“Eh, Papa. Malam, Pa?” Jujur saja Felly takut melihat Papanya saat ini. Pasalnya, tatapan itu sangat menakutkan. Sama seperti saat Papa Rey marah pada Fenny yang mengaku hamil anak Erland.
Papa Rey tak membalas sapaan putrinya. Ia mengeