Pesawat yang membawa rombongan basket itu akhirnya tinggal landas. Argani menatap pesawat itu dengan perasaan yang tidak ia.mengerti. Apakah keputusannya ini sudah benar atau tidak, Argani berusaha mengikuti kata hatinya. Ia pun membalikan badannya, meninggalkan bandara dan menunggu bis untuk kembali ke asramanya. Argani merasa lega karena akhirnya ia bisa mengambil keputusan.
Di dalam pesawat, Aithan membuka amplop berwarna putih itu. Ia menarik napas panjang sebelum membuka lipatan kertas itu. Perlahan, ia mulai membacanya.
Aithan, terima kasih karena selama 6 bulan ini sudah membuktikan padaku bahwa kau mampu menuruni banyak tangga untuk bisa mendapatkan cintaku. Aku tahu kau serius melakukannya. Aku bahkan mendengar kalau selama 2 bulan ini kau bekerja di sebuah cafe hanya karena ingin membelikan sebuah hadiah ulang tahun untukku. Walaupun aku tak tahu apa yang kau belikan namun aku pasti akan menyukainya. Itu hasil keringatmu sendiri.
Aithan, sejujurnya aku sudah menyukaimu sejak awal kau menyapaku di taman itu. Namun, aku takut dipermainkan, aku takut kalau kau hanya menyukaiku sesaat dan dengan mudah nya akan berpindah ke lain hati.
Aithan, perbedaan sosial kita bagaikan bumi dan langit, aku tak tahu apakah aku akan tahan dengan cibiran dan hinaan orang padaku saat bersamamu. Namun, sejak kemarin, aku sudah memantapkan hatiku. AKU MENERIMAMU UNTUK MENJADI PACARKU. Apakah kisah kita ini akan berjalan mulus, atau akhirnya suatu saat nanti kita berpisah, untuk saat ini aku tak mau memikirkannya. Mari kita biarkan semuanya berjalan seperti air yang mengalir. Oh ya, selamat bertanding ya? Maukah kah kau mencetak 27 poin untukku? mengapa 27? Karena kau sudah melakukan 27 hal yang tidak ada hubungannya dengan kekayaan keluargamu.
Salam dariku yang pasti akan merindukanmu.
ARGANI
"Yes.....yes....Yes......!" teriak Aithan membuat semua temannya yang ada dalam pesawat terkejut saat melihat cowok itu membuka sabuk pengamannya dan melompat kegirangan.
"Aithan, ada apa?" tanya Reza sambil menepuk pundak sahabatnya.
"Dia menerima cintaku!" ujar Aithan sambil mencium surat itu berulang kali.
"Dia siapa?" tanya Adolf, pemain basket yang lain.
"Bidadariku!" ujar Aithan lalu kembali duduk. Ia harus menahan dirinya selama 2 minggu untuk bisa bersama Argani.
Darren mengusap dadanya yang terasa sesak. Ia akan menemui Argani saat mereka kembali ke London nanti.
*********
Sebuah kalung emas dengan liontin bunga matahari, merupakan hadiah yang diberikan Aithan padanya. Kalung emas ini memang sangat halus. Liontin nya juga tak begitu besar. Namun terlihat sangat indah di leher Argani. Ia tersenyum menatap kalung itu yang kini melingkar di lehernya.
Argani baru saja pulang kuliah. Ia baru menyadari bahwa sejak tadi ponselnya kehabisan daya. Baru 5 menit ia menghidupkan nya, masuklah pesan beberapa pesan. Salah satunya dari Aithan. Senyum di wajah Argani langsung mengembang saat ia membuka pesan dari pria itu.
Pacarku, bolehkan aku memanggilmu seperti itu? Apa kabarmu hari ini? Sejak tadi aku mencoba menghubungimu namun ponselmu tak aktif. Berjuta-juta rasa rindu untukmu.
Argani pun membalasnya :
i Miss you too
Hati Argani langsung berbunga-bunga. Benarlah apa yang orang katakan. Jatuh cinta membuat hati selalu gembira.
Gadis itu pun mengambil beberapa bukunya. Ia akan kembali belajar. Sebagai seorang mahasiswa yang mendapatkan beasiswa, ada standar nilai yang harus Argani raih jika tak ingin beasiswanya menjadi hangus.
