Aluna POV
Satu hari rasanya berlalu begitu saja. Memang berapa lama pun waktu yang ku habiskan dengan ibu tidak akan pernah cukup. Hari ini saatnya aku kembali ke luar kota untuk menjalani pekerjaan baruku.
Aku membereskan beberapa barang yang akan kubawa, setelah selesai ibu membantuku memasukkannya ke dalam bagasi mobil. Karena perjalananku harus menggunakan bus jadi ibu yang mengantarku ke terminal. Selama perjalanan menuju kesana kami terus mengobrol bersenda gurau hingga tidak sadar waktu 20 menit sudah berlalu.
Bus yang menuju kota tujuanku akan bersiap pergi, setelah mendapat tempat duduk kulihat ibuku masih menunggu ditempatnya. Hingga bus ku berjalan dia masih setia memperhatikanku, aku melambaikan tangan dan dia membalasnya. Namun ada sesuatu yang berbeda kali ini, wajahnya terlihat sedih dan seperti sedang menahan tangis dibalik senyum yang dia paksakan. Tidak seperti ibuku yang biasanya.
Aku berusaha untuk tidak memikirkannya, karena aku tahu ibuku memang orang yang mudah tersentuh dia mungkin sedih karena masih harus berjauhan denganku.
Bagaimanapun pekerjaanku sangat penting dan aku sangat menikmatinya. Bekerja di Taman Nasional memberiku pengalaman baru dengan terjun langsung ke lapangan untuk meneliti berbagai jenis bunga dan tanaman yang menjadi kesukaanku tentunya.
Hari senin, seperti biasa para seniorku terlihat begitu lesu beberapa dari mereka mungkin kelelahan setelah menghabiskan akhir pekan bersama keluarga ataupun berpesta dengan teman-temannya.
Aku pun sedikit tidak bersemangat karena terus memikirkan ibuku sejak kemarin namun melihat pekerjaan yang menumpuk mau tidak mau aku harus segera menyelesaikannya.
" Aluna, bagaimana akhir pekanmu?."
Tanya rekanku yang bernama Andrew.
" Mengesankan, aku pergi ke luar negeri menikmati sunset di pantai terindah didunia."
Jawabku dengan sinis.
" Bercandamu sudah tidak lucu, aku kasihan sekali pada juniorku ini. Pasti kau bekerja meskipun akhir pekan. Ckckck.."
Andrew menepuk-nepuk kepalaku pelan dengan maksud menggodaku. Kata-kata sarkasme nya memang identik dengannya dan itulah yang membuatnya dekat dengan semua orang. Pria ramah yang menyebalkan dan dia adalah mentorku disini.
" Karena siapa aku harus selalu bekerja lembur."
Aku bergumam sambil menatap sinis padanya.
" Hei.. aku bisa mendengarmu. Dengar Aluna, meskipun kau mahasiswi paling cerdas di kampusmu kau masih harus banyak belajar dariku karena aku bicara berdasarkan pengalaman. Makanya aku memberimu banyak pekerjaan karena aku berharap kau bisa belajar sesuatu yang baru selama disini."
Andrew dengan santai menyeruput kopi ditangannya, sifat narsis nya ini memang bukan hal yang aneh lagi. Aku mengerlingkan mata dan kembali menghadap komputer didepanku.
" Ya, senior." ucapku tidak tulus.
Harus kuakui Andrew memang sangat perhatian padaku karena aku adalah tanggungjawabnya selama disini. Aku cukup bersyukur dia menjadi mentorku karena sifat kami cocok meskipun dia sedikit menyebalkan.
" Oh ya, pekan depan tim kita akan menjelajah hutan didaerah Blue Hills ada temuan bunga langka disana."
" Iya aku sudah dengar."
" Kau akan ikut jadi persiapkan dirimu."
" Hah? Kau serius?."
Andrew mengangguk dengan senyuman. Aku bisa merasakan bahwa sekarang ini dia memang sedang tidak bercanda. Aku tidak bisa menyembunyikan rasa bahagiaku hingga tidak sadar aku melompat kegirangan dan memeluk Andrew.
" Terimakasih Drew.. akhirnya aku akan merasakan langsung menjelajah hutan yang sebenarnya."
Aku tidak berhenti berterimakasih pada Andrew karena aku diijinkan untuk bergabung dengan tim penjelajah. Sangat sulit bagi junior sepertiku untuk bisa mendapat kesempatan melakukan pekerjaan besar dan beresiko ini.
Akhirnya waktu yang kutunggu tiba. Dengan segala persiapan yang matang baik fisik juga mental kami mulai menelusuri hutan lebat yang disebut-sebut menyimpan berbagai jenis tanaman langka. Bagi kami para peneliti itu seperti harta karun yang tidak ternilai hingga rintangan apapun akan kami hadapi.
