Medina di tidurkan di kamar, kali ini Medina diperlakukan sangat istimewa. Para pelayan di rumah utama membawakan berbagai makanan ke kamarnya. Ada yang memijat kaki dan tangannya ada yang menyuapinya dengan buah buahan. Medina yang lemas karena terlalu banyak muntah hanya bisa menerima perlakuan semua pelayan dengan pasrah.
Medina sebenarnya tidak mau diperlakukan secara berlebihan. Tetapi Tuan Bram memerintahkan seluruh pelayannya untuk mengurus Medina secara istimewa.
"Cukup, Bi! Bisa tinggalkan aku, aku ngantuk" ucap Medina kepada para pelayan itu.
"Tapi Nona Tuan Bram menyuruh kita untuk menjaga Nona," ucap ketiga pelayan itu.
"Aku tidak bisa tidur kalau ada orang di sebelahku, " ucap Medina.
Tuan Bram sangat menginginkan seorang cucu sebagai penerusnya.
"Baiklah Nona kalau ada apa-apa, Nona bisa memanggil, Kami ada di luar Nona" ucap salah satu pelayan mereka akhirnya meninggalkan Medina di kamar.
Setelah pelayan meninggalkan Medina di kamar, Bi Inah mendatangi Medina.
"Nona, apa benar nona hamil?" pertanyaan Bi inah seperti orang yang mengintrogasi.
"Aku tidak tahu, Bi! Sepertinya aku hanya masuk angin bi,"
"Apa sebelumnya...Maaf, Nona pernah berhubungan intim?" ucap bi inah sambil berbisik.
"Maksud bibi...hubungan suami istri?" Medina menyatukan kedua telunjuknya.
Medina menggeleng, Bi Inah hanya tersenyum menanggapinya.
"Ah tidak tidak! Sepertinya aku hanya tidak enak badan, Bi! Karena dari kemaren aku belum makan nasi,"
Medina mengerti memang kebiasaannya dari dulu hanya makan kalau perutnya merasa lapar. Jadi dia sudah terbiasa kalau tiba-tiba dia masuk angin dan muntah.
"Apa sekarang sudah baikan Nona?" tanya Bi Inah.
"Nona minum obat dulu," bi inah memberikan obat dan minum kepada Medina.
"Sekarang sudah mendingan, Bi."
"Kalau begitu Nona sebaiknya beristirahat dahulu," ucap Bi Inah sambil menyelimuti Medina.
"Terima kasih, Bi"
Bi inah mengerti, Wanita tua itu tersenyum dan meninggalkan Medina sendiri.
Lama-lama mata Medina terlelap akibat rasa kantuk yang disebabkan obat pemberian Bi Inah.
Tak begitu lama,
Firo mendatangi Medina di kamarnya dan merebahkan dirinya di samping Medina. Dilihatnya wajah istrinya secara dekat, Firo menempelkan jari telunjuknya di muka Medina dengan gerakan halus. jarinya menari nari di pipinya yang mulus. gerakannya terhenti tepat di bibir Medina.
Sangat menggoda. Batinnya.
Firo sangat mengagumi sosok wanita di depannya dari kecil.
Medina menggeliat di peluknya tampa sadar Firo yang ada disampingnya seperti guling. Mereka benar benar menyatu tak ada jarak. Firo hanya terdiam sambil terus menatap Medina yang masih tertidur. Ada reaksi yang berubah ditubuhnya.
Seperti ada yang mengeras di dalam celananya.
Ah, Perasaan apa ini? Batin Firo menghela nafas panjang.
Rasanya ingin sekali...ahhh.
Firo meneguk salivanya sambil memperhatikan Medina yang sedang memeluknya.
Hampir saja dia kehilangan kendali juniornya. Firo semakin mengatur nafasnya dalam dalam berharap tidak terjadi apa-apa.lama kelamaan Firo akhirnya ikut terlelap di samping Medina.
Satu jam kemudian.
Medina terbangun, dia terkaget melihat Firo sudah tertidur di sampingnya sambil memeluknya.
"Apa yang kamu lakukan?"
BUg
Dengan gerakan refleks Medina memukuli Firo yang sedang tertidur dengan bantalnya membuat Firo terbangun. Medina tidak sadar kalau dia sudah bersuami.
"Au sakit!" Firo terbangun sambil menutupi guling untuk menutupi badannya yang di pukuli Medina.
"Berhenti! lama-lama aku bisa mati kalau kamu terus memukulku dengan bantal," ucap Firo sambil berteriak.
Medina tersadar dia berhenti memukul suaminya dengan bantal.
"Apa yang kamu lakukan terhadapku?" Medina menutup kedua tangan ke dadanya, "Kenapa kamu tidur di sampingku?" tanyanya lagi.
"Ini tempat tidurku! Kalau bukan di sini terus aku mau tidur dimana?" ucap Firo.
Pertanyaan Medina membuat dia tersenyum.
"Apa yang sudah aku lakuin! Kamu pikir saja sendiri" Ucap Firo, "Bukankah kita sudah sah menjadi suami istri" tambahnya.
Firo membelakangi Medina hendak meneruskan tidurnya.
"Apaa?"
Bug..
Dia melempar bantal yang dipegangnya lagi ke arah Firo. Medina kesal sambil berlari ke kamar mandi memastikan dirinya tidak terjadi apa apa.
Hm, Belum apa apa saja kamu sudah memukuli ku. Bagaimana kalau... Ah.. padahal di mimpi tadi aku hampir saja.. hemm ....Mending tidur lagi ahh. Ucap Firo dalam hati menarik selimut meneruskan tidurnya.
Medina keluar dari kamar mandi, Ada perasaan lega di hatinya
Untunglah tidak terjadi apa-apa denganku, lain kali aku harus berhati-hati dengan pria mesum itu
Medina tidak mau melakukan hubungan suami istri tanpa perasaan suka sama suka. Lagian menurutnya pernikahan mereka hanya sementara.
Di kamar mandi dia mengecek **** *************, Menurut cerita dari teman-temanya ketika pertama kali mereka itu dengan pasangannya akan terasa nyeri bahkan tidak bisa berjalan. Medina merasa aman karena sedikitpun dia tidak merasakannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 152 Episodes
Comments
Tatiastarie
aduh Medina konyol banget si kan sudah halal kasuan firo..
2022-10-27
1
Arik Kristinawati
hei goblok medina....firo ko pu suami dan ingat pjanjian ko boleh bebas klo dah ksih cucu buat mertuamu....gk suka aku ama sifat n karakter medina....su miskin bertinhkah lagi...bisa mkan tu dr ko pu suami kelumu tu
2022-10-20
3
Erny Manangkari
medinah Medina
2022-10-04
0