2 Minggu kemudian....
Kabar kemenangan tim basket universitas tempat Argani berkuliah menjadi berita viral pagi ini.
"Tim basket universitas kita baru kali ini memenangkan pertandingan antar universitas. Tahun kemarin hanya sampai di perempat final, 2 tahun yang lalu hanya sampai di babak 16 besar. Aithan adalah pencetak gol terbanyak di setiap pertandingannya. Ia selalu mencetak 27 poin. Aneh juga ya, seolah angka 27 menjadi angka keramat baginya." Ujar Lea saat mereka berdua sedang menikmati makan siang di kantin.
"Oh ya?"'Argani pura-pura terkejut.
"Kamu nggak menonton pertandingan mereka?"
"Ada." Mana mungkin aku melewatkannya.
"Aku semakin suka dengan Aithan Cainio."
Argani menatap wajah sahabatnya itu. "Kau sekedar kagum padanya atau kau sungguh jatuh hati padanya?"
Lea tersenyum. "Sudah kukatakan kalau orang biasa seperti kita, cukup mengagumi mereka saja karena mereka tak mungkin jatuh cinta pada kita, secantik apapun kita. Lagi pula, aku sudah jadian dengan Leon."
Mata Argani berbinar. Ia tahu Leon. Kakak tingkat mereka. Mahasiswa asal Filipina.
"Leon yang cool itu? Bagaimana kau menaklukannya?"
"Dengan ciuman. Aku memberanikan diri mencium dia lebih dahulu saat kami berada di kelas yang kosong. Aku tahu Leon pemalu. Akhirnya, dia menyatakan perasaannya padaku. Semalam aku tidur di asramanya."
"What?"' Argani terkejut.
Lea tersenyum malu. "Aku tak bisa menahan diri ku, Ar. Leon sangat lembut. Kami sama-sama belum pernah melakukan itu. Rasanya sangat indah."
Argani tak ingin menghakimi Lea. Ia tahu kalau budaya di sini, menganggap hal itu wajar.
"Kau harus hati-hati. Bagaimana kalau kau hamil?"
"Tenang saja. Leon menggunakan pengaman."
Argani sejenak terdiam. Apakah gaya pacarannya dengan Aithan akan seperti itu? Bukankah Aithan adalah pria yang dibesarkan di budaya yang demikian?
"Ada apa, Ar?"
Argani menggeleng. Inilah yang ia takutkan saat harus pacaran dan jatuh cinta.
**********
Pesawat mendarat dengan mulus. Para penumpang nampak lega. Setelah melalui perjalanan yang cukup melelahkan selama berjam-jam, akhirnya mereka tiba kembali di London.
Aithan nampak tak sabar menuruni tangga pesawat.
"Pangeran, ada apa terburu-buru?" tanya Darren sambil berbisik.
"Aku sudah tak sabar ingin ketemu Argani."
"Tapi ini sudah jam 1 tengah malam. Mungkin gadis itu sudah tidur."
"Tadi aku mengirim pesan padanya. Aku memintanya untuk menungguku."
"Mungkin dia sudah ketiduran. Kasihan kan jadwal kuliahnya selalu padat."
Aithan seakan tak memperdulikan perkataan Darren. "Kamu urus bagasi ku ya? Aku pergi dulu. Tio ada di luar menjemput ku."
Tio yang sudah menunggu Aithan di halaman parkir segera membungkuk pada pangerannya itu. Aithan langsung duduk di belakang kemudi dan Tio duduk di kursi penumpang. Lelaki gemulai itu memegang sabuk pengamannya dengan kuat saat sang pangeran sudah menekan pedal gas dan mobil melesat dengan kecepatan tinggi.
Akhirnya mereka tiba di apartemen Aithan yang ada di depan asrama Argani. Pria itu ternyata ke kamarnya dulu. Ia mandi secara cepat dan ganti baju, lalu segera menelepon Argani..Baru dua kali berbunyi, Argani sudah menerima panggilannya.
"Kau sudah tidur? Apakah aku menganggu mu?" tanya Aithan.
"Nggak. Aku masih menunggumu."
"Boleh aku ke asrama mu?"
"Eh, jangan. Kita ketemu saja di luar. Aku akan turun."
