Keesokan paginya, semua berjalan seperti biasa. Nana pun kembali dengan cerianya, seperti tak terjadi apa-apa diantara mereka kemarin.
"Pagi, Mas." sapa nya pada yang lain.
"Pagi, cantik. Udah siap?" tanya Bayu.
"Udah, sarapan aja lagi." Jawab Nana.
"Nana mau diantar siapa hari ini?" tanya Maliq.
"Mas ngga nganter? Kalau ngga, sama Mas adi aja, mau?" sahut adi.
"Mas lagi ngga bisa, ada pertemuan pagi-pagi. Ini aja buru-buru rasanya." balas Maliq.
"Siapa aja deh, yang penting ngga telat. Soalnya ini udah agak siang." jawab Nana, sembari menyelesaikan sarapanya.
"Yaudah, ayok cepet." balas Adi, dengan meraih piring Nana, lalu menyuapinya.
"Nih, vitaminya." ucap Bram dengan menyuapkan sesendok vitamin untuk Nana.
"Uluh, Tungga dewinya rumah ini. Apa-apa dilayanin, semuanya diturutin." ledek Bayu.
"Iya dong, kan cewek satu-satunya." jawab Nana dengan menjulurkan lidahnya.
"Udah, jangan saling ledek. Nana, sekolah cepet. Ini udah jam berapa, nanti Nana telat lagi, terus dihukum." tegur Maliq.
Nana langsung berdiri begitu juga adi yang akan mengantarnya. Nana mencium tangan Mas nya satu-persatu.
"Hati-hati, baik-baik, dan sampai bertemu nanti siang, sayang." ucap Bayu pada Nana.
***
"Aduh, Mas... Kayaknya Nana udah telat nih, gimana?" ucap Nana yang melihat sekolahnya telah sepi.
"Gimana, mau Mas temani masuk?" tanya Adi.
"Hmmm, ngga usah deh. Palingan kalau dihukum, bates hormat bentar disamping tiang bendera." jawab Nana, lalu turun dari mobil dengan mencium tangan Adi.
"Yaudah, Nana hati-hati, nanti kalau ada apa-apa hubungi Mas aja." balas Adi, kemudian melaju pergi dengan mobilnya.
Nana berjalan cepat, mengejar keterlambatanya sembari berdo'a agar gerbang belum ditutup. Namun, do'anya meleset.
"Pak, Pak tono tolong bukain gerbangna, please...." bujuk Nana pada Satpam sekolahnya.
"Mba Nana kenapa telat? Tumben."
"Nana kesiangan, Bapak. Tolong dong, bukain. Kan telatnya ngga lama."
Pak satpam akhirnya luluh, dan membukakan pintu gerbang untuk Nana. Tapi na'as, sang kepala sekolah killer datang sebelum Nana masuk.
"Kenapa baru datang?"
"Telat sedikit, Bu, ma'af." jawab Nana.
"Kalau sampai saya datang tapi kamu belum masuk, tandanya kamu sudah telat sekali. Saya hukum kamu berdiri dilapangan dan hormat pada bendera."
"Tapi Bu, Nana ngga bisa seperti itu, karena-..."
"Udah Pak tono. Sesekali saya jalanin hukuman semestinya." jawab Nana dengan kesal.
Lara meletakan tasnya dipos satpam, lalu berjalan menuju tengah lapangan dan berdiri didekat tiang bendera. Lara memulai posisi hormatnya, dan mendongakan kepalana kepada Sang saka merah putih.
"Hanya sebentar, masa ngga bisa. Berjemur seperti ini akan sehat bagi tubuh." gumamnya dalam hati.
Keringat mulai mengalir diwajah Nana, tubuhnya mulai gemetar, namun masih bisa Ia tahan.
"Frans, itu kok Nana dihukum begitu, Nana kan ngga boleh kecape'an." ucap Riana pada Frans, yang sedang berada teras kelas mereka.
"Iya, sepertinya Nana telat. Terus, gimana?" tanya Frans.
"Bisa tolong payungin? Aku mau ke Kepsek sebentar," ucap Riana.
Frans pun menurut, lalu menghampiri Nana dengan membawa sebuah buku, dan memayungkanya pada Nana.
"Pasti panas kan? Tumben telat?" tanya Frans.
"Frans, kok kesini?" tanya Nana, dengan heran dan hati berbunga-bunga.
Tuuuuk!! Fran menyentil jidat Nana.
"Riana yang nyuruh, Dia lagi kekepsek sekarang. Dasar, kepsek tengil, ngga tahu siapa Nana." ucap Frans, dengan senyumnya yang mengejek.
Tak lama kemudian, Sang kepala sekolah datang dengan menundukan wajahnya, dan raut wajahnya yang memerah.
"Nana... Kamu, boleh masuk kelas, hukuman kamu dicabut." ucapnya, kikuk.
"Kenapa? Sudah puas dengan kewibawa'an Ibu?" tanya Nana.
"Ma'af, saya hanya takut, jika sakitmu kambuh."
"Bukan karena takut dipecat Mas maliq?" tanya Nana.
"Ia, ma'af, saya ngga tahu kalau kamu adalah adik kandung pemilik yayasan disekolah ini."
"Nana ma'afin Ibu, setidaknya Ibu sudah berusaha menegakan peraturan sekolah akan kedisiplinan. Meskipun Ibu sendiri belum disiplin." ucap Nana, lalu pergi meninggalkanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 210 Episodes
Comments
afikamanisih Manisih
nana kak bukan lara
2022-12-24
0
Dwi Hartati08
kalo Nana pingsan gimana Bu kepsek? mau jadi orak arik Anda?
2022-05-30
0
Yani
Nana benar"berutung punya sabat begitu perhatian
2021-09-11
0