"Mas maliq," panggil Nana, pada Masnya yang sedang asyik dengan laptopnya.
"Iya, kenapa?"
"Temenin Nana belanja yok."
"Belanja apa? Biasanya sama Bram?"
"Nana mau beli stok pembalut, kata Ibu suruh beli itu." ucap Nana, yang sontak membuat Maliq salah tingkah.
"Ke~kenapa sama Mas?" tanya Maliq
"Ya... Beginilah nasib Nana yang bungsu dan satu-satunya wanita disini. Meskipun semua tersedia, tapi seolah Nana kurang perhatian. Andai saja, Nana punya Kakak ipar, Pasti~"
"Stop Nana... Ayo kita pergi. Mas ganti pakaian dulu." potong Maliq.
Nana tersenyum devil, puas seketika merajai hatinya. Maliq memang tak pernah bisa menolak Nana, begitupun Nana yang sulit menentang maliq.
Tak berapa lama kemudian, Maliq keluar dengan jaket kulit dan celana jeans hitam, menambah kesan Manly nya. Ditambah gaya rambutnya yang rapi berponi.
"Subhanallah, Mas ku ganteng banget ?" kagum Nana.
"Ganteng ganteng Jomblo akut. Hahahah.... Udah ah, ayo pergi." Maliq menggandeng tangan Nana, dan kali ini menggunakan motor sport kesayanganya.
Mereka menuju sebuah supermarket besar tempat mereka biasa belanja bulanan bersama Sang ibu. Lalu Nana membawanya ketoko yang menyediakan semua keperluan wanita. Tanpa risih sedikitpun, Maliq mengikuti Nana dari belakang, dan membawakan keranjang belanjanya.
"Kata Ibu, suruh belanja daleman sekalian." ujar Maliq.
"Iya, ngga usah keras-keras. Kan malu dilihat orang, dikiranya Nana jalan sama Om Om lagi."
"Makanya jangan sama Mas perginya. Mas kan seumuran Om Om sayang." ucap Maliq semakin kencang, dan sontak membuat wajah Nana memerah.
Nana mengambil beberapa pcs pembalut dari berbagai merk dan ukuran, lalu memasukan kekeranjangnya. Tak lupa membeli beberapa produk skincare untuk perawatan wajahnya, karena Ia mulai merasa sudah memerlukanya sekarang.
"Tumben, beli ini? Bisa makainya?" tanya Maliq.
"Bisa... Nanti lihat youtube lah, kan banyak tutorialnya. Mas bayar ya, Nana kebelet pipis." pintanya, lalu lari dengan terburu-buru.
Maliq dengan percaya diri membayar dimeja kasir, dengan semua perbelanja'an perempuan, hingga banyak orang menatapnya heran.
"Mas... Buat istrinya?" tanya seorang wanita.
"Bukan, saya jomblo. Ini buat~"
"Ah... Ganteng-ganteng belok. Jaman sekarang, ganteng dan gagah ngga jadi ukuran orang itu normal. Astaghfirullah." gumam Sang ibu, dengan mengelus dada.
Maliq hanya ternsenyum geli, dan menggaruk kepalanya, lalu melanjutkan pembayaran.
"Udah Mas?" tanya Nana.
"Udah, ayo belanja lagi, sesuai perintah Ibu." ajak Maliq.
"Ketoko underwear?" tanya Nana.
"Iya..." jawab Maliq dengan yakin.
Nana menggandeng Maliq memasuki toko pakaian dalam wanita. Maliqpun tercengang dengan apa yang dipajang dipintu masuk toko itu. Ya, sebuah pakaian yang sering dibilang baju haram oleh orang-orang, yang membuat Maliq terbelalak hingga menutup matanya.
"Nana sendirian, pilih sendiri, bayar sendiri. Mas nunggu disana." tunjuk Maliq, lalu lari terbirit-birit menghindari tempat itu.
Nana menggelengkan kepala melihat kelakuan Masnya, lalu berusaha acuh dan melanjutkan belanjanya.
Maliq duduk dengan kaki gemetar, mengusap wajahnya dengan kasar, dan beberapa kali mengucap istighfar. "Astaghfirullah... Itu tadi baju macam apa?" gerutunya.
Maliq menyandarkan kepala dikursi tunggu itu, dan memejamkan matanya sejenak mencoba melupakan penampakan tadi.
Salah satu teman Nana, yang lebih tepatnya musuh bebuyutan Nana disekolah yaitu Tasya, melihat Maliq lalu mendekatinya. Meskipun Ia musuh Nana, tapi Ia begitu menyukai Maliq, tapi Ia membenci Nana.
"Mas maliq sendirian?" tegur Tasya.
"Eh... Kamu teman Nana kan? Mas sama Nana, nemenin Dia belanja." jawab Maliq.
"Sambil nunggu... Tasya boleh nemenin duduk disini?"
"Hah? Kenapa, bukanya kamu lagi belanja?"
"Tasya belanjanya udah kok. Makanya mau ikut istirahat." ucap Tasya.
"Duduk aja, ini tempat umum kok." jawab Maliq.
Tasya dengan perasa'an bahagia dan berdebar-debar, duduk disebelah Maliq, makin lama makin mendekat hingga mepet, dan membuat Maliq risih. Untung saja Nana segera datang.
"Sayang... Ayo pulang." ajak Nana, dengan menarik Maliq dari duduknya, dan sontak membuat wajah dendam untuk Tasya.
"Awas loe disekolah besok." ancam Tasya.
Nana tak menjawab, hanya menjulurkan lidahnya dihadapan tasya, lalu pergi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 210 Episodes
Comments
Dwi Hartati08
mas malik masih polos amat ya
2022-05-30
0
Hera
jadi kesel si tasya nana panggil sayang sama maliq 😄😄
2022-02-06
0
Yani
Malik kalau udah nikah mah bikin melotot bukan tskut 😄😄😄
2021-09-12
0