PARA Penduduk desa Panujum yang melihat kejadian dipondok pesantren itu hanya bisa melihat dari kejauhan. sekalipun kepala desa yang ikut menyaksikan penyerangan oleh sekelompok orang yang tidak diketahui datangnya darimana itu, ia hanya bisa memandangi tanpa berani bertindak untuk mengusir orang-orang yang bertampang angker itu.
Dikerumunan para penduduk itu, hadir juga nenek Iroh yang kala itu sedang menjemur pakaian dipagi hari. ia mendengar penyerangan sekelompok orang itu dari mulut tetangga nya. anak tetangga itu teman sebaya dengan cucu nenek Iroh yang sama-sama sedang berada dipondok pesantren ustad roni.
Setelah mendengar berita tersebut, nenek Iroh langsung bergegas bersama penduduk lainnya untuk melihat langsung kejadian tersebut. nenek iroh melihat cucunya yang ikut tertawan di antara para murid pesantren itu. nenek iroh ingin mencoba melepaskan cucunya dengan berlari ke arah kelompok berwajah bengis itu. tetapi tangan nya ditarik oleh penduduk yang sedang ikut menyaksikan ketegangan itu.
"jangan gegabah nek, nanti nyawa nenek yang jadi sasaran kemarahan mereka.!" ucap perempuan setengah baya kepada nenek iroh.
"iya nek, adakala nya kita sabar dulu. jangan bertindak semaunya. kita lihat dulu mau nya apa mereka mengamuk dipondok ustad roni." ucap yang lainnya menimpali. mendengar saran dari para warga, nenek iroh hanya pasrah melihat apa yang akan terjadi selanjutnya kepada cucu nya dan para murid pesantren ustad roni.
Keramaian penduduk yang menyaksikan dikejauhan, sudah dihiraukan oleh sekelompok pakaian serba hitam. anggota kelompok dukun itu mengelilingi murid-murid yang tertawan untuk mencegah mereka melarikan diri.
Ketua kelompok dukun itu yang mempunyai ciri bekas sabetan pedang melintang dirahang pipi kiri ke batas hidung. orang tinggi besar bercodet itu mulai perdengarkan suara nya yang besar dan serak membuat orang yang mendengarnya merinding.
"heii kau..!!" bentak suara besar itu mendelik kepada ustad roni yang sedang menatap nya dengan tatapan tajam.
"apakah kau yang memimpin perguruan disini..?!" tanya ketua dukun yang bertampang bengis itu.
"benar..memang saya yang memimpin pesantren ini..!" jawab ustad roni yang diperkirakan berumur empat puluh tahun.
Ustad itu berambut pendek, berpakaian serba putih, memakai kopiah putih juga dan wajah yang berwibawa tanpa kumis atau jenggot sehelai pun diwajahnya.
lalu ketua dukun itu bertanya lagi dengan membentak.
"aku bertanya tentang pemimpin perguruan bukan lesantren..!! apa itu pesantren..!! apa kuping mu itu sudah tuli hahh..!!" bentak Ketua dukun itu dengan suara besar menyeramkan.
Ketika para murid yang berkumpul di satu titik dan merunduk ketika mendengar suara besar menyeramkan itu, semuanya menutup telinga menahan sakit. karena tidak tahan mendengar suara yang seperti nya mengandung tenaga dalam menyakitkan bagi telinga pendengarnya.
Sang ustad tetap berwajah kalem tanpa menutup telinganya sendiri, karena ustad roni bukan sembarang guru yang tanpa isi.
"maaf kang..Ini hanya sebuah pondok pesantren bukan perguruan tempat mengadu ilmu..!" jawab ustad roni dengan tegas.
"heii..!! berani-berani nya kau memanggilku dengan panggilan 'Kang'.!! panggil aku tuan garong codet ketua perguruan dukun sakti..!!" bentaknya semakin mendelik memamerkan matanya yang besar dan tajam ke arah ustad roni.
Yang dibentak hanya diam saja tanpa gentar sedikit pun. semua anak buah nya memperhatikan nya sejak tadi. ketua itu merasa diremehkan oleh tatapan anak buah nya karena bentakan nya tidak mempan. tanpa basa-basi lagi, garong codet langsung menampar ustad roni yang sedang berlutut dihadapan nya.
Tangan kanan yang besar milik ketua dukun itu melayang cepat ingin menampar wajah ustad itu. dengan cepat ustad roni menangkis tamparan itu dengan tangan kiri yang menggenggam. karena kalah kuat akhirnya tangkisan itu gagal juga dan mengenai wajahnya sendiri. tubuh yang tersentak kuat karena tamparan tangan besar itu terpental tak kuat menahan tenaga dalam yang sangat besar tersalur ditangan kanan garong codet. ustad roni terpental dan terguling-guling sekitar lima tombak jauhnya akibat tamparan ketua dukun itu bertenaga dalam besar. ustad yang terlempar menyedihkan itu hanya ditertawakan oleh anak buah garong codet.
Kerumunan warga yang melihat kejadian itu dikejauhan terdengar seperti lebah menggaung. seakan sedang membicarakan nasib ustad roni dan para muridnya. ketua dukun sakti dan semua pengikutnya menertawakan pemimpin pesantren itu dengan suara tawa yang sama-sama menyeramkan.
