Medina berjalan keluar, tapi kali ini dia berjalan di ikuti beberapa pelayan di belakangnya.
"Bisakah kalian tidak mengikuti ku?" ujar Medina.
"Maaf Nona, Tidak bisa! Tuan Bram menyuruh kita menjaga nona."
"Hah, aturan macam apa ini," gerutu Medina.
Malam itu karena perasaan suntuknya Medina berjalan lurus dia tidak tahu mau kemana. selama di rumah itu geraknya seperti burung dalam sangkar tidak bisa pergi keluar rumah seenaknya kecuali hari minggu.
Medina duduk di depan taman, ya hanya itu tempatnya menyendiri. dia menatap bintang bintang di langit. di lihatnya dari kejauhan pelayan tadi masih berdiri memperhatikannya. Medina merasa risih dan berfikir sejenak. Besok dia akan menemui Tuan Bram untuk membicarakan sebenarnya bahwa dia tidak hamil.
Seseorang menepuk halus pundaknya, "Hai, Nona kucing. Bagaimana kabarmu?"
Medina menoleh.
"Sudah berapa kali jangan panggil aku Nona kucing! panggil namaku, Medina" Gerutu Medina mengerucutkan bibirnya.
"Ha...ha... habis mukamu lucu sekali seperti kucingku," ucap Shaka.
Ternyata yang menepuk pundaknya itu, Shaka. Medina tidak mengetahui siapa shaka sebenarnya yang dia tahu dia pegawai di rumah itu. Maklumlah pegawai di rumah itu saja hampir 20 orang, Medina tidak hapal satu persatu nama orang di rumah itu.
"Kabarku baik saja, Perasaan aku jarang melihatmu di sini. Bukankah kamu juga pegawai di sini?" tanya Medina.
"Kangen ya," ledek Shaka, "Maaf bercanda, Nona!" sambungnya.
"Boleh aku duduk Nona," Shaka kembali berbicara.
"Tentu saja," jawab Medina.
"Aku berada di sini hanya sementara waktu, selebihnya aku bekerja di luar," ucap Shaka, "Kenapa anda malam malam begini keluar Nona?"
"Aku merasa jenuh berada di dalam. Lagi pula kalau tidak di sini, tidak ada tempat lain lagi" ucap Medina.
"Tampaknya anda sering menyendiri," Ucap Shaka.
Medina menghela nafas perlahan, "Tidak juga, aku hanya bosan terkurung di dalam rumah ini"
ucap Medina.
"Memangnya kenapa Nona, Apakah Nona tidak bahagia tinggal di sini?" tanya Shaka.
Medina tidak tahu harus menjawab apa.
"Aku hanya ingin bebas pergi ke manapun, Sesuka hatiku. Seperti dulu," jawab Medina.
Shaka menoleh menghadap Medina yang fokus memperhatikannya. Pandangan Medina terhadapnya membuat shaka canggung. Sebenarnya Medina memperhatikan nyamuk yang sedang hinggap di pipi Shaka. Rasanya ingin sekali tangannya menepuk nyamuk yang sepertinya asik menghisap darah di pipi Shaka.
Wajahmu mengingatkan aku kepada dia. Batin Shaka.
"Kalau mau Nona boleh bercerita apapun kepadaku," ucap Shaka.
Tiba-tiba,
"Nona lihatlah ke sana! Ada bintang jatuh" telunjuk Shaka menunjuk ke langit.
"Lakukan permintaan Nona, biasanya kalau ada bintang jatuh permintaan kita akan terkabul," ucap Shaka sambil tersenyum.
Medina terlihat takjub di dalam hati dia berdoa agar dia bisa seperti dulu lagi menjadi Medina yang bebas pergi kemanapun. Sebenarnya dia tidak terlalu mempercayainya juga.
"Kenapa anda menangis Nona?" tanya Shaka.
Tanpa sengaja air matanya menetes
di pipinya. Medina menghapusnya dengan lembut.
"Menangis lah, Nona! Kalau bisa membuatmu tenang, Anggap saja tidak ada orang di sebelah mu" Shaka menutup kedua tangannya kemukanya.
Medina yang selama ini ingin menangis menjadi terbawa suasana.
"Hwa...huu... huu... Kenapa aku harus terjebak di sini,"
teriak Medina sambil menangis. Sudah lama dia memendam perasaan sedihnya.
"Huuu.... huu.. kapan semua ini berakhir, rasanya aku tidak kuat berada lama lama di sini"
Shaka sebenarnya mengetahui isi perjanjian yang sudah di buat Tuan Bram. Saat itu tanpa sengaja dia melihat sebuah surat di brangkas Tuan Bram. Shaka membaca semuanya.
Shaka yang melihat Medina menangis memberikan sapu tangannya. Medina menerimanya dan di lapnya air matanya sendiri.
Shaka yang duduk disebelahnya menenangkan Medina.
Prooootttt
Medina membersihkan ingusnya dengan sapu tangan. Karena menangis membuat hidungnya keluar ingus.
Medina memberikan kembali sapu tangan ke Shaka. Shaka menerimanya, meskipun ada perasaan jijik dimasukkannya sapu tangan itu kembali ke sakunya.
"Bagaimana Nona, apa anda sudah baikan?" tanya Shaka mencairkan suasana.
"Terimakasih ya kamu sudah mau menemaniku di sini. Aku sudah baikan kok," jawab Medina.
"Minggu besok aku libur, Kalau Nona tidak keberatan bagaimana besok kita jalan-jalan keluar" pinta Shaka.
Plak,
Medina menampar pipi Shaka, Sudah dari tadi tangannya gatal ingin menepuk nyamuk yang dari tadi mengalihkan perhatiannya.
Shaka terkaget, dipegangnya pipinya karena sakit.
"Maaaf tadi ada nyamuk di pipimu! Apakah itu sakit?" Medina tidak menyangka barusan dia menampar Shaka. Dia juga menunjukkan nyamuk yang baru di tepuk di telapak tangannya.
"Tidak Nona! Aku kira kenapa." Shaka menahan sakit di pipinya yang masih terlihat merah.
"Maaf Aku tidak akan macam macam Nona, aku hanya ingin mengajakmu keluar," ucap Shaka lagi.
"Aku pikirkan dulu ya," ucap Medina.
Medina melihat jam di tangannya sepertinya sudah hampir jam 10 malam. dia melihat pelayan masih menunggunya dari jauh.
"Sepertinya aku harus kembali ke kamar, sudah malam banyak sekali nyamuk di sini," ucap Medina senyum senyum merasa bersalah.
"Baiklah Nona, Mari aku antar Nona,"
"Ah tidak perlu! Di sana juga sudah ada pelayan yang akan mengantarku." Medina menunjuk 2 orang pelayan yang dari tadi berdiri sibuk menepuk tangan dan kakinya karena banyak nyamuk.
"Sampai bertemu besok Nona, aku tunggu jam 7 di gerbang depan," ucap Shaka sambil melambaikan tangan kepada Medina yang berlalu.
Medina hanya tersenyum menanggapinya sambil pergi meninggalkannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 152 Episodes
Comments
Tannn_
Bisa bisanya di terima 😓
2023-01-09
1
Kenyang
semoga saja Medina kuat dan sabar👍👍
2022-12-26
0
Tatiastarie
ish.... medina jangan di ikutin tawaran sakha... hati" kamu udah ada suami..
2022-10-27
1