Sang Pemilik

Berhari-hari pertanyaan tentang kejadian yang menimpaku masih saja berputar dikepalaku. Aku mendesak ibu agar mempercayainya bahkan aku menunjukkan tanda memar dileherku yang tidak memudar sedikitpun namun dia masih menyangkalnya.

Aku ingat bertemu nenek Giselle saat menuju hutan tempo hari namun dia mengatakan yang sebaliknya. Dia bilang dia sakit dan tidak mencari kayu bakar selama minggu itu.

Aku sungguh gila sekarang. Apa yang terjadi sebenarnya. Dalam kegelisahan tiba-tiba aku mengingat sesuatu. Ranselku, baju, jaket dan sepatu boot ku. Aku segera mencari barang-barang itu namun semuanya berada ditempat terakhir sebelum aku memakainya untuk pergi ke hutan. Buku gambarku bahkan tidak ada gambar apapun yang ku buat hari itu. Semuanya tampak tak tersentuh.

Apa benar aku mengalami delusi. Tapi itu terlalu nyata untuk hanya sekedar halusinasiku. Pasti ada sesuatu yang aku lewatkan.

Aku melihat ke arah hutan dan kini rasanya berbeda. Didalam kegelapan itu ada sesuatu yang bersembunyi dan aku tidak tahu apa itu.

Emily POV

Gelisah, dan takut. Kata itu yang mungkin cocok menggambarkan perasaanku sekarang. Aku duduk disofa kamarku sembari terus memijat kepalaku yang pening.

Apa yang harus kulakukan.

Kejadian minggu kemarin masih ku ingat jelas. Dua orang pria mendatangiku dengan membawa tubuh Aluna yang tak sadarkan diri. Hanya dengan melihatnya aku tahu putriku pergi ke dalam hutan tanpa sepengetahuanku lagi. Kebiasaan yang ia lakukan sejak dulu. Dia mungkin tidak menyadari bahwa aku tahu semua yang dia lakukan dibelakangku.

Aku tidak bisa menghalangi dirinya pergi, karena hutan baginya seperti tempat yang akan selalu menariknya, aku tahu itu.

Tapi satu hal yang membuatku sedih dan merasa kehilangan. Putriku sudah ditandai pemiliknya. Lunaku sudah dewasa dan bukan milikku lagi.

Aku menangis dalam diam, menahan sesak di dadaku. Andai saja sejak awal aku berpikir ribuan kali untuk memiliki Luna. Tapi nasi sudah menjadi bubur, kelahirannya yang menantang takdir menjadi kebahagiaan tak ternilai bagiku, namun semua itu harus dibayar mahal. Aku akan kehilangan dia suatu hari nanti dan ini bukan sesuatu yang bisa ku hindari.

Flashback:

Aku terbangun setelah beberapa jam tidur. Hal pertama yang kulakukan adalah mencari putri semata wayangku. Dia tidak ada dimanapun dirumah ini dan aku tahu dimana keberadaannya.

Aku menghela nafas membayangkan jika nanti dia pulang pasti dia akan bilang baru saja menemui sahabatnya atau membeli buku baru di pusat kota. Kebohongannya mudah sekali ditebak.

Aku tidak ambil pusing dan hanya berdoa dalam hati agar dia baik-baik saja. Baru saja aku akan duduk, seseorang mengetuk pintu rumahku. Aneh, aku tidak sedang menunggu tamu.

Setelah merapikan rambutku yang sedikit berantakan aku menuju pintu dan betapa terkejutnya saat aku melihat putriku berada dalam pelukan seorang pria asing dan dalam keadaan tak sadarkan diri.

" Ya Tuhan, Luna."

Segera aku menunjukkan jalan agar mereka bisa membawa Luna ke kamarnya karena aku wanita dan pasti akan kesulitan untuk membopongnya.

" Ini tas putri anda, nyonya."

Ucap seorang lagi yang berada di belakang pria yang menggendong Luna.

" Terimakasih karena kalian sudah membawa putriku. Apa yang terjadi pada...."

Deg.

" Aku tidak akan berbasa-basi, entah kau tahu atau tidak aku adalah pria yang ditakdirkan untuk berjodoh dengan putrimu."

Senyumku perlahan hilang dan berganti dengan wajah pucat pasi.

" Kalian adalah.."

Suaraku tercekat ditenggorokan dan tidak bisa meneruskan kata-kataku.

" Iya, kami adalah werewolf."

Bagai petir menyambar tepat diatas kepalaku aku kesulitan menyeimbangkan tubuhku.

" Sebenarnya banyak sekali hal yang ingin kusampaikan secara pribadi kepadamu tapi hari ini bukan waktu yang tepat. Aku akan mengunjungi kalian dalam waktu dekat ini, kuharap kalian bisa menyambutku dengan baik."

Kata-katanya seperti perintah seorang raja, aku ingin menolak namun aku tidak bisa. Kedua pria itu meninggalkan kami begitu saja, pria satunya menganggukkan kepala kepadaku sebelum pergi. Dia terlihat lebih manusiawi dibanding yang satunya. Aku bisa menduga bahwa kedudukan pria yang berjodoh dengan Luna pasti lebih tinggi darinya namun siapa dia aku belum tahu.

Tubuhku ambruk seketika, namun aku mencoba berdiri dan menghampiri Luna. Kulihat dia masih belum sadar, aku membukakan sepatunya, merapikan rambut yang menutupi wajahnya dan saat kulihat lehernya terdapat sebuah gigitan. Tangisku semakin menjadi karena kini dia benar-benar tidak akan bisa lari dari werewolf itu dan aku tidak akan bisa membantunya.

Saat aku menangisi putriku, seseorang datang menghampiri dan memegang pundakku. Nenek Giselle.

" Aku harus bagaimana sekarang?."

Terdengar helaan nafas panjang darinya.

" Tentu dia harus memenuhi takdirnya." ucapnya.

Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa nenek Giselle bukan orang biasa. Ia memiliki kekuatan supranatural selama ini yang dia sembunyikan. Warisan dari nenek moyangnya sendiri.

Nenek Giselle pertama kali kukenal saat kami pindah kemari. Hanya dengan melihat Luna, ia sudah bisa tahu bahwa dia memiliki darah campuran. Dia banyak memberiku saran agar aku bisa melindungi Luna selama mungkin.

Itulah mengapa aku memilih tempat didekat hutan pinus dan kasturi menanam bunga-bunga yang memiliki aroma menyengat di sekitar rumah, semua ini agar aku bisa menyembunyikan aroma Luna.

Usahaku sedikit membuahkan hasil, pemilik Luna baru menemukannya saat Luna berusia 19 tahun. Tiga tahun lebih lama dari dugaanku.

Jika Luna tahu semuanya sekarang mungkin dia akan sangat terkejut. Aku harus menyembunyikannya untuk sementara.

Ya, aku harus bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!