Makan siang telah berlalu, setelah Sean mengatakan hal itu kepada Nara. Ia sedikit ada rasa menyesal kepadanya, Nara memilih duduk diam sambil menggendong Aren di dalam dekapannya. Sean curi-curi pandang saat Nara memejamkan matanya, rasa kantuk menyelimuti mata Nara ia pun terlelap tidur sambil mendekap tubuh kecil Aren.
Tidak terasa, mereka sudah tiba di depan rumah. Mamih Maria segera membuka pintu mobil dan beranjak turun, ia menyuruh Sean untuk membangunkan Nara.
"Sean, bangunkan Nara, Mamih rasa dia kecapean setelah seharian menemani kalian berbelanja. Aren biar Mamih yang bawa ke dalam kamar," ucapnya segera mengambil Aren secara perlahan supaya Nara tidak bangun, ia menggendong Aren ke dalam dekapannya.
Asisten rumah segera datang untuk membawakan mainan Aren dari dalam mobil. Belum juga Sean menolak untuk membangunkan Nara, tapi Mamih Maria sudah berlalu pergi. Sean berdecak kesal karena harus membangunkan wanita yang sangat dia tidak sukai.
Sean memutar ke depan, dan segera membuka sabuk pengaman Nara. Melihat Nara sedang tidur lelap Sean merasakan begitu damai melihatnya. Tapi berhasil Sean tepis, belum juga dia membangunkan'nya Nara sudah membuka mata. Ia mengerjap-rejapkan edaran pandangannya. Ternyata Nara tidak salah lihat bahwa Sean memang ada di hadapannya.
"Tuan, sedang apa?" tanya Nara mengerutkan keningnya.
"Cepat bangun dan pergilah, aku akan memasukan mobilku ke dalam garasi," cecar Sean memalingkan wajahnya.
"Maaf Tuan, saya ketiduran," sahut Nara segera turun dari mobil.
Nara tahu, pasti Aren sudah di bawa oleh Maria ke dalam kamarnya. Nara berniat untuk pergi menyusul ke kamar Aren, Nara masuk ke dalam rumah, ia langsung menaiki anak tangga. Tapi, langkah kakinya terhenti saat ada seseorang memanggil namanya. Siapa lagi kalau bukan Sean.
"Nara."
Nara segera berhenti melangkah, ia membalikan tubuhnya ke arah sumber suara. Sean menghampirinya dan segera mencengkram tangan Nara.
"Kau melupakan Dompetmu," bisiknya dan segera pergi dari hadapan Nara.
Nara hanya bisa diam, dia tercengang, bisikan suara Sean sangat nyaman di dengar olehnya. Baru kali ini Nara mendengar suara itu lembut tapi tetap saja kasar cengkraman Sean pada tangan Nara.
"Ya ampun, kenapa aku bisa lupa ketinggalan dompetku, hanya ini satu-satunya yang aku punya," ucapnya menepuk jidat dan segera beranjak ke atas melanjutkan niatnya.
Di kamar Sean.
Ia menerima pesan singkat dari Rachel, bahwa dia sudah ada di depan rumahnya. Sungguh ini hari terburuk yang pernah Sean alami, setelah dia pergi ke mall dan di ganggu oleh Mamih juga Nara. Sekarang dia harus menghadapi Rachel yang kini datang rumahnya.
"Ini pasti kerjaan Mamih, kenapa sih hari ini aku sangat sial," Sean berdecak kesal. Ia mengabaikan pesan singkat itu.
Ia berniat untuk berenang menghilangkan rasa penat yang melandanya. Sean pun beranjak pergi ke belakang untuk menenangkan hatinya yang saat ini sedang tidak baik-baik saja.
Di ruang tengah, Maria segera menuruni anak tangga, ia melihat Rachel sedang duduk menunggu Sean. Maria lupa, semalam Rachel berniat untuk datang ke rumahnya, mengingat dulu dia gagal bertemu Sean. Maria juga memberikan nomor ponsel Sean kepadanya.
"Tidak masalah, tapi aku akan tetap meykinkan Sean untuk menikahi Nara bukan Rachel," gumam Maria menyambut kehadiran Rachel.
"Kenapa aku lupa Rachel akan datang ke sini," batin Maria kembali ia tersenyum dan menyuruh Rachel duduk tetap duduk.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 149 Episodes
Comments
Eti
lanjuuutttkknn
2022-01-01
0
Linarusyanti 345
baru mampir thor .... ceritanya bagus
2021-09-17
0
Yani
alurnya menarik
2021-09-15
0