"Tuan, biar saya saja yang menidurkan kembali Den Aren," ucap Nara sopan sambil membungkuk sedikit.
"Baiklah, Aren sayang Nara sudah ada di sini kamu bisa tidur nyenyak," ucap Sean.
Seketika Aren melirik ke arah sumber suara, ia segera turun dari pangkuan Daddy-nya dan berlari menghambur ke pelukan Nara.
Nara segera menghapus air mata yang berlinang di pelupuk mata Aren. Ia memeluknya dan segera Nara mengajak-nya ke tempat tidur.
"Aren sayang, malam ini tidur kembali, besok kita main lagi. Cup ... cup ... cup ... sudah jangan menangis Nara ada di sini," seru Nara menidurkan Aren.
Aren pun tersenyum sambil memeluk boneka kesayangannya. Nara mengusap-usap kepalanya supaya Aren tidur dengan tenang, tangan Nara di genggam erat oleh Aren. Sean yang melihat hanya berdiam diri sambil memeluk dadanya dengan kedua tangannya.
"Maaf mengganggu waktu istirahatmu, kalau begitu saya pergi dulu. Aren memang selalu begini, tapi untuk malam ini kau sangat pintar membuat anakku tertidur kembali," ucap Sean memuji Nara.
"Ini sudah sebagian pekerjaan saya Tuan, sudah sepantasnya saya siap siaga sebagai pengasuh Den Aren," sahut Nara sambil mengelus Aren dengan lembut tanpa menoleh ke arah Sean.
Tanpa mengeluarkan sepatah-kata pun, Sean meninggalkan mereka. Ia akan membersihkan dirinya terlebih dahulu dan segera makan malam. Walaupun setiap malam dia makan sendiri, baginya selalu ada Angel yang terus menemaninya setiap malam.
"Angel, andai kamu ada di sini, anak kita tidak akan di asuh orang lain. Aku sangat merindukanmu, apa kau merindukanku juga? Dua tahun kau meninggalkanku dengan Aren. Aku belum bisa melupakanmu dalam hidupku, cintaku sangat besar padamu," ucap Sean mengusap photo pernikahan mereka yang terpajang di din-ding tembok.
Kedua orangtua Sean sudah berusaha untuk menjodohkannya dengan wanita lain yang lebih cantik dari Angel. Tapi Sean tidak melirik wanita itu sama sekali, baginya Angel akan selalu ada di hatinya. Kemudian Sean beranjak ke kamar mandi untuk segera menyegarkan tubuhnya yang sangat lengket.
Sementara di kamar Aren. Nara sudah berhasil menidurkan Aren yang sudah lelap dalam tidurnya. Hampir saja Nara ikut terlelap di dalam kamar Aren, ia beranjak untuk pergi meninggalkan Aren. Nara melihat jam sudah menunjukan jam sembilan malam, itu berarti Sean pasti sudah makan malam di bawah dan Nara pasti melewatinya. Ia sangat takut berhadapan dengan wajah datar juga dinginnya Sean, Nara pun menutup pintu secara perlahan dan segera membalikan tubuhnya.
Bugh ...
Nara menubruk tubuh kekar Sean yang sudah berdiri di belakangnya. Seketika juga Nara mengusap kepalanya yang terkena benturan tubuh kekar Sean.
"Ma-af Tuan, saya tidak sengaja," ucap Nara membungkukkan tubuhnya.
"Apa Aren sudah tidur?" Tanya Sean.
"Sudah Tuan, saya permisi," pamit Nara. Sean hanya mengedipkan bahunya dan segera turun menyusul Nara.
"Ya ampun, dia sangat dingin seperti es batu," gerutu Nara.
Sean pun pergi ke arah meja makan, Bi Karti sudah menyiapkan semuanya. Sean pun menarik kursi meja makan dan segera melahap makanannya seorang diri. Setiap malam baginya makan malam sendirian sudah terbiasa sejak kepergian Angel.
"Nara," pekiknya. Langkah kakinya terdiam diri di depan pintu kamar. Nara segera membalikan tubuhnya berjalan ke arah meja makan yang tidak jauh dari kamarnya.
"Iya Tuan." Sahut Nara.
"Besok kau harus menyiapkan sarapan untukku juga Aren. Tidak boleh telat, sekarang kau tidurlah takut kau nanti kesiangan," ujarnya dengan nada dingin dan melanjutkan kembali memakan-makanannya.
"Baik, Tuan," sahut Nara dan segera pergi.
Bi Karti tersenyum, Nara begitu sopan menanggapi sipat Taun Sean. Ia pun kembali beraktivitas membereskan dapur sebelum waktu tidur tiba.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 149 Episodes
Comments
Rhmad Flash
sos wet.biasa orang yg pmrh atau arogan kalau udah jth cinta.bocinnya Angga ketlngan
2024-02-05
0
Yuni MamaRizky
koyo es balokkkk
2022-04-27
1
💋👏
aren saja mudah luluh, semoga papahnya juga bisa luluh 🤭. Sean gk kesepian apa duda lama2 🤣🤣🤣
2022-03-26
0