Aithan merasakan sedikit gugup, senang, kangen, semua perasaan itu bercampur aduk. Selama 2 minggu ada di London, komunikasi mereka sangat terbatas karena jarak waktu yang berbeda. Aithan juga tak ingin menganggu waktu belajar Argani.
Terlihat Argani keluar dari pintu masuk asrama. Gadis itu menggunakan celana jeans dan mantel yang dibelikan Aithan saat mereka ke panti asuhan.
"Hai....!" sapa Aithan sedikit gugup.
"Hai juga." Argani pun merasakan gugup yang sama.
"Aku....." Sial! Mengapa aku harus segugup ini bicara dengan seorang gadis?
"Selamat atas kemenangan tim kalian." ujar Argani sambil mengulurkan tangannya.
"Terima kasih." Aithan menyambut tangan Argani dengan perasan yang bahagia. Ada getar aneh yang sama-sama mereka rasakan saat kulit tangan mereka saling bersentuhan.
Tangan mereka masih saling berpegangan. Aithan maju satu langkah sehingga memangkas jarak diantara mereka. "Aku merindukanmu." katanya lembut dengan suara yang sedikit bergetar.
Argani yang tadinya menunduk kini mendongak karena tingginya hanya sampai di bahu Aithan. Saat tatapan mata mereka bertemu, senyum keduanya sama-sama menghiasi wajah mereka. Tak peduli dengan angin yang bertiup kencang karena musim gugur yang telah tiba, keduanya saling berpandangan.
Aithan meraih kedua tangan Argani. Menggenggamnya erat. "Terima kasih karena mau menjadi pacarku."
Argani hanya mengangguk.
"Besok kan hari Sabtu, apakah aku boleh mengajakmu berkencan?"
Gadis itu kembali mengangguk.
Aithan menarik napas panjang. "Boleh aku memelukmu?"
Mata Argani membulat. Dan sebelum ia berkata apa-apa, Aithan sudah memeluknya. Pelukan pertama Argani dari seorang pria. Hangat, lembut dan mendebarkan. Argani dapat merasakan kalau Aithan mencium puncak kepalanya. Hati Argani diliputi perasaan bahagia. Jatuh cinta memang sangat menyenangkan.
Agak lama Aithan memeluknya, sampai akhirnya pria itu melepaskan pelukannya. "Ini sudah tengah malam. Kita ketemu besok, ya? Jam 8 pagi aku akan menjemputmu di depan kamarmu."
"Jangan! Tunggu saja aku di tempat biasa."
"Hei, kita kan sudah resmi pacaran. Kenapa juga harus main sembunyi-sembunyi?"
"Aku malu..."
"Apakah aku kurang tampan sehingga kamu malu untuk bersamaku?" tanya Aithan dengan mimik wajah yang lucu.
"Hei.....!" Argani mencubit pinggang Aithan. Keduanya tertawa bersama.
"Aku bahagia. Sangat bahagia." Aithan membelai wajah Argani dengan punggung tangganya.
"Aku juga bahagia."
Aithan kembali membawa Argani ke dalam pelukannya. Tak ingin rasanya ia melepaskan gadis itu.
Dari jauh, Darren dan Tio memperhatikan pasangan kekasih itu.
"Bagaimana menurutmu, Tio?" tanya Darren.
"Pangeran terlihat sangat bahagia. Ini bukan sekedar perasaan cinta sesaat. Aku dapat melihat ada ikatan yang kuat diantara keduanya.
"Jadi?"
"Pisahkan mereka sebelum ibu suri membunuh kita, Darren."
"Dan kita akan membuat pangeran terluka?"
"Pangeran pasti akan menemukan gadis lain. Dia pasti akan mendapatkan pengganti Argani."
Darren mengangguk.
*********
Baru saja jadian, sudah mau dipisahkan....
Darren dan Tio keterlaluan...!
Dukung terus ya guys...
Amanda.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
gia gigin
Darren, Tio awas aja klau kamu coba untuk memisahkan mereka, krn aku orang pertama yg akan membela🤣🤭
2022-12-23
1
Frisky cipan
udh nyes aja🥺🥺🥺
2021-12-22
0
Ety Nadhif
judule,,,cinta yg tak tergapai
2021-12-13
0