Maghrib tiba, ketika mereka semua berkumpul dirumah. Mepaksanakan Shalat maghrib bersama diruang khusus mereka shalat. Disanalah, mereka akan melakuan sebuah kegiatan, sejenis sharing kecil antar anak-anak dan orang tua. Tapi, untuk sekarang, Maliq lah yang tertua disana, dan memimpin semuanya.
"Hari ini, apa yang kalian alami, ceritakan. Agar ada solusi dari semua masalah." ucap Maliq.
"Bram, putus dari Siska." jawab Bram, dengan tertunduk lesu.
"Kenapa?" tanya Maliq.
"Dia, minta dinikahin." sahut Bayu.
"Kalau kamu serius, ya lamar. Nikah sama Dia, kenapa ditunda." balas Maliq.
"Bram ngga mau ngelangkahin Mas Maliq. Terus Siska ngga mau, nanti diribetin sama urusan Bungsu kita." ucap Bayu lagi. Sementara Bram masih tertunduk, karna sungkan untuk bicara.
"Bukankah, kata Ibu, kita harus berurutan dalam melakukan semua hal. Bram hanya ingin menjadi anak yang baik yang menuruti Ibu." jawab Bram.
"Bram, kamu sudah dewasa. Kamu bisa mencari keputusanmu sendiri, jangan semua tergantung kami. Jangan pula terlalu fokus menunggu Mas, karna Mas masih ingin fokus dengan Nana. Begitu juga yang lain, Bayu, Adi, kalau memang ada jodohnya, ya segerakan." ucap Maliq.
"Mas sudah mengorbankan semua untuk kami lebih dulu, masa hanya kami tak sabar menilah, kami nyalip Mas begitu jauh. Prinsip kami, kita samakan kayak Mas Maliq aja. Pokoknya, cari istri yang mau nerima kami apa adanya. Terlebih lagi, mau membantu merawat Nana." ucap Adi.
Mereka sejenak diam, seraya menganggukan kepala menyetujui semua perkata'an Adi. Begitupun maliq, yang makin terharu dengan keputusan semua adiknya itu, serta rasa bersalah yang menggelayut, karna seolah menghalangi jodoh mereka.
"Apa semua, gara-gara Nana?" sahut Nana yang baru selelsai berdo'a dan duduk disamping Maliq.
"Iya, ini semua gara-gara Nana. Nana yang hadir ditengah kami, dan harus menjadi tanggung jawab kami. Nana harus tahu dan faham, kalau kami semua berkorban demi kebaikan Nana, disela kami mencari jati diri kami." ujar Maliq.
Nana lalu mendekap Maliq, dan terisak didadanya.
"Ma'afin Nana, Nana cuma mikirin diri Nana sendiri. Ngga mau mahamin posisi Mas, yang selama ini perjuangin Nana."
"Udah ngga usah nangis. Kami begini karna keputusan kami sendiri, karna tanggung jawab yang kami pegang atas diri Nana." balas Maliq.
"Udah, kalau memang belum ada jodohnya, cari jodoh lain. Wanita banyak," sahut Bayu.
"Nana janji, ngga akan ngecewa'in kalian. Terutama Ayah dan Ibu."
"Iya, kami pantau janji Nana. Setidaknya, sampai Mas maliq sudah menikah, baru Nana bisa mulai mikir cowok." sahut Bram.
Mereka berpelukan, lalu sepakat agar tak terlalu membawa haru semua suasana ini, dan tetap semangat menjalani hari seperti biasanya.
🥀🥀
" Mas, bantuin Nana buat tugas, dong." pinta Nana pada Adi.
"Mana, biar Mas lihat dulu."
Adi yang lumayan jenius dari yang lain, membantu Nana mengerjalan tugasnya dan dengan penuh ketelatenan, Ia mengajari Nana agar segera mampu menyelesaikan tugasnya.
"Jadi, ini dibagi begini, baru dijumlahkan.... Loh, Nana malah tidur?" ucap Adi, yang tertegun melihat Nana tidur dibahunya.
"Na, bangun dek... Kok malah tidur, katanya mau ngerjain tugas?"
"Nana abis minum vitamin, malah ngantuk banget, apalagi abis makan. Tugasnya lanjutin besok deh, lagian dikumpulnya lusa." jawab Nana, tanpa membuka mata.
Adi menghela nafas, lalu menghembuskannya kasar. Ia menyingkir peerlahan, lalu menggendong Nana keluar kamarnya.
"Nana kenapa Di?" tanya Maliq.
"Belajar, malah ketiduran. Mau pindahin kekamar dulu." jawab adi.
"Owh, oke... Hati-hati," pesan Maliq, yang masih asyik dengan laptopnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 210 Episodes
Comments
afikamanisih Manisih
q jd keinget cuplikan ntah film cina judulnya ap, kakanya 4 atau 5 gtu cowok semua udh ganteng2 tinggi2 pula, yg bontot cewek mungil gtu
2022-12-24
0
Dwi Hartati08
aku suka² banget sama kumbara family
2022-05-30
0
Maulida Umaya S
terharu
2022-03-03
0