Jam makan malam sudah tiba Aluna yang sejak tadi didalam kamar akhirnya turun untuk mengisi perutnya yang sudah berbunyi karena ia melewatkan jam makan siangnya.
Saat menginjak 2 tangga terakhir ia berhenti dan alangkah terkejutnya ia melihat seseorang sudah menunggunya di meja. Dean menatap hangat dengan senyum indahnya membuat Aluna bahkan hanya berdiri terdiam ditempatnya.
Jantungnya berdetak tak karuan namun ada perasaan sedih dan kecewa akibat rasa rindunya pada Dean. Jika ia diijinkan ingin sekali ia berlari dalam pelukannya namun akal sehat Aluna masih berjalan hingga setelah beberapa saat ia pun berjalan pelan menghampiri Dean yang setia memandanginya.
" Kabarmu baik?." ucap Dean yang langsung berdiri saat Aluna mendekat.
" Iya."
" Aku sudah memasak untuk makan malam kita."
" Terimakasih."
Aluna lalu mendudukkan dirinya berhadapan dengan Dean. Sejenak ia menatap makanan yang sudah tersedia itu. Dia selalu memasak steak.
" Apa pekerjaanmu lancar?." Aluna memberanikan diri bertanya disela-sela waktu makan mereka.
" Sebenarnya..hhmm?."
Antara senang dan terkejut Dean menatap manik Aluna yang juga menatapnya.
" Kau bilang kita harus mengakrabkan diri."
Dean tersenyum lebar tanpa mengatakan apapun membuat wajah Aluna sedikit panas. Ia pun menundukkan wajahnya yang memerah karena malu. Menyadari Aluna yang salah tingkah Dean mencoba mencairkan suasana dengan menceritakan hal-hal yang lucu. Makan malam hari itu terasa sangat berkesan bagi Aluna karena ia seperti melihat sosok Dean yang berbeda dari biasanya dan kini tidak ada lagi kecanggungan diantara mereka.
.............
Bruug .. terdengar sesuatu yang membentur dinding dengan keras. Meskipun Aluna tidak tahu apa itu namun ia memberanikan diri untuk keluar dari kamarnya. Dengan langkah kecil ia mencari sumber suara dan ia yakin itu berasal dari kamar Dean dengan hati-hati ia menempelkan telinganya di daun pintu kamar itu. Hosh.. hosh.. hosh.. nafas berat milik Dean terdengar seperti seseorang yang menahan sakit. Spontan Aluna membuka pintu kamar Dean dan mendapati seseorang sedang terduduk dibawah kasurnya dengan keadaan kamar yang gelap gulita. Langit malam itu untungnya cerah dan sinar bulan pun sangat terang hingga Aluna yakin bahwa orang itu adalah Dean.
" Kau tidak apa-apa? tadi aku mendengar.."
" Keluar dari sini!." suara berat dan dingin itu memotong ucapan Aluna. Aluna sedikit tertegun dengan perubahan sikap Dean yang tidak wajar menurutnya.
" Aku akan keluar setelah membantumu, ayo bangun kau berkeringat banyak."
" Kubilang keluar sekarang juga!!" Dean dengan penuh emosi berdiri dan mencengkram bahu Aluna dengan keras. Aluna terkejut hingga ia mengerjapkan mata berkali-kali.
" Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Dean?."
Dengan lembut Aluna meraih tangan Dean yang berada dibahunya. Dean menyuruhnya keluar tetapi cengkraman tangannya begitu kuat seolah tidak ingin membiarkannya pergi. " Tubuhmu sangat panas."
Dengan kasar Dean melepaskan tangannya dari Aluna dan bergumam sendiri.
" Aku tahu ini akan terjadi betapa bodohnya aku memaksakan diri seperti ini."
Gumaman Dean yang terhalang nafas beratnya tidak bisa terdengar jelas oleh Aluna. Dengan gelagat aneh ia berusaha menjauh dari Aluna namun Aluna tidak menyerah ia mengambil langkah untuk mendekati Dean karena ia ingin tahu apa yang sedang terjadi padanya.
Dean bergegas ingin keluar dari kamar itu namun Aluna menghentikannya.
" Lepaskan tanganmu kau tidak tahu apa yang bisa kulakukan padamu."
" Beri tahu aku sebelum kau pergi kenapa kau seperti ini?."
Kesabaran Dean seperti dipermainkan oleh Aluna entah ia sadar atau tidak ia lalu menarik tangan Aluna dengan paksa mendorong tubuhnya hingga membentur dinding.
" Kau sungguh ingin tahu apa yang terjadi padaku? Aluna Lancaster dengarkan apa yang akan aku katakan!."
Dengan raut bingung, terkejut dan ketakutan Aluna menyadari tatapan mata Dean sangat berbeda dari biasanya bahkan warna matanya bukan yang biasa ia lihat.
" Aku adalah werewolf. Dan kau adalah Luna untukku Sang Alpha."
Sinar bulan yang tadinya terang dalam sekejap kembali tertutup awan. Ruangan itu seketika gelap gulita sehingga ia bisa melihat kedua mata Dean yang menyala. Dengan sekuat tenaga Aluna mendorong Dean namun tidak sejengkal pun tubuh keduanya menjauh. Otaknya seperti tidak bekerja saat ia mencoba mengingat segala sesuatu yang terjadi diantara mereka. Belum jawaban itu muncul Dean lalu meraih wajah Aluna dan menempelkan dahinya di dahi Aluna.
" Kalau aku mau aku bisa saja 'memakanmu' saat ini juga seperti yang kuinginkan sejak dulu tapi aku tidak ingin menyakitimu. Dan kau pun tidak bisa menyakitiku terus menerus dengan tidak mengetahui takdirmu sendiri bahwa kau adalah jodoh yang ditetapkan untukku."
" A-Aku.."
" Maaf aku tidak bisa lagi menahannya aku benar-benar bisa menggila Aluna.." Suara Dean kini mulai melembut dan terdengar memohon.
Cerita yang katanya hanya ada dibuku novel bagaimana mungkin itu nyata dan terjadi padaku. Ucap isi hati Aluna.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments