"Aithan, apa ini?" tanya Argani saat Aithan menunjukan sebuah bukti pembayaran tiket di ponselnya.
"Liburan musim panas ini, kamu bisa pulang ke Indonesia."
Argani terbelalak. "Tapi Aithan, harga tiketnya mahal dan...."
"Please, jangan tolak. Aku tahu kalau kamu begitu rindu untuk pulang ke Bandung. Aku sering melihatmu menatap foto anak-anak di sana di galeri ponselmu. Selama 3 bulan ini, aku bekerja untuk bisa mendapatkan tiket ini."
Argani menatap Aithan dengan hati yang bergetar. Ia memang tahu kalau Aithan bekerja di salah satu cafe temannya. Bukan hanya di cafe itu, Aithan juga bermain saham. Sempat beberapa kali saat bersama Argani, cowok itu bersorak gembira karena menang dalam saham yang Argani sendiri tak mengerti bagaimana caranya.
"Terima kasih, Aithan." Mata Argani sudah berkaca-kaca. Ia langsung memeluk Aithan yang duduk di sampingnya.
"Sama-sama, sayang. Kita akan pergi bersama."
Argani melepaskan pelukannya. "Kita?"
"Ya. Aku dan kamu."
"Tapi...."
"Aku juga ingin tahu kehidupan mu, Ar. Ingin mengenal tempat di mana kau dibesarkan. Ingin Ziarah ke makam ibumu dan meminta ijin padanya untuk menyayangimu."
"Aithan!" Mata Argani jadi berkaca-kaca. Ia tak menyangka kalau cinta Aithan sampai begitu besar padanya.
"Jangan menangis, sayang. Walaupun kamu tetap terlihat cantik saat menangis namun air matamu akan melukai hatiku."
Argani tersenyum. "Ini kan air mata kebahagiaan, Aithan."
"Tersenyumlah. Itu yang selalu ku inginkan darimu."
Argani mencium pipi Aithan dengan gemas. Cowok itu jadi terbelalak. Ini kali pertama Argani mencium pipinya.
"Semakin sayang." Ujar Argani sebelum pergi.
"Ar, mau ke mana?"
"Aku masih ada kuliah." Ujar Argani dan meninggalkan Aithan yang hanya menatapnya sambil tersenyum. Taman kampus di fakultas kedokteran saat ini terasa sangat menyenangkan.
**********
Darren dan Tio menatap Aithan yang sedang membereskan beberapa pakaiannya. Ia tak membawa koper. Hanya sebuah tas ransel yang lumayan besar. Rencananya ia akan ada di Indonesia selama 2 minggu.
"Pangeran, bagaimana bisa aku tak mendampingiku? Apa nanti kata permaisuri jika tahu kalau aku membiarkan tuan sendiri?" tanya Darren dengan wajah sedikit tegang karena Aithan tak mengijinkannya pergi.
"Aku tak ingin membuatmu sibuk, Darren. Aku hanya ingin berdua saja dengan Argani. Percayalah, Indonesia bukanlah negara yang membahayakan sehingga kau harus mengkhawatirkan aku. Lagi pula, aku sudah menghubungi salah satu agen yang ada di sana, mereka telah menyiapkan mobil yang aman dan hotel yang aman juga." ujar Aithan lalu menutup resleting ranselnya. Ia menatap wajahnya ke cermin lalu tersenyum. Semuanya sudah beres.
"Lalu camp musim panasnya?" tanya Tio.
"Aku sudah ijin nggak akan ikut camp musim panas karena sedang memperbaiki nilai ujianku."
"Ujian pangeran kan semuanya tuntas." Tio jadi bingung.
"Alasanku saja, Tio. Sekarang antar aku ke bandara. Namun sebelumnya kita akan menjemput Argani dulu."
Darren yang mengantar Ai dan Ar ke bandara. Keduanya nampak bahagia dan selalu saling pandang dengan penuh cinta. Darren hanya bisa menarik napas dalam-dalam. Ia tahu pangeran sangat mencintai Argani dan begitu pula sebaliknya.
**********
Wulan menatap Argani yang kini berdiri di hadapannya. Mata perempuan berusia 60 tahun itu nampak berkaca-kaca. Ia langsung memeluk Argani.
"Anakku! Sungguh bahagia melihat kau ada di sini." ujar Wulan.
"Aku juga bahagia, bu."
Wulan beberapa kali mencium puncak kepala Argani, lalu matanya menatap pria tampan yang tinggi kekar, rambut sedikit ikal, sedang berdiri di belakang Argani.
"Itu siapa?"
Sebelum Argani menjawabnya, Aithan sudah maju lebih dulu, mengambil tangan kanan Wulan dan mencium punggung tangan wanita itu dengan penuh rasa hormat dan bahagia.
"Aku Aithan Cainio, pacarnya Argani." ujar Aithan dalam bahasa Indonesia yang walaupun masih terdengar kaku namun sangat jelas diucapkannya.
Argani terkejut. Aithan bisa bahasa Indonesia? Tapi sejak kapan? Hampir setahun mereka pacaran, Argani tak pernah tahu kalau cowok itu bisa bahasa Indonesia.
Wulan tersenyum sambil berkata. "Wah budak ieu ganteng. Anjeunna sapertos pangeran."
Aithan menatap Argani. Bingung dengan bahasa yang digunakan Wulan.
"Artinya duh gantengnya anak lelaki ini. Dia bagaikan pangeran saja." kata Wulan membuat Aithan jadi bersemu merah.
