Ke'esokan harinya, Nana bersiap kesekolah, memakai seragam lengkap dan rapi dan menuju ruang makan untuk sarapan bersama para punggawanya.
"Pagi..." sapa Nana.
"Pagi tuan putri," balas Bayu padanya.
"Nana, Mas Maliq antar sekolah hari ini." ucap Maliq.
"Loh... Ngga diantara sama Pak bima?" tanya Nana.
"Engga, berangkat sama pulang, Mas Maliq yang langsung turun tangan." jawab Maliq, dengan meminum teh hangatnya.
"Mas Bram..." rengek Nana.
"Udah, nurut aja. Daripada nganu." bisik Bram.
Nana mengerutkan wajahnya, lalu memainkan makananya, seolah malas untuk menyentuhnya.
Adi meraih makanan itu, lalu menyuapinya. "Makan yang bener, jangan dibuang-buang. Nana ngga tahu, diluar sana begitu banyak orang yang kesulitan hanya untuk makan."
Suap demi suap Nana habiskan, hingga Maliq berdiri, dan mengajaknya berangkat. Diciuminya tangan punggawanya satu persatu, lalu berpamitan. Disusul Bram, Bayi dan Adi dengan aktifitasnya masing-masing.
"Di, sama gue atau bawa motor sendiri?" tanya Bayu.
"Bawa motor ajalah. Nanti mau ke Yayasan soalnya. Sekali-kali mampirlah kesana, lihatin perkembanganya."
"Lah, kenapa aku? Kan itu tanggung jawabmu. Aku sekarang sedang menikmati hari-hari menjadi pengangguran, sebelum diberi amanat besar seperti kalian." balas Bayu dengan bangganya.
"Pengangguran kok bangga Bay?" tegur Bram.
"Nanti, kalau aku sibuk kayak kalian, kita pasti akan susah ketemu. Mungkin dengan begini, Bayu bisa menjadi seseorang yang paling pertama dipanggil ketika darurat. Karna hari-harinya penuh dengan kekosongan." balas Bayu lagi.
Bram dan Adi hanya saling beradu pandang, dan menggelengkan kepalanya.
Bayu berjiwa bebas, tak ingin terlalu diatur, namun tetap menjaga diri dan patuh terhadap para punggawa yang lain, terutama Maliq. Bayu benar-benar patuh dengan Mas nya yang satu ini. Karna biarpun tegas, dan begitu dewasa, Maliqlah yang menjadi pelindung bagi adik-adiknya.
Didalam mobil terasa kikuk, Nana tak berani menengus Mas nya sa'at itu. Meskipun Nana paling dimanja, tapi tak seketika membuatnya besar kepala, dan masih tetap menghormati semua Kakaknya.
"Nana kenapa kekaroke kemarin?" tanya Maliq.
"Nana diajak temen. Mereka ngearayain ulang tahun pacar Dinda disana. Nana ngga suka disana tuh, ngajak Dinda keluar, dianya ngga mau. Akhirnya Nana keluar sendiri, eh malah digodain preman. Mas kenapa ngga mau dengerin penjelasan Nana dulu?"
"Bukanya ngga mau. Tapi Mas masih menahan emosi semalam, Ma'af. Mas terlalu marah ketika Nana diganggu oleh orang asing."jawab Maliq.
" Iya, Nana tahu. Tapi ngga segitu nya, Mas. Nana bisa jaga diri, Nana ngga selemah yang kalian fikir."
"Na... Nurut kali ini." tegur Maliq.
"Kalau gini terus, kapan Nana punya pacar. Temen-temen yang lain pada ngedate, Nana bengong sendirian." gerutunya.
"Jalan sama Mas aja, kalau mau jalan. Mas nya banyak, tinggal pilih."
"Mas, Maliiiq." rengek Nana kesal.
Maliq menghentikan mobilnya, lalu membukakan pintu untuk Nana keluar dari mobil.
Semua siswi yang menatap Maliq, menghentikan langkah mereka, lalu mengagumi ketampanan Punggawa pertama itu.
"Udah, ngga usah manja. Nana memang anak bungsu yang paling disayang. Tapi, Mas benci sama anak manja. Ayo turun, lihat, semua orang menyambutmu." ucap Maliq.
"Apanya nyambut Nana? Mereka semua itu lagi lihatin Mas maliq nya Nana yang tampan dan rupawan." jawab Nana.
"Owh... Begitukah? Yaudah, Mas mau langsung berangkat dulu. Ingat, jaga diri Nana baik-baik." pesan Maliq, lalu masuk kemobilnya.
"Na... Nana, itu siapa?" tanya Aya.
"Mas Maliq." jawab Lara
"Ya ampuuun, makin ganteng aja. Na, izinkan aku menjadi Kakak iparmu," rayu Aya, yang menggelikan Nana.
"Kalau kamu sampai bisa menaklukan hati Mas ku yang itu. Kamu akan jadi Kakak ipar pertamaku, dan menjadi istri Sang dierektur besar diperusaha'an kami." tantang Nana.
"Ya Allah... Pengen. Hatiku rasanya meleleh, ketika memandangnya." ucap Aya lagi, dengan menggandeng Nana masuk kekelas.
"Hey, anak orang kaya. Tebar pesona sama apa lagi sekarang? Barang baru yang mahal? Dandanan baru, atau apalagi?" tegur Dhea salah satu teman Nana.
"Apa urusan kamu, Dhe? Itu tadi cuma Mas ku yang nganterin. Kamu tahu, gara-gara kamu ngerjain aku kemarin, jadinya Mas maliq lebih protektif sama aku. Niatnya mau ngerjain biar aku dibully, eh malah kena bully." tawa Nana dengan riangnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 210 Episodes
Comments
Yani
Nana bersyukur loh punya kakak"yang perhatian dan sayang pake banget
2021-09-11
1
🌷💚SITI.R💚🌷
ayo nana semangat kakanya pd sayang bngt
2021-08-01
5
alvalest
maliq...
2021-07-29
3