Selama lebih dari satu jam kami yang berjumlah 5 orang termasuk aku dan Andrew sudah memasuki hutan semakin dalam. Pengalaman pertamaku menjelajah cukup menantang, selain medan yang cukup sulit dilewati dan butuh kewaspadaan kerjasama tim pun tidak boleh kendur.
Setelah beberapa jam berjalan dan melewati jalanan terjal kami memutuskan untuk beristirahat. Aku membuka ranselku dan mengeluarkan botol minumku begitu pun semua orang.
Srek..srek..
" Apa kau mendengar sesuatu?."
Tanyaku pada Andrew yang berada disebelahku.
" Tidak. Memangnya kenapa?."
" Kurasa ada seseorang yang mengikuti kita."
Aku bangun dari duduk dan mengedarkan pandanganku pada sekitar. Hal itu menarik perhatian anggota tim yang lain untuk bertanya.
" Ada apa Aluna?."
Tanya ketua tim kami.
" Ah, saya hanya merasa ada seseorang yang mengikuti kita dibelakang."
Dengan ragu aku mengutarakan perasaanku.
" Mungkin hanya rusa atau binatang lainnya. Kalian sudah selesai istirahat, kan? Kita lanjutkan perjalanan menurut informasi kita sudah dekat dengan lokasi."
Semua anggota berdiri, dan kamipun bersiap menuju lokasi tujuan. Aku terpaksa mengikuti langkah para seniorku dan mengabaikan rasa penasaranku.
Setibanya ditempat tujuan kamipun segera mengeluarkan segala peralatan yang dibutuhkan, beberapa dari kami mulai mengambil sampel bagian dari bunga langka yang akan kami teliti.
Penuh konsentrasi dan hati-hati itulah yang kami lakukan saat menemukan harta karun ini.
Saat semua seniorku sedang fokus memindahkan temuan kami ke tempat yang sudah kami persiapkan, aku bertugas mengamati struktur tanah dibeberapa titik disekitar tempat itu. Namun lagi-lagi suara yang terus saja mengikuti kami kembali terdengar. Aku yakin kali ini instingku benar ada seseorang yang terus mengawasi gerak-gerik kami. Konsentrasiku mulai buyar, aku tidak bisa mengabaikan hal ini.
Tanpa sepengetahuan siapapun aku mulai menjauh dari tempat itu, aku mengikuti instingku. Keberanian dan rasa ingin tahu yang tinggi dalam diriku entah diturunkan dari siapa, aku tidak bisa berhenti sekalipun orang lain melarangku.
Masih dalam jarak puluhan meter, aku masih bisa melihat para seniorku yang bahkan belum menyadari aku memisahkan diri dari rombongan. Aku terus berjalan hingga akhirnya sampai di asal suara yang ku dengar, aku berdiri diujung tebing melihat tanah bebatuan di bawahku dan sekitarnya namun tidak ada seorang pun disana.
Setelah meyakinkan diri bahwa instingku salah aku hendak berbalik namun ada seseorang dari belakang tiba-tiba mendorongku. Aku tersentak dan tubuhku jatuh tergelincir di tanah curam. Reflek aku meraih akar pohon besar sehingga tubuhku berhenti meluncur kebawah dan sedetik kemudian aku sudah bergelantungan ditebing. Aku mendongak keatas dan kulihat orang yang mendorongku seorang pria berpakaian hitam-hitam ia memakai topi hoodie miliknya dan masker yang menutupi wajahnya.
Dalam kebingungan aku sadar harus menyelamatkan diri, aku mencoba menarik tubuhku keatas namun sia-sia karena tenagaku tidak cukup besar. Aku melihat kebawah tebing ini tidak terlalu tinggi namun jika aku mendarat dibebatuan tubuhku akan tetap hancur.
" To..long.."
Aku berusaha berteriak namun suaraku tercekat karena seluruh tenagaku terpakai untuk mempertahankan hidupku yang bergantung pada akar pohon yang ku cengkram.
" Aluna, kau dimana?."
Dari walkie talkie milikku terdengar suara Andrew. Aku berusaha mengambilnya dengan satu tanganku yang lain namun sialnya benda itu malah terjatuh dan mendarat di bebatuan dibawah dalam keadaan hancur. Dan sebentar lagi nasibku mungkin akan sama dengannya, pikirku.
Keringat dan air mataku mulai berjatuhan, aku hampir putus asa karena tanganku mulai melemah.
Sial, harusnya aku tidak mengikuti instingku.
Dalam ketakutan aku masih ingin mengumpat dan menyalahkan diri sendiri karena aku benci jika harus mati dengan cara seperti ini.
" Tuhan, tolong jaga ibuku." ucapku lirih.
Tanganku menyerah, dan genggamanku terlepas dari akar pohon itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments