Author POV
Rumah Alpha.
" Tuan, nona Mellisa sudah datang."
Dean menganggukkan kepala tanda dia menyuruh pelayan itu pergi. Kini hanya sang Alpha dan manusia serigala betina bernama Mellisa yang berada diruangan itu.
Dean tak mengalihkan pandangannya meski Mellisa berdiri di depannya, dia masih menatap lurus namun sangat mengintimidasi bisa dilihat jika dia sangat marah.
Mellisa sedikit menelan ludah, namun dia tidak menunjukan sisi lemahnya.
" Ada apa kau memanggilku, Alpha?."
Tutur katanya sedikit angkuh, sangat cocok dengan penampilan manusianya yang mendominasi dengan pakaian mewah dan seksi serta dandanan elegan.
" Tidak perlu basa-basi, kau kan yang menyuruh seseorang untuk melukai Luna?."
" Aku? untuk apa aku melakukan itu. Alpha-ku?."
Nada bicaranya sangat santai dan tanpa merasa bersalah namun sang Alpha tentu saja sudah mengetahui segalanya. Dean sangat muak dengan tingkah laku Mellisa hingga dia menggebrak meja didepannya.
Meja kayu berukiran indah itu kini hampir roboh, kekuatan sang Alpha memang tak bisa dijelaskan oleh kata-kata. Mellisa mundur dengan kaki gemetar, wajahnya yang angkuh kini mulai tersirat ketakutan terlebih Dean bangkit dan mendekat padanya.
" Sepertinya kau lupa siapa aku, Mellisa. Aku sang Alpha pemimpin terkuat disini dan kau tidak lebih dari pelayanku. Jika kau masih ingin menjadi bagian dari kelompok maka jangan melewati batas karena yang akan kau hadapi adalah aku."
Dean berlalu begitu saja meninggalkan Mellisa yang bahkan tidak sempat berkata apapun. Air matanya mulai berlinang namun segera dia mengusapnya dengan punggung tangannya.
Sungguh keterlaluan kau Dean. Aku adalah serigala betina satu-satunya yang belum menetapkan jodoh karena terus menunggumu tapi kau malah memilih manusia berdarah campuran itu.
Kantor Taman Nasional St. Nature.
Pagi ini, seperti biasa Aluna sudah berkutat dengan komputer didepannya. Menjelang akhir bulan tugasnya akan bertambah karena dia penanggungjawab laporan di tim nya. Dengan konsentrasi penuh Aluna mengerjakannya dengan sungguh-sungguh bahkan ada keributan para pekerja disana dia tidak mempedulikannya.
" Ya Tuhan dia tampan sekali, kalau saja aku belum menikah pasti aku akan menggodanya."
Ujar salah satu pekerja wanita kepada rekan-rekan nya yang lain.
" Tuan Ivailo itu milyarder dan kita hanya sebutir pasir baginya."
" Iya kau benar. Tapi aneh sekali kenapa pengusaha seperti Tuan Ivailo tiba-tiba saja tertarik berinvestasi pada departemen kita."
" Itu justru berkah bagi kita semua, kau tahu kan pemerintah sangat pelit jika menyangkut pendanaan di departemen ini bayangkan semua dana riset, penelitian bahkan kesejahteraan pekerja disini akan ditanggung oleh dia. Dia sungguh manusia berhati malaikat."
" Pemerintah harusnya malu karena sempat akan membubarkan departemen kita tapi untungnya tuan Ivailo datang seperti penyelamat Taman Nasional ini."
Suara gaduh dan gelak tawa mereka hampir terdengar diseluruh ruangan namun semua orang memang sedang berbahagia karena Dean Ivailo yang dikenal sebagai seorang milyarder tiba-tiba saja berinvestasi besar-besaran pada Taman Nasional yang seharusnya dikelola pemerintah setempat.
" Saya tidak tahu lagi harus mengatakan apa selain terimakasih banyak untuk bantuan anda, tuan."
Ucap Kepala Direktur Taman Nasional St. Nature.
" Anda tidak perlu sungkan, saya hanya merasa sayang jika departemen ini tidak dikembangkan. Lagi pula kelestarian lingkungan hidup bukan hanya tugas para pekerja disini tapi semua orang. Dan ini adalah bentuk kepedulian saya terhadap alam."
" Saya sangat terkesan dengan niat baik anda, tuan. Jarang sekali ada pengusaha yang masih memikirkan kelestarian alam, karena saya pikir mereka hanya akan mengutamakan keuntungan pribadi."
" Ya, saya pun sangat menyayangkan orang-orang seperti itu. Tapi pak direktur, saya butuh sedikit bantuan anda."
Dean merubah posisi duduknya, dengan seringai khasnya dia mendekatkan tubuhnya pada orang didepannya.
" Apapun itu tuan, silahkan katakan."
Kepala direktur itu begitu antusias menawarkan bantuan pada Dean, tentu saja karena dia investor di departemen yang dipimpinnya.
" Saya ingin anda menugaskan salah satu pekerja disini untuk merawat rumah kaca milik saya. "
" Tentu saja, saya akan menempatkan seseorang yang terbaik dan berpengalaman untuk itu."
" Tidak perlu sampai seperti itu, pekerja magang pun tidak masalah."
" Anda yakin tuan? Pekerja disini banyak yang sudah senior dan terbaik dibidangnya."
" Pekerjaan di rumah kaca saya akan menghabiskan banyak waktu jadi pekerja senior anda mungkin tidak akan ada yang bersedia. Saya dengar ada pekerja magang bernama Aluna Lancaster dia lulusan terbaik universitas Highlands tahun ini. Saya pikir dia yang paling cocok untuk pekerjaan ini."
" Baiklah jika anda menginginkan seperti itu. Saya akan menempatkan dia disana."
Senyum puas Dean tampilkan, selangkah lagi dia akan semakin dekat dengan Luna-nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments