Hari ini, Bram tak kalah sibuk dengan Mas maliq dalam mengurus perusaha'an Ibunya. Semua beban dan tanggung jawab ku bawa sesantai mungkin agar tak terlalu menekan fikirany. Meskipun tak sehebat Mas maliq, tapi Ia berusaha yang terbaik untuk perusaha'an ini.
"Huaaaah, selesai juga satu ronde pekerja'an ini. Telpon Bebeb siska ah," ucapnya dengan penuh semangat.
Di ambil Hpnya , lalu memencet nomor di urutan teratas nomor ponsel ya.
"Hallo, Sayang lagi apa?" sapa Bram.
"Hallo, Bram. Kebetulan nelpon, bisa kita ketemuan?" tana Siska padanya.
"Bisa dong, dimana?"
"Ditaman biasa. Aku tunggu kamu disana." ucap siska, lalu mematikan telepon.
"Bebi, kenapa denganya? Aneh hari ini."
Segera Bram bereskan meja, lalu berlari keluar menuju mobilnya. Dipacunya kencang mobil itu, menuju sebuah taman, dimana Ia dan Siska sering berkencan.
Lima belas menit Ia sampai, dan ternyata Siska sudah terlebih dulu berada disana, menunggunya sendirian. Duduk dengan begitu anggunnya, dengan rambut terurai panjang dan menggunakan dress pink kesuka'anya.
"Hey sayang... Tumben ngajak ketemuan siang-siang?" tanya Bram dengan ramah.
Siska hanya diam, menatap kedepan, entah apa yang Ia fikirkan.
"Bram..." panggilnya, dengan suara sedikit berbeda.
"Iya sayang, kenapa?"
"Bagaimana menurutmu hubungan kita?"
"Gimana apanya?" tanya Bram dengan santai.
"Kamu serius denganku?"
"Ya... Seriuslah, kita udah Dua tahun pacaran. Aku serius banget, bahkan udah ngenalin kamu sama ayah dan ibu, kan?"
"Kalau serius, nikahi aku...." ucapnya, dengan nada datar.
Bram terkejut, hingga tersedak dengan ucapanya itu. "Kenapa, bicara itu?"tanyaku pelan.
"Bram, aku ingin status yang jelas, bukan sekedar pacar. Sebagai pacarmu pun, aku merasa tetap menjadi nomor Dua dihati kamu. Aku ingin menjadi prioritas, Bram."
"Kenapa bilang begitu?" tanya Bram, dengan mata nanar.
"Aku lelah, ketika semua harus mengalah dengan Nana. Sedang bersamapun, harus rela ditinggalkan demi Nana. Nana tak harus dimanjakan seperti itu kan? Sampai harus menggeser posisiku. Terlebih lagi, ketika harus sabar menunggu Mas maliq menikah duluan. AKu capek, bahkan dia pacar aja ngga punya." keluhnya pada Bram.
"Jadi... Semua ini hanya karna cemburu dengan Nana, dan kamu ngga sabaran, Begitu?"
"Iya...."
"Bukan karna pria lain?" tanya Bram.
"Kalau kita putus, Mama akan menjodohkan aku dengan pilihanya."
"Oke, menikahlah denganya, semoga kamu bahagia nanti, dan bisa menjadi prioritas utama untuknya. Tap seperti aku dan kamu." jawab Bram, menahan perih di dada.
Plaak!! Siska melemparkan tasnya kewajah Bram.
"Hanya sebatas itu perjuangan kamu buat Aku, Bram... Kecewa aku!"
"Lah aku harus gimana? Pada dasarnya kamu yang ngga sabar. Kita sudah sering berbicara tentang ini semua, bukan?"
"EGOIS!" ucap Siska, Lalu berlari meninggalkan Bram yang masih duduk sendirian ditaman.
Bram masih diam, menahan sesak didada. Ia mengambil hpnya kembali lalu menhubungi Bayu.
"Halo, Mas... Kenapa?" tanyanya.
"Bisa ketaman, sebentar? Gue... Butuh bahu loe buat bersandar." pinta Bram pada Bayu, lalu mematikan telponya.
"Waaah, kenapa lagi ini? firasatku buruk. Cepetan kesana ah, takut kenapa-napa." gumam Bayu, lalu membayar minumanya dan pergi.
"Bay, mau kemana?" tanya Renita.
"Pergi bentaraan." balas bayu, sambil berlari tanpa menengok renita.
Bayu menyetir motornya kencang, agar segera sampai ditaman lalu segera menghampiri Bram yang termenung disebuah kursi sendirian. Menatap kosong pada rerumputan hijau, mendung, yang mungkin sebentar lagi akan badai.
"Mas... Kenapa? " tanya bayu perlahan duduk disampingnya.
"Huaaaa......!!! Siska mutusin Mas bay, cuma karna mau peratian lebih, dan ngga mau dinomor duakan sama Nana." tangisnya, dengan menyandarkan bahu pada Bram.
Bayu mengusap rambutnya dengan mesra, tak perduli banyak orang menatap mereka dengan tatapan yang aneh.
"Mas, kan udah ku bilang, kalau emang serius, nikah aja. Kenapa harus nunggu Mas maliq duluan. Coba bicara baik-baik pada ibu dan ayah, terutama Mas maliq. Pasti mereka mengizinkan kok." bujuk bayu.
"Biarlah, itu tandanya Siska memang bukan jodoh gue mungkin. Kalau memang cinta, pasti dia sabar, dan mau menerima semua ini." ucap bram, menegakan kepalanya, dan mengusap air matanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 210 Episodes
Comments
nowhere🌱
berarti emang si Siska nya aja yg gk pantes buat Bram, baru gitu doang udh nyerah marah-marah
2023-08-09
1
yuristian
wanita kaya gitu lebih baik di putusin saja bram
belum jadi istri saja hrs memprioritaskan dirinya dr pd keluarga mu
menikah itu bukan hanya menikahi kekasihmu saja tapi keluarganya juga
2023-03-15
0
Maulida Umaya S
sabar bram
2022-03-03
0