Hari itu karena hari libur Medina ingin berlama lama di rumah orang tuanya, rasanya hampir seminggu dia menikah dengan Firo membuatnya tidak berselera makan.
Di lahapnya habis makanan di meja yang di sengaja di sediakan ibunya.
"Ehm, Ada pengantin baru! Kenapa suaminya ngga di ajak?"
"Ops, sorry! Aku lupa kan suaminya bukan orang waras, Ha...ha..ha," ledek Niki adiknya sambil tertawa
Berbeda dengan adik lelakinya, Niko. Niki sangat membenci Medina. Dia merasa keluarganya selalu memihak kepada Medina kakak angkatnya. Kalau dilihat dari paras, Medina lebih cantik di bandingkan dengan Niki. Banyak teman teman sekolahnya mengagumi Medina. Kakaknya Medina tidak pernah membenci sedikitpun Niki walaupun mereka sering bertengkar dan sering adu mulut.
Pernah suatu ketika,
Tidak sengaja saat itu Niki ketahuan oleh kakaknya sedang berpacaran malam-malam dengan Lelaki bernama Sony yang umurnya jauh diatasnya. Menurut medina lelaki itu tidak pantas untuk adiknya karena terlalu dewasa, tidak baik dengan perkembangan usia Niki yang masih belasan. Santer kabar terdengar Sony pernah menghamili temannya.
"Hey kamu jangan macam macam kamu sama adikku!" ucap medina kepada Sony tak senang sambil menarik kerah baju lelaki yang usianya seumuran dengannya.
"Niki, Ayo kita pulang ini sudah jam sembilan malam tapi kamu masih keluyuran gak jelas,"
Medina menarik tangan Niki.
"Lepasin, kak! Aku bukan anak kecil!"
Niki menghempas tangan kakaknya.
"Hey girl! Kamu gak boleh kasar sama adikmu," ucap lelaki itu pada Medina. Lelaki itu bernama Sony.
"Diam, Pergi kamu! Kalau tidak aku lempar kamu pakai batu ini," Medina mengancam mengambil batu berukuran sebesar kepala bayi disebelahnya .
"Baiklah, tidak masalah!"
Karena takut di lempar batu Sony akhirnya mundur.
"Bay, cantik! aku pulang duluan ya," ucap Sony kepada niki sambil pergi menaiki mobilnya meninggalkan mereka berdua.
Setelah kepergian Sony,
"Berhentilah ikut campur masalahku,"
Plak!
Sebuah tamparan mendarat ke pipi Niki.
"Kamu itu anak perempuan! Tidak baik keluar malam-malam bersama laki-laki brengsek itu," ucap Medina tegas.
Niki tidak terima dengan tamparan kakaknya.
"Dengar ya kak! Aku pulang sekarang bukan berarti aku takut. Kamu seenaknya mengatur hidup aku, aku benci kamu!" Niki memegangi pipi bekas tamparan sambil berlari menjauhi kakaknya.
"Niki! Dengarkan aku, Sony itu lelaki bajingan! Dia lelaki yang tidak bertanggung jawab. Tolong jauhi dia, Kasian bapak dan ibu kalau kamu sampai terjadi apa-apa," teriak Medina ketika Niki sudah menjauh.
Niki yang saat itu sudah membenci kakaknya bertambah kesal dengan perbuatan kakaknya yang memfitnah pacarnya bahkan menamparnya sekarang.
Niki sangat mempercayai Sony pacarnya. Sony lelaki yang sangat tampan dan kaya raya. Bahkan semua kebutuhan Niki semua terpenuhi oleh Sony. Karena pengaruh teman-temanya yang rata-rata anak orang kaya, Niki tidak mau teman-temanya menjauhinya karena tidak selevel.
Apapun yang Niki inginkan selalu Sony berikan. Niki menjadi seperti itu karena tidak ingin dianggap miskin dan kalah pamor dari teman teman sekolahnya.
Entah yang diomongkan kakaknya benar atau tidak. Menurutnya Sony pria baik yang sopan dan mengerti wanita. Maklumlah Niki masih ABG labil saat itu.
***
"Kak, Bagaimana rasanya malam pertama dengan orang gila?" ledek Niki lagi kepada kakaknya.
"Kamu kecil-kecil udah ngomongin malam pertama,"
Medina yang sedang makan merasa terganggu dengan ucapan adiknya.
"Kalau tidak diam, Mulut kamu akan aku sumpal dengan ubi goreng ini!" ucap Medina kesal.
Niki tersenyum meledek.
"Kalau begitu selamat deh atas pernikahannya, Maaf Niki tidak bisa hadir!" ujar Niki.
"Tidak masalah bagiku, Bagaimana sekolah mu Niki? Kata Niko kamu sering bolos?" tanya Medina meredamkan emosi, Bagaimanapun juga dia masih menganggap Niki adiknya.
Ah, sialan! Niko pakai acara ngadu segala. Batin Niki dalam hati.
"Ngga penting, Kak! Lagian paling wanita ujung ujungnya dapur, sumur kasur! Ya...kalau sekali-kali bolos juga ngga masalah," jawab Niki enteng.
Medina tidak suka dengan ucapan Niki,
"Niki, Dengar ya... Bapak sama ibu capek cari duit buat sekolahin kamu, Jangan sampai karena keseringan kamu bolos, Kamu malah ngga lulus sekolah," Medina mengeraskan suaranya agar didengar adiknya.
"Ah bawel! Ngurusin mak lampir kaya kamu mendingan juga molor," Niki meninggalkan kakaknya sambil terus menutup telinga dengan kedua tangannya.
Brak!
"Awas kamu bikin bapak ibu kecewa!" Medina menggebrak meja.
Sebenarnya selama ini Medina lah yang mencari nafkah semenjak tiga tahun terakhir. Medina ingin kedua adiknya masih bersekolah dan bisa menjadi orang sukses.
Pak Joko yang sempat terkena stroke sudah tidak dapat bekerja seperti dulu. Sedangkan Bu Sari cuman berjualan kue. Penghasilannya hanya cukup buat makan. Untuk biaya sekolah adiknya, Medina yang mati matian banting tulang mencari nafkah.
Kedua adik Medina memang sangat dimanja dari kecil oleh kedua orang tuanya. Maklum Bu Sari baru mempunyai anak pas berumur 40 tahun. Semua yang diinginkan anaknya dikabulkan bahkan pak Joko sampai membela berhutang kepada Tuan Bram hingga ratusan juta untuk menyenangkan kedua anak kembarnya. Sedangkan Medina dari kecil tidak pernah meminta apapun yang memberatkan kedua orang tuanya.
Sebenarnya hari itu Medina enggan pulang ke rumah Tuan Bram, tetapi ketika mengingat kedua orang tuanya yang sedang sakit,Medina mengurungkan niatnya dan tetap kembali ke rumah itu.
Tuan Bram tidak hanya melunasi hutang keluarganya, selama Medina melayani Firo. Tuan Bram berjanji setiap bulan Medina akan mendapat uang untuk biaya hidup keluarganya. Bahkan jumlahnya lebih dari gaji tempat dulu dia bekerja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 152 Episodes
Comments
hayaa
anj** nih mulut lemes 😂😆😆
semangat kak 💪💪
2023-01-09
0
Kenyang
semoga Medina selalu ikhls dn sabar ya Thor🤲amin..
2022-12-25
1
Tatiastarie
semoga medina kuat ya menghadapi ini semua
2022-10-27
0