Hutan

Hhhhmmm... Aku menggeliat meregangkan otot-otot tubuh, mataku enggan terbuka tapi aku terpaksa bangun karena sinar matahari terlalu kuat menusukku jika aku masih menutup mata.

Ibuku sudah pulang shift malam rupanya, aku bisa tahu karena semua jendela kamarku sudah terbuka. Aku beranjak dari kasurku, merapikan rambut warna cinnamon yang bergelombang milikku. Aku mengikatnya keatas sehingga menampakan leherku yang jenjang tak lupa aku mengambil sebuah selimut kecil untuk menutup tubuh atasku yang hanya memakai tanktop hitam.

Sarapanku sudah siap ternyata. Segera aku bisa mencium semua aroma masakan ibuku saat membuka pintu kamar. Aku menuruni tangga untuk bergabung dengan ibu masih memakai baju tidur dan selimut yang membelit tubuhku.

" Pagi bu."

Ucapku sambil mendudukkan diri di kursi makan kami.

" Pagi sayang. Hari ini sarapan kita..."

" Egg muffin dan french toast."

Aku mendahului perkataan ibu dan meneguk segelas susu yang sudah ada di meja makan.

Ibuku sedikit terkejut oleh perkataanku, wajahnya seperti mengatakan 'bagaimana kau bisa tahu.' Namun itu bukan hal yang aneh bagiku karena memang penciumanku ini sangat tajam.

" Jadi, kapan kau akan mendaftar kuliah?."

Tanya ibu ditengah-tengah sarapan kami.

" Ada beberapa dokumen yang belum aku siapkan, jadi aku belum mendaftar."

Ibuku tidak puas dengan jawabanku, ia menatapku seolah menuntut jawaban yang sebenarnya. Mendapat tatapan seperti itu membuatku semakin gusar, ibu akan selalu tahu jika aku berbohong entah karena dia ibuku atau karena aku tidak pandai berbohong.

" Nak, ada apa? Kau menyembunyikan sesuatu dariku?."

Perlahan aku menyimpan pisau dan garpu ditanganku, wajahku masih tertunduk tak berani menatap ibu.

" Bu, sebenarnya aku tidak ingin menjadi seniman atau dokter sepertimu."

Mulutku langsung ku kunci setelah mengatakan itu, aku melirik kearah ibu dan mendapati tatapannya masih lembut tidak berusaha menghakimiku. Ekspresi nya memberiku keberanian untuk berkata jujur kepadanya apa yang aku inginkan selama ini.

" Maaf jika aku tidak jujur kepadamu selama ini tapi yang aku sukai adalah bunga, tanaman dan hutan."

Ibuku mulai beraksi setelah aku mengatakan itu, dia mulai mengerti maksud dari perkataanku.

" Maksudmu kau ingin belajar di jurusan Pertanian dan Kehutanan."

" Ya. Aku ingin menjadi peneliti tumbuhan dan bunga liar, menyusuri hutan-hutan dan pegunungan di seluruh dunia jika bisa. Ibu mungkin salah paham saat aku selalu melukis pemandangan hutan dan bunga-bunga cantik. Aku tidak jatuh cinta pada melukis bu, aku jatuh cinta pada objek yang ku lukis."

" Ya Tuhan.."

Hanya itu kata yang keluar dari mulutnya. Aku tahu ini hal yang sulit diterima oleh ibuku namun aku tidak bisa menyerahkan mimpiku begitu saja. Dari kecil aku hidup dekat dengan hutan yang indah mustahil aku tidak menyukainya.

Sering kali saat aku terlepas dari pengawasan ibu, aku akan masuk kesana. Dengan membawa segala perbekalan termasuk alat-alat pelindung diri.

Bertahun-tahun aku menjelajahi hutan yang sama hingga hari ini ibuku tidak pernah tahu, hanya 2 orang yang tahu rahasiaku ini, nenek Giselle yang hidup sebatang kara dan selalu mencari kayu bakar ke hutan serta tuan Dexter seorang pengrajin kayu yang menghabiskan waktu sepanjang hidupnya berada di dalam hutan untuk mengambil kayu dari pohon yang ia tanam sendiri.

Jika ibuku tidak mengatakan apapun itu artinya rahasiaku aman bersama mereka.

Aku mengintip ke kamar ibuku, ruangannya gelap dan ibuku sedang tidur. Menjadi dokter jaga saat malam pasti melelahkan terlebih jika pasien membludak.

