Tiba dirumah, Bram sedang main game bersama kembar dengan begitu asyiknya, hingga tak menyadari kedatangan Nana dan maliq.
"Mas!" teriak Nana, yang duduk tepat ditengah mereka yang sedang asyik.
"Astaga, Nana lihat tuh, Mas Bram jadi kalah kan. Hadeeeh, Nana nih."
"Lah, kok Nana? Aaah, ngeselin... Pindah kamar aja deh." ucap Nana yang kesal.
"Nah loe... Kan, Nana ngambek. Hayo lah." Bayu menggoda Bram yang sama kesalnya dengan Nana.
"Sensitif... Gitulah, kalau cewek lagi Haid, nanti bisa ngomel-ngomel sendiri seharian." ujar Bram.
"Kok tau?" tanya Adi.
"Siska dulu sering gitu. Huftzzz, kan inget Siska." Bram, yang tiba-tiba langsung murung.
"Kenapa ini?" tanya Maliq, yang baru masuk kedalam rumah.
"Nana ngambek, tapi kata Mas Bram itu biasa kalau cewek lagi Haid." jawab Bayu.
"Lah, terus?"
"Tiba-tiba, Mas bram keinget Siska. Jadi gini deh." sahut Adi.
"Mabar yok?" ajak Maliq , untuk mencairkan suasana.
Bram kembali tersenyum, dan menerima tantangan Masnya itu. Mereka bermain bersama dengan begitu bahagianya, karena itu termasuk moment langka bagi mereka setelah mulai bekerja.
Sementara itu, Si bungsu dikamar sedang kebingungan dengan cara memasang pembalutnya, hingga kebingungan dan beteriak dari dalam kamar.
"MAAAS!"
"IYA." ucap Empat punggawa itu secara bersama'an, lalu berlari serentak menuju kamar Nana.
"Apa?" tanya mereka.
"Nana bingung mau masang ini," ucap Nana, menunjukan pembalutnya.
"Astaghfirullah...." Ucap Bram yang langsung memejamkan matanya, sedangkan Adi dan Bayu hanya melotot dan saling lempar pandang, dan Maliq memijat dahi nya.
"Na... Coba panggil temen cewek Nana kesini, kalau engga... Video call Ibu deh." ujar Maliq.
"Owh, baiklah. Derita Nana yang Masnya cowok semua, sehingga tak punya roll model. Andai saja, Nana punya....."
"Ehmmmm, Na, cukup... Ngga usah ngeromet lagi. Panggil aja temen Nana."
"Sahabat Nana pun, kalau hari minggu gini paling lagi jalan sama pacarnya." tukas Nana.
"Panggil aja sekalian pacarnya, biar kita ajak Mabar." sahut Bayu, sedangkan Bram hanya diam.
Setelah itu, Maliq dan yang lain pergi dan kembali pada permainan mereka, dan Nana menghubungi Riana untuk memberi pelajaran mengenai moment ini padanya. Tak butuh waktu lama, Riana pun datang bersama Frans dengan motornya.
Frans memencet bel, lalu dibuka oleh Maliq.
"Assalamu'alaikum, Mas. Nana ada?" tanya Frans.
"Ada, kenapa?" tanya Maliq, dengan nada datar.
"Tadi dia nelpon, katanya nyuruh kesini."
"Nana saya suruh minta tolong temen cewek, kenapa kamu yang dateng?" omel Maliq.
"Mas... Frans sama Riri."sahut Riri yang mucul belakangan.
"Kok Riri bawa-bawa Dia?" tanya Maliq.
"Kebetulan, tadi emang lagi jalan bareng, terus Nana nelpon. Jadi sekalian aja kesini bareng."
"Hey, Ri. Hay Frans..." sapa Nana.
"Mas, ngga perlu wawancara lagi. Nanti Nana keburu pendarahan." ucap Nana seraya menarik tangan Riri untuk masuk kekamarnya.
"Kamu...." tunjuk Maliq pada Frans.
"Iya, Mas. Kenapa?"
"Tunggu disini, jangan ikut kekamar."
"Ya iyalah Mas, kan belum muhrim ...."
"Apa? Belum muhrim?" tukas Maliq dengan membulatkan matanya.
"Canda, Mas....." balas Frans.
"Hey kalian.... Kenapa lama sekali, ayo main lagi." teriak Bayu.
Fransa yang melihat Maliq tegang, mulai mencoba mencairkan suasana dengan mengakrabkan diri pada mereka, lalu menjawab tantangan untuk bermain bersama.
Sementara itu, kedua wanita yang mulai beranjak dewasa itu sedang asyik dengan dunianya. Riana dengan begitu telaten menjelaskan Satu persatu cara merawat diri ketika sedang Haid para Nana. Dan Nanapun memperhatikan itu dengan begitu baik.
"Gimana, ngerti? Gampang kok, masa ngga ngerti?"
"Ri... Gue aja lihat beginian baru pertama. Ibu selama ini ngga ada sepanik ini kalau lagi Haid kayak gue."
"Ya, wajarlah Na. Ibu kan udah dewasa, udah terbiasa juga."
"Ibu terlalu terbiasa ngurus anak laki-laki, sampai mungkin lupa, kalau punya satu anak cewek yang butuh bimbingan seperti ini." ujar Nana.
"Ngga usah begitu, ibu udah begitu berusaha mengurus kalian sendiri, ditambah Ayah yang udah mulai sakit, jadi harap maklum aja. Kalau ada apa-apa, panggil gue aja."
"Iya, makasih... Loe memang sahabat terbaik gue, setelah Diah tumbang dan menyerah dengan semua ketidaknyamananya sama gue."
"Iya, gue bisa memahami gimana jadi loe, meskipun gue ngga punya kakak cowok." jawab Riana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 210 Episodes
Comments
Putri Auren
ini Riana yg nanti jadi istri mas maliq yaa...
kok mantan frans.
2022-05-16
1
Rina Indriyani
masa iya.. masangg pembalut aja g ngeh..
2021-11-08
1
Yani
😄😄😄😄😄😭Nana
2021-09-12
0