"Kalau kamu lapar, pergi ke dapur, banyak makanan di sana. Oh iya, besok bangun jam lima pagi, sebelum Aren bangun kamu harus segera menyiapkan sarapan untuknya. Termasuk Tuan Sean," ucap Asisten rumah yang bernama Kurni.
"Terima Kasih, infonya," sahut Nara tersenyum ramah.
"Panggil saya Bi Kurni, sudah lebih 25 tahun bekerja di rumah Tuan Sean," timpal Bi Kurni.
"Waww, cukup lama juga," seru Nara.
"Baiklah, kau istirahat dulu saya kembali ke dapur, ingat kalau kamu lapar langsung ke dapur semua sudah di sajikan di meja makan khusus para asisten," ucapnya lagi.
"Terima kasih, kalau saya sudah sangat lapar nanti pergi ke dapur. Aku mau merapihkan bajuku dulu yang ada di dalam tas," sahut Nara.
Bi Kurni pun segera memberikan baju khusus pengasuh untuk di berikan kepada Nara.
"Ini baju untuk kamu besok pakai," seru Bi Kurni. Baju berwarna pink merah muda itu, dengan panjang selutut juga lengan sesiku. Amira segera menerimanya. Bu Kurni berlalu pergi setelah bercakap dengan Nara.
"Semua orang yang ada di rumah ini sangat baik, termasuk bocah cilik itu. Tapi aku takut sama Tuan Sean, ahhh lupakan dia hanya bapaknya, lagian aku mengasuh anaknya bukan bapaknya," seru Nara menutup kembali pintu kamarnya.
Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur, niat ingin membereskan baju ke dalam lemari malah Nara ketiduran dan lupa akan hal itu. Ia memejamkan mata badannya terasa cape, remuk juga sangat lelah.
Dua jam telah berlalu, Nara pun terbangun, ia melihat jam yang ada di tembok din-ding yang ada di kamarnya. Menunjukan pukul setengah enam malam, ia segera bangun merentangkan kedua tangannya sambil menutup uap yang terjadi di mulutnya.
"Hooaamm .... ini sangat melelahkan, aku harus segera mandi. Rasanya sangat lapar," seru Nara beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.
Setengah jam kemudian, Nara baru selesai shalat Maghrib. Ia melipat mukenah juga sejadah-nya, ia segera merapihkan rambutnya yang basah akibat keramas sore. Nara berjalan ke arah pintu kamar untuk pergi mencari makan di dapur seperti yang di arahkan Bi Kurni.
Bi Kurni sudah ada duduk di dapur di depan meja makan. Nara tersenyum, ia rupanya tidak perlu khawatir Bi Kurni sudah ada di sana.
"Nara, duduklah, kita makan bersama," ajak Bi Kurni.
Nara pun tersenyum sambil menarik kursi dan duduk di sebelah Bi Kurni. Nara sangat canggung karena baru pertama kali ia berada di situasi seperti ini.
"Ambilah, kau makan yang banyak, di rumah ini tidak ada yang perlu di khawatirkan. Tuan Sean sangat baik, aku sebagai juru masak, dan yang suka bersih-bersih sudah pulang dia ada di sekitar sini rumahnya," ucap Bu Kurni.
"Oh iya. Terima kasih Bi, makanannya terlihat enak, boleh aku mengambil ini?" Tanya Nara hati-hati.
"Makanlah, ini tidak akan habis bila aku yang memakannya. Tuan Sean makan malam jam sembilan, aku akan memasak jam tujuh, tidak ada peraturan yang memberatkan kita di sini. Atasan kita hanya Tuan Sean Duda pengusaha kaya raya. Dia belum kunjung menikah karena masih trauma istrinya meninggal saat melahirkan Den Aren," seru Bu Kurni. Nara hanya mengangguk-nganguk mendengarkan cerita pilu Tuannya.
"Jadi karena hal ini Tuan Sean terlihat bersikap dingin," batin Nara sambil memakan pepes ikan mas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 149 Episodes
Comments
RossyNara
udah biasa nara pertama dingin-dingin kaya gunung es lama-lama bucin.
2024-04-02
0
🇵🇸Kᵝ⃟ᴸ
wah duren sawit, mau tor
2023-01-26
0
Irahsantoso
boleh nggak buat aku duren nya thor,...pasti sangat mantap,solnya semerbah baunya,pasti sagt legittt rasanya.... 😁😅😊😊
2023-01-26
0