Ibuku adalah seorang dokter di rumah sakit kota kami, akses jalan yang terjal dan berbahaya tidak jarang menjadi penyebab kecelakaan di daerah kami. Itulah mengapa profesi dokter dan tenaga kesehatan begitu diminati disini.

Aku mengambil tas ransel yang sudah kusiapkan sebelumnya, memakai jaket tebal lalu menalikan sepatu boot khusus mendaki milikku yang hampir usang karena seringnya kupakai.

Aku mengendap lewat pintu belakang menyusuri halaman dan sampai ke jalan setapak menuju hutan, tempat favorit ku.

Aku berjalan santai sambil bersenandung, terdengar burung-burung liar ikut berkicau seakan mereka adalah backing vocal ku.

Baru berjalan beberapa menit aku melihat seseorang yang kukenal, siapa lagi jika bukan nenek Giselle yang sedang mengumpulkan kayu bakar. Aku memutuskan untuk berhenti dan menyapanya.

" Hai, nek."

" Ya ampun, siapa ini. Aku sampai kaget karena kupikir kau sudah bertaubat."

Kata-kata menusuk nenek Giselle pas mengenai dadaku. Ya, aku memang harusnya bertaubat karena memasuki hutan tanpa sepengetahuan ibuku.

" Ah nenek bisa saja."

Aku tersenyum malu-malu.

" Ya sudah cepat pergi sebelum matahari terbenam kau harus sudah pulang."

" Baik, nek."

Aku memberi hormat padanya dan berbalik. Kurasakan nenek Giselle masih menatap punggungku meskipun aku sudah jauh pergi dari tempatnya berdiri.

Dia memang wanita yang hangat meskipun kata-katanya terdengar dingin.

Tidak sampai satu jam berjalan dan mendaki aku sampai di puncak. Tempatku berdiri seperti tebing yang bisa melihat pemandangan dibawah nya dengan jelas. Kulihat sungai begitu kecil dari sini. Aku duduk bersandar pada sebuah pohon lalu mengeluarkan alat gambarku dari tas.

Berkali-kali dalam beberapa tahun aku menggambar objek yang sama namun selalu terasa berbeda. Mungkin karena semakin dewasa pemikiranku semakin terbuka dan sudut pandangku pun ikut berubah.

Tanpa terasa 2 jam berlalu dan aku sudah menyelesaikan gambarku. Aku memasukkan semua peralatan gambarku dan mengemas tas ku. Aku bangun karena sadar hari sudah sore dan aku yakin ibuku sudah bangun.

Dengan hati-hati aku menuruni tanah yang curam, namun aku tidak kesulitan berkat latihan naik turun hutan selama ini.

Aneh, kenapa kabut sudah muncul jam segini. Aku harus cepat-cepat turun.

Baru setengah jalan aku turun kabut semakin tebal. Aku agak kesulitan berjalan karena jarak pandangku terbatas. Sesekali aku tersandung ranting namun berkat penciumanku yang tajam aku tidak kehilangan arah dan sangat mengenali jalan pulang.

Ggggrr.. suara asing itu membuatku menghentikan langkahku. Aku celingak-celinguk mencari sumber suara tapi tidak menemukan apapun. Gggrr.. suara itu kembali namun aku yakin ini adalah suara yang berbeda.

Suara geraman itu lebih dari satu, dua aku rasa. Anjing liar? Serigala? Harimau?. Pikiranku berkenala tapi aku tidak takut sama sekali. Entah keberanian dari siapa aku tidak pernah takut pada binatang buas sekalipun. Namun yang menjadi pertanyaan, selama 6 tahun aku disini aku tidak pernah mendengar ada binatang buas atau liar dihutan kota ini. Pasti aku salah mendengar.

Aku melanjutkan langkah hingga tiba-tiba ada yang menarik perhatianku. Sekelebat bayangan muncul dari balik pepohonan disampingku. Aku kembali terhenti dan melihat sekeliling. Saat aku lengah seseorang dari belakang menyergapku, memeluk tubuhku dengan erat tanpa memberiku kesempatan untuk berontak.

" Aku menemukanmu, Luna-ku."

Suara berat dan dalam itu bergema dalam telingaku, namun sedetik kemudian aku merasa lemas terlebih lekukan leherku seperti ada yang menggigitnya. Aku tidak sadarkan diri.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!