Emily POV
Brag..brug.. suara riuh dari dalam kamar putriku bahkan terdengar sampai kemari. Sepertinya dia sangat bersemangat membereskan barang-barang miliknya. Dalam dua hari dia akan meninggalkan rumah ini, meninggalkanku untuk melanjutkan kuliah. Memang kota tempat tinggal nya nanti hanya berjarak tiga jam dari sini tapi mengingat aku yang akan tinggal sendiri membuatku sangat sedih.
Masih larut dalam pemikiranku sendiri, aku dikejutkan oleh ketukan pintu. Deg.. jantungku rasanya akan copot karena aku bisa tahu siapa yang mendatangi rumahku.
Dengan ragu aku menuju pintu dan membukanya perlahan. Benar itu memang dia.
Aku bisa tahu hanya dengan melihat tatapan matanya yang tajam dan dingin. Ku perhatikan penampilannya sangat berubah. Dia menjadi lebih rapi setelah menghilangkan rambut gondrong nya, bulu-bulu diwajahnya juga lebih tipis dibanding sebelumnya.
Dia berdiri dengan angkuh seolah aku harus tunduk padanya. Aku mempersilahkan dia untuk masuk dan berusaha bersikap baik karena dia bilang dia jodoh Luna.
Aku duduk bersebrangan dengannya, memasang wajah datar namun kakiku tidak bisa berhenti gemetar. Aku yakin dia pun memperhatikannya.
Selama beberapa saat tidak ada yang memulai pembicaraan karena aku pun tidak tahu darimana harus memulainya.
" Kau tidak akan bertanya ini itu seperti halnya ibu mertua pada calon menantunya, kan?".
Manusia serigala ini ternyata bisa membaca pikiranku. Aku terkejut hingga tak sadar menganga.
" Jadi kapan aku harus membawa putrimu?."
Dia melanjutkan.
" Jangan."
Tatapannya yang tajam semakin terlihat menyeramkan saat aku mengatakan itu.
" Maksudku tidak mungkin sekarang. Aluna tidak mengerti apa-apa dia bahkan tidak tahu asal usulnya. Akan sangat membingungkan baginya jika tiba-tiba ada seorang pria yang mengaku jodohnya dan membawanya pergi. Dia pasti akan berpikir sudah diculik oleh orang asing."
" Kau tidak perlu khawatir, aku yang akan membuatnya mengerti."
" Tapi tetap saja, dunia kita berbeda kau tidak bisa memaksakan memakai caramu sendiri."
Dia menghela nafas namun bagiku lebih terdengar seperti geraman serigala.
" Apa kau sedang mencoba membantah sang Alpha?."
" Apa?." Aku terkejut mendengar pengakuannya.
Dia sang Alpha dan sedang mengancamku. Aku hanya bisa menelan ludah tapi aku tidak akan menyerah demi putriku.
" Tuan, aku hanya berusaha menjelaskan jalan tengah diantara kita semua. Anda pemilik Luna yang sudah ditetapkan dan aku tidak bisa berbuat apa-apa, tapi demi kebaikan putriku Luna aku hanya ingin semuanya terlihat normal dan bisa dia terima dengan akal sehatnya."
" Maksudmu aku tidak normal, berani sekali.."
" Aku tidak bilang begitu, hanya saja Luna aku besarkan dengan segala aturan manusia jadi aku hanya ingin kau pun memperlakukannya selayaknya seorang manusia."
Selesai aku mengatakan itu, wajahnya kembali tegang. Aku tahu aku sudah membuatnya kesal namun aku terselamatkan saat Luna tiba-tiba saja menghampiri kami.
" Bu, kau sedang ada tamu? maaf aku mengganggu."
" Tidak apa-apa, nak. Ada apa?."
" Bisa ikut aku sebentar."
Aku mengangguk dan meninggalkan tamuku begitu saja. Wajahnya yang tadi kesal berubah saat Luna datang. Dia melihat Luna seperti melihat mangsanya, begitu penuh minat.
Setelah selesai membantu Luna aku berniat kembali ke ruang tamu namun ternyata dia sudah pergi. Aku bersyukur dan lega karenanya tapi itu tidak menjamin apapun yang akan terjadi nanti.
Tunggu ada sesuatu yang sedikit mengganjal hatiku, tapi apa itu ya. Ya Tuhan.. aku tidak tahu siapa namanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments