Danesh mempersilahkan Felly untuk masuk ke tempat tinggal sederhananya. Felly hanya sendirian, supir yang mengantarkan dirinya izin untuk pulang ke rumah besar karena dipanggil oleh Tuan Besar Rey.
Felly mengedarkan pandangannya untuk melihat apartemen Danesh. Hanya unit kecil dengan satu kamar tidur, satu kamar mandi, dapur kecil, dan ruangan kecil untuk bersantai. Dibandingkan kamar Felly pun masih besar kamar Felly.
“Maaf, aku tak memiliki kursi.” Danesh memberikan satu gelas air minum kepada Felly yang tengah duduk lesehan dengan alas karpet seadanya.
“Tak masalah.” Felly meraih gelas yang diberikan oleh Danesh. “Terima kasih, aku memang sangat haus.” Ia langsung meneguknya.
Danesh ikut duduk lesehan di hadapan Felly, namun badan dan kepalanya ia sandarkan ke tembok. Masih lemas dirinya. “Ada apa kau menemuiku?” tanyanya.
“E ... anu.” Sialan memang, Felly mendadak lupa kata-kata yang sudah ia siapkan. Ia malu untuk meminta pertanggung jawaban pria di hadapannya itu karena ia sadar bahwa Danesh tak sepenuhnya bersalah atas kehamilannya.
Danesh menaikkan sebelah alisnya menunggu jawaban Felly yang terlihat gelisah. “Kau merindukanku hingga mencari tahu tempat tinggalku?” tebaknya.
“Ya, bisa dibilang seperti itu,” celetuk Felly.
Felly langsung menutup mulutnya sendiri setelah sadar dengan apa yang ia katakan. Pipinya sudah merona karena malu. Bisa-bisanya ia mengiyakan jika merindukan Danesh. Tapi memang benar Felly merindukan pria asing minim ekspresi itu.
“Eh ... bukan seperti itu maksudku.” Felly memukuli bibirnya sendiri karena sudah membuat dirinya malu bukan main.
“Lalu?”
“Aku dengar kau sakit, jadi aku ingin menjengukmu.”
Danesh tak merasa aneh jika wanita yang satu bulan lalu mengajaknya berteman itu tahu tentang sakitnya. Sudah dipastikan mengetahui dari tempatnya bekerja karena hotel itu milik Felly.
“Aku sudah lebih baik,” jelas Danesh.
“Oh ... sakit apa?” Felly melihat seluruh pahatan maha karya Tuhan yang indah itu. Wajah Danesh masih terlihat pucat, sayu, dan kurang bertenaga.
“Demam berdarah.”
“Ah ... sudah ku duga. Pasti karena kontrakan lamamu itu. Bahkan aku tak kuat berada di sana terlalu lama,” cerocos Felly. Ia memperlihatkan tangannya yang memiliki bintil merah akibat digigit nyamuk. “Lihatlah, aku tadi mencarimu di kontrakan lamamu dan mendapatkan hadiah dari nyamuk di sana.”
Danesh terkekeh mendengar ocehan Felly. “Lagi pula untuk apa kau mencariku hingga ke perkampungan kumuh?”
“E ... ya untuk menjengukmu.” Sialan bibirnya memang. Kelu sekali rasanya untuk mengatakan tujuannya yang sesungguhnya.
Danesh hanya mengangguk tanpa berniat mengeluarkan suaranya lagi.
Sejenak suasana menjadi hening. Tak ada pertanyaan yang keluar dari keduanya.
Danesh memejamkan matanya karena masih dalam fase rawat jalan. Ia baru saja meminum obat yang memberikan efek mengantuk.
Sedangkan Felly menggaruk-garuk kepalanya bingung sendiri mau mengatakan apa dengan Danesh.
“E ... Danesh.”
“Hm ....”
“Dari mana kau mendapatkan uang untuk pindah ke apartemen? Bukankah gaji seorang pelayan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari?” Mata Felly berani menatap Danesh, karena pria itu tak membuka matanya. Lain hal jika Danesh membuka matanya. Ia tak berani menatap lama, lebih tepatnya malu.
Tanpa berniat membuka kelopak matanya, Danesh menjawab. “Dari cek yang kau berikan.”
Felly mengangguk paham. Ia sudah tahu jika ada pencairan dana dari cek miliknya senilai lima ratus juta rupiah. Dan kisaran harga apartemen yang dibeli oleh Danesh, kira-kira seharga tiga ratus juta.
Melihat Danesh yang lemas, membuat Felly tak enak sudah mengganggu istirahatnya. “Kalau begitu, aku permisi pulang saja. Kau pasti butuh tidur yang banyak.”
Danesh mengangguk. “Buka saja pintunya, tolong nanti tutup lagi,” ujarnya.
Felly mulai bangkit dari duduknya. Ia ingin menuju ke pintu tapi berhenti lagi. Felly menggigit bibir bawahnya. Ia teringat perintah Papanya untuk membawa ayah dari anak yang ia kandung ke hadapan Papanya. Ia harus memberanikan diri untuk mengubur rasa malunya.
Felly berbalik lagi menatap Danesh yang sudah berubah posisi menjadi tiduran. “Danesh.”
“Hm ....”
“A-aku hamil anakmu.” Ada perasaan lega setelah Felly berhasil mengatakannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 195 Episodes
Comments
MyOne
Ⓜ️🙎🙎🙎Ⓜ️
2024-06-06
0
Retno Anggiri Milagros Excellent
nah itu.. tujuan Felly.. kenapa Violet ga hamil ya... berarti jodohnya ya Violet itu.. 🤭😅
2024-02-28
0
liberty
apartemen mahal banget...deskripsinya tadi kayak rusun ups🤭
2024-01-27
1