah, syukurlah.."

Sadar dengan ucapannya Emily spontan menutup mulutnya.

" Apa?."

" Tidak apa-apa ibu hanya salah bicara."

Emily tertawa canggung, dia lalu kembali murung. Selama tiga tahun terakhir dia bisa bernafas lega karena ternyata sang Alpha pergi jauh karena urusan bisnis dan dia melepaskan Aluna untuk sementara. Namun sekarang tiba saatnya untuk dia benar-benar kembali dan akan segera mengambil Aluna.

Selama ini dia sudah memantapkan hatinya, mencoba untuk merelakan putrinya untuk sang Alpha. Emily semakin yakin jika Aluna akan baik-baik saja karena dia tahu selama tiga tahun ini ada orang-orang yang selalu menjaganya.

Tanpa terasa air mata Emily jatuh saat dia sedang menatap Aluna, menyadari hal itu Aluna menghentikan makannya.

" Ibu menangis?."

" Ah tidak, ibu hanya terharu melihatmu sudah tumbuh dewasa."

Emily segera mengusap air matanya dengan kardigan yang dipakainya. Aluna sedikit bingung namun ia tahu bagaimana kesepiannya Emily selama ini tanpa dirinya, hal itu membuat Aluna pun sedih dan emosional.

" Bu, setelah aku mendapat pekerjaan yang stabil maukah kau ikut bersamaku? Kita cari rumah sederhana untukku dan ibu lalu kau tidak perlu bekerja lagi aku yang akan menanggung semua kebutuhan kita."

" Begitukah? pastinya akan menyenangkan sekali jika kita bisa terus bersama. Tapi Aluna, putriku kau tidak bisa hidup hanya untuk ibu. Kau punya kehidupan sendiri yang harus kau jalani, suatu saat kau akan memiliki keluarga baru dan ibu akan benar-benar sendiri."

" Ibu bicara seakan-akan aku akan menikah besok. Aku akan selalu bersama ibu meskipun aku sudah menikah, Luna janji."

Aluna mencoba meyakinkan ibunya dengan menggenggam tangannya. Senyum bahagia terpancar dari keduanya.

Andai saja yang kau katakan bisa menjadi kenyataan betapa bahagianya ibumu ini, Luna.

Ucap Emily dalam hati.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!