Lalu mereka diajak masuk dan anak-anak panti asuhan yang sedang bermain di halaman langsung menyerbu Argani sambil menunjukan beberapa mainan yang pernah Argani berikan kepada mereka.
Aithan kemudian mencoba berkomunikasi dengan beberapa anak dan akhirnya ia bisa bermain bersama mereka. Argani dan ibu Wulan yang melihatnya jadi senang.
"Terima kasih, nak. Uang kiriman mu sudah membantu panti asuhan ini dalam merenovasi kamar dan ruang belajar anak. Kau sungguh beruntung diberikan uang yang sangat banyak oleh tuan kaya itu."
"Aku menyimpannya sebagian dan sisanya aku kirimkan pada ibu Wulan. Apakah 20 juta itu bisa cukup untuk merenovasi panti asuhan ini?" tanya Argani.
"20 juta? Bukankah kamu mengirimnya 50 juta? Ibu bahkan membeli beberapa tempat tidur baru untuk anak-anak."'
Argani terkejut. Bukankah uang sebanyak itu yang ia kirimkan untuk ibu Wulan. Apakah....
Mata Argani langsung menatap Darren yang sedang asyik bermain sepak bola dengan para anak lelaki. Ia tak tahu bagaimana harus menjelaskannya pada ibu Wulan.
Sore pun datang. Argani segera meminta anak-anak untuk berhenti bermain dan segera mandi.
"Ai, kamu sudah pesan hotel kan?" tanya Argani saat Aithan sudah selesai mengeringkan badannya karena sangat berkeringat. Untung saja panti asuhan ini letaknya di perbukitan sehingga udaranya cukup sejuk.
"Belum. Aku boleh tidur di sini kan?"'tanya Aithan dengan wajah penuh permohonan.
"Ai, di sini memang ada kamar tamu. Namun kamarnya kecil, tempat tidurnya juga mirip dengan tempat tidur di asramaku. Aku takut kamu nggak nyaman. Apalagi dengan kamar mandinya.
"Aku akan lebih berbahagia di sini dari pada harus tinggal di hotel mewah, Ar."
Argani pun meminta ijin pada Wulan dan wanita itu menyetujuinya. Ia meminta salah satu pekerja panti asuhan untuk membereskan kamar tamu.
Saat malam tiba, Aithan ikut makan bersama mereka di meja makan. Tubuhnya yang tinggi membuat Aithan terlihat lucu ketika duduk di salah satu kursi makan anak.
Suasana di ruang makan menjadi ramai karena anak-anak itu menertawakan Aithan yang wajahnya kemerahan saat makan tahu memakai sambal.
Selesai makan, anak-anak langsung belajar dan akhirnya tidur.
Argani dan Aithan duduk di ruang tamu sambil menikmati kopi buatan Argani sendiri.
"Kopinya enak." puji Aithan.
"Ini kopi asli yang ditanam di halaman belakang panti asuhan ini."
"Memang sangat terasa enaknya. Seperti juga yang membuatnya, enak dipandang."
Argani melotot. "Jangan macam-macam, Ai. Ini di panti asuhan."
Aithan tertawa. Dan ia semakin terlihat tampan.
"Ai, sejak kapan kamu bisa bahasa Indonesia?" tanya Argani.
"Sejak aku pacaran denganmu. Aku iri melihatmu dengan Reza yang berbicara dengan bahasa Indonesia. Makanya aku kursus bahasa Indonesia selama beberapa bulan ini. Aku juga ingin mengenal bahasa asal kekasih ku."
Argani menatap cowok itu dengan seksama. "Dan uang kiriman itu? Apakah kau yang menambahkannya?"
"Kau marah?"
"Bukan. Uang itu justru sangat membantu panti asuhan ini. Namun 30 juta itu uang yang banyak."
"Aku ikhlas memberi untuk panti asuhan ini, Ar. Aku merasa ikut bagian dalam kehidupanmu. Maaf ya kalau aku sangat lancang."
"Ai, kau sudah terlalu baik bagiku."
"Memangnya salah berbuat baik untuk gadis yang aku cintai? Kau telah memberikan aku arti cinta yang sebenarnya, Ar." Aithan memegang kedua tangan Argani. Menatap gadis itu dengan penuh kesungguhan hati. Dan saat wajah mereka menjadi begitu dekat, Argani tiba-tiba menjauhkan wajahnya.
"Jangan, Ai. Nanti ada yang melihat."
Aithan mengacak rambutnya. Sebenarnya ia ingin mencium Argani namun apa daya, mereka berada di panti asuhan.
"Aku tidur dulu ya? Besok kita ke makam ibumu kan?"
Argani mengangguk. Aithan pun segera menuju ke kamarnya. Sedangkan Argani menuju ke kamar anak-anak perempuan. Di salah satu ranjang yang masih kosong ia membaringkan tubuhnya. Ya Tuhan, mengapa aku merasakan kalau cintaku semakin besar pada Aithan? Semoga kami akan baik-baik saja.
Tak lama kemudian Argani pun tertidur. Sangat nyenyak. Ia rindu dengan kamar ini.
***********
Apa yang akan terjadi saat mereka di Indonesia?
dukung kami terus ya guys
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
gia gigin
Next
2022-12-24
1
Sunny
walaupun dgn bhs sunda yg kaku..gpplah mb enny😊
2021-12-03
0
Clairine Naura
kau membuatku meleleh....
manis ....lanjut mba
2021-10-18
1