"Mas ngapain?" Nana yang ikutan celingukan disebelah Bayu.
"Nyari Nana lah, emang ngapa lagi? Malah nimbul dari belakang." jawab Bayu.
"Nana daritadi dibelakang, karena dari ruang guru. Ayo, pulang. Nana laper banget, pengen makan diluar ngga boleh sama Mas maliq."
"Boleh, kalau sama Mas bayu. Nana mau makan apa? Tapi jangan yang berat-berat, inget kesehatan." tegur Bayu.
"Iya, cuma pengen makan steak aja. Nana udah lama ngga makan itu." jawab Nana, dengan mengibaskan rambutnya yang terurai.
Dengan sigap, Bayu mengeluarkan karet rambut yang ada dikantongnya, dan mengikat rambut Nana dengan rapi. Bukan hanya Bayu yang menyimpan karet disakunya, tapi semua punggawa pun bersikap demikian. Ikat rambut Nana adalah sesuatu yang wajib dibawa sehari-hari, terutama ketika mereka sedang bersama Nana.
"Kan, udah dibilang. Kalau kesekolah, rambutnya diiket biar rapi." tegur Bayu.
"Nana males iket rambut disekolah. Tau sendiri, jidat Nana jenong kayak lapangan. Malu, Mas."
"Pakai poni?"
"Males... Kayak dora."
Selesai mengikat rambut Nana, Bayu menaiki dan memghidupkan motornya, dan Nana pun naik dibelakang.
Nana yang tahu jika akan dijemput menggunakan motor, sedia celana olahraga panjang yang dipakai didalam roknya, agar bisa naik dengan leluasa.
Sepanjang jalan mereka mengobrol, dengan serunya, membiacarakan berbagai hal yang membuat obrolan mereka semakin menarik, dari pelajaran, cinta dan semuanya.
Bayu terkesan lebih care dengan Nana karena usia mereka yang tak begitu jauh berbeda, sehingga dari semua segi pembicara'an, bisa langsung dibalas oleh Bayu dengan baik.
Mereka tiba disebuah cafe milik teman Bayu, dan mulai memesan makanan sesuai yang mereka inginkan. Kali ini Nana dimanjakan oleh Bayu meski masih mengontrol dengan ketat apa yang harus dikonsumsinya. Tapi, Nana begitu menurut dengan Masnya, sehingga menjadi lebih mudah.
Nana menikmati makanan yang sudah dipesan Bayu dengan lahap.
"Mas, abisin. Nana kenyang. Lagian ngga boleh makan beginian banyak-banyak." Nana memberikan makananya yang tak dihabiskan.
"Sudah Mas duga. Untung saja Mas ngga pesen makanan, demi nerima sisa makanan Nana. Meskipun ini kurang banyak buat Mas. Tapi mau nambah malu." Bayu, mulai memakan steak Nana.
"Mas, kangen Ibu." ujar Nana.
"Ya, bentar lagi kan Ibu pulang."
"Andaikan bisa, mau nyusul aja." ucap Nana.
"Ngga boleh gitu. Sabar, bentar lagi kenaikan kelas. Mas aja baru mau masuk magang dikantor Mas bram." jawab Bayu, yang beru selesai makan.
"Iya, Enak dong Bisa bebas."
"Mana ada, itu Mas minta sama Mas bram, biar identitasnya tersembunyi."
"Hmmmm?" heran Nana.
"Iya, kalau ngga gitu, perlakuan mereka aneh nanti. Masa iya, Mas bayu magang tapi diperlakukan kayak Bos, kan ngga asyik. Dah yok, pulang. Sejujurnya, Mas masih laper. Tapi lamjutin dirumah aja." ucap Bayu, dengan meletakan selembar uang Seratus ribu dimeja.
Perjalanan mereka kini semakin seru, karena ditemani rintikan hujan yang mengguyur tubuh mereka. Nana memeluk Bayu dengan erat karena kedinginan. Dan Bayu memegangi tangan Nana yang mulai gemetar.
"Mas... Baju Nana putih, transparan." teriak Nana.
Seketika Bayu turun, dan membuka jaket levisnya untuk Nana, lalu memakaikanya pada Nana.
"Ma'afin Mas ya dek. Besok-besok, kalau mau jemput bawa mobil aja. Kalau begini, Lara bisa demam. Maes emang ceroboh." sesal Bayu.
"Ngga papa, Nana seneng ujan-ujanan. Kalau sama Mas Maliq atau Mas bram, pasti ngga boleh." ucap Nana dengan berlarian dibawah tintinkan hujan yang semakin deras dengan begitu gembiranya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 210 Episodes
Comments
Dwi Hartati08
serasa jadi nana.... suka banget....
2022-05-30
0
Yani
Author typo tu siapa lara 😄😄😄
2021-09-12
1
Siti Syahara Binggun
lara tuh siapa siih author..banyak udh sebutannya nana di panggil lara..🤫
2021-08-29
3