Nara melihat Nyonya Maria pergi ke kamarnya dengan mata sembab efek menangis. Ia hanya bisa duduk di sambil menyaksikan Aren bermain dengan mainannya. Sean pun sempat mengejar Nyonya Maria akan tetapi tidak berhasil pintu kamar terkunci dan segera ia membalikan tubuhnya melihat ke arah ruang tengah. Ada Nara yang sedang asyik bermain dengan putranya. Dirinya berjalan ke arah mereka untuk mengajak Aren jalan-jalan, mumpung libur Sean akan menghabiskan waktu untuk bermain dengan Aren seharian ini.
Untuk masalah Mamih Maria, Sean bisa mengatasi semuanya. Karena sudah tahu sipat Mamihnya bagaimana, dia tidak akan lama-lama marah kepada putra kesayangannya. Sementara itu Nara hanya bisa duduk diam, Sean datang segera merangkul putranya.
"Sayang, apa kamu mau mainan banyak, Daddy akan membelikan'mu mainan baru yang lebih mahal," seru Sean mencium kedua pipi Aren.
"Hore, Daddy terbaik. Sama Tante Nara yah Dadd?" Pinta Aren melihat ke arah Nara yang sedang tersenyum manis.
Sean hanya bisa melirik sekilas karena di matanya Nara hanya pengasuh saja. Aren mengguncangkan wajah Daddy-nya supaya permintaannya di setujui oleh Sean.
"Tidak, sayang. Tante Nara hari ini akan istirahat di rumah kasian dia belum libur," ucapnya sambil berlalu pergi meninggalkan Nara sendirian di ruang tengah.
Memasang wajah dingin tanpa tersenyum di bibirnya membuat Nara kesal karena hari ini Sean sangat sensitif kepadanya. Padahal dia tidak salah apa-apa. Nara menghembuskan nafasnya berat, dia segera membereskan mainan yang berserakan di atas lantai. Maria diam-diam melihat adegan yang bikin hatinya jengkel. Sean memperlakukan Nara tidak pantas, harusnya Nara sebagai pengasuh Aren di ajak pergi ke mall untuk sekedar refreshing.
"Sean kau sudah sangat keterlaluan," ucap Maria kesal.
Setelah menerima info mengenai Nara, Maria syok ternyata Nara anak dari sahabatnya sejak kecil. Pantas saja nasi goreng yang di buat Nara sangat enak persis buatan sahabat dekatnya.
Banyak masalalu yang masih tersimpan rapat oleh Ibu Nara, semua hanya bisa di pendam sendirian. Untuk hal ini, Maria akan membantu perekonomian sahabatnya itu.
"Nara, aku tidak salah telah menilai baik kamu, ternyata kamu anak sahabatku. Mulai sekarang Ibu'mu tidak akan aku biarkan kekurangan apapun lagi," ujarnya sambil membaca fakta mengenai Nara.
Sean sudah berada dalam mobil setelah mengganti pakaian. Aren hanya bisa cemberut karena dia ingin Nara ikut bersamanya.
"Sayang, wajahmu sangat asam kenapa tidak tersenyum senang?" Tanya Sean sambil menghidupkan mesin mobilnya. Tapi aren masih tetap diam tidak bergeming.
Sementara di rumah, Nara segera bergegas ke taman belakang untuk memotong rumput yang sudah mulai meninggi. Akibat tidak ada kerjaan jadi Nara membantu pemotong rumput di taman belakang.
"Tuan Sean sangat menyebalkan, harusnya dia meminta maaf padaku bukan malah mengacuhkanku. Bukan aku geer karena telah di peluknya tapi ya, dia sudah mencuri pelukan pertama'ku. Untung anaknya baik sama neneknya, Tuan Sean sangat dingin membuatku takut padanya," gerutu Nara sambil berjalan ke arah taman.
"Nara," pekik Maria dari arah pintu.
Nara segera membalikan tubuhnya, dia kaget takut ucapannya terdengar oleh Nyonya Maria sehingga dia di panggil olehnya. Nara tersenyum gugup, ia segera menghampiri Maria yang tersenyum ke arahnya. Jantungnya berdebar seperti mau loncat ke luar, Nara siap untuk di marahi oleh Maria.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 149 Episodes
Comments
Yuni MamaRizky
wsh ternyta mam laura sahabatan dgn ibuny nara.. apakah ada kisah. masalalu wsktu mudanya
2022-04-27
0
Eti
lanjuuuttt
2022-01-01
0
dhapz H
emang bagi sean sdh apa pake pasang wajah dinginnya
2021-09-14
0