Ustad roni yang terguling-guling tadi segera bangkit sambil memegang pipi kirinya yang memar membiru.
karena tak kuat menahan pedih di pipi kirinya yang amat menyakitkan, ustad roni langsung membentak dengan nada orang yang sedang memendam murka.
"manusia kotor..!! apa salahku dan para murid-muridku hah..?! tega sekali kalian menyerang kami dengan kekerasan tanpa alasan yang jelas..!! kami tidak pernah punya urusan dengan perguruan sesatmu itu..!! bahkan aku belum pernah bertemu dengan mu beserta cecungukmu itu iajingan..!!"
"huahahaha..!!" garong codet tertawa dan ikuti oleh anak buahnya. tawa anak buah garong codet terhenti ketika tangan kanan ketua itu terangkat disamping telinga nya. sebuah isyarat untuk anak buahnya berhenti tertawa.
Setelah tawa mereka terhenti, barulah garong codet perdengarkan suaranya lagi,
"hei orang tuli..!! diantara anak-anak ini tunjukan anak yang bernama riko..!! dia adalah anak dari keturunan sepasang suami istri yang kini sudah modar karena kesaktian ilmu teluh kakakku yang tiada tandingannya itu..!! tunjukan anak itu cepat.!!" bentak garong codet ke arah ustad roni yang masih meringis kesakitan.
Ustad Roni yang meringis kesakitan sejak tadi tersentak kaget mendengar nama murid yang ia sayangi disebut oleh ketua dukun sakti yang bernama garong codet itu.
"untuk apa kau mencari anak itu..hah..?!" tanya ustad roni sedikit membentak.
"dengar baik-baik manusia tuli..!! nyawa anak itu akan ku tumbalkan kepada raja jin..!! dan sisa keluarganya akan ku bunuh..!! karena anak itu adalah biang penyakit bagi dunia perdukunan nantinya jika masih dibiarkan hidup..!! kakak ku yang bernama datuk maringis mati bunuh diri karena penyakit kiriman dari tabib yang membantu keluarga bangsat itu..!! aku tahu tentang keluarga itu ketika sedang mengobati kakakku yang terkena penyakit ayan karena pertarungan nya dengan tabib sok sakti yang membantu kedua suami istri yang sekarat itu..!! sebelum kakakku menemui ajal karena tak kuat menahan penyakit yang membuat dirinya menggelepar-gelepar seperti orang terkena ayan, ia menusukan keris dijantungnya tanpa sepengetahuan ku. aku yang melihat kejadian itu, langsung menghampiri kakakku yang sekarat. lalu ia melontarkan kata kepadaku untuk membunuh anak dan sepasang suami istri yang bernama rendi dan sumi didesa panujum ini. setelah aku mendengar pengakuan dari mendiang kakakku, aku langsung mengutus anak buahku untuk memata-matai keluarga itu yang suatu hari akan aku bantai. ketika aku mendengar kabar dari anak buahku bahwa sepasang suami istri itu telah modar karena kesaktian Santet kakakku, aku merasa lega akan hal itu. akan tetapi ketika aku akan datang kemari untuk membantai sisa keluarga nya, aku dihadang oleh seorang perempuan cantik dan tabib yang melindungi keluarga ini, aku dan anak buahku kalah ilmu. maka aku dan anak buah ku mundur untuk beberapa saat. dan sekarang tibalah waktunya sekarang bagiku untuk membantai habis keluarga bangsat itu..!!" ujar garong codet menjelaskan tentang tujuan dia berada di desa panujum.
Dan ia melanjutkan ucapan nya lagi.
"dengan pusaka 'Tongkat Trisula Tanduk Naga' ini, akan ku bunuh siapa saja orang yang menghalangiku..!! bila perlu akan ku kirim ke neraka tabib yang sok sakti dan perempuan lacur yang kala itu menghadang langkahku untuk membantai sisa keluarga sialan itu..!!" seru garong codet kepada orang yang hadir disitu sambil memamerkan sebuah pusaka yang ia pegang ditangan kirinya sejak tadi.
Para penduduk hanya melihat dan mendengar apa yang dikatakan sekelompok berbaju hitam itu. para penduduk disitu semua nya saling berkasak-kusuk menyebut kelompok itu dengan sebutan Pemburu Tumbal.
Karena para warga telah mendengar pengakuan kelompok dukun itu dari kejauhan. nenek iroh yang telah mendengar jelas tujuan kelompok dukun itu, langsung berbicara kepada kepala desa yang ikut hadir di situ. setelah ia ceritakan sedikit masalah itu ke kepala desa yang hadir disitu, maka kepala desa pun menuruti permintaan nenek Iroh untuk mengabari anak sulung nya yang bernama eang edi lewat telepon rumahnya.
Setelah sampai dirumah kepala desa, nenek iroh langsung berbicara lewat telepon dengan anak sulungnya. ia menceritakan secara rinci kejadian disitu yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. lalu nenek iroh menyuruh kang edi agar segera datang dan memanggil mbah rajak atau tabib jalak putih untuk menolong cucunya yang ikut tertawan oleh sekelompok perguruan yang bernama dukun sakti.
...*...
...* *...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 240 Episodes
Comments
Ukhty Laini Ar Risty
kok gk ada yg lapor polisi ya...msa cuma dliatin doang
2023-05-19
1
Ikko_Suwais
siap kak
2021-11-11
1
nath_e
smangaaaat author...saya tinggalin jejak dulu yaaa....next...🥰🥰
2021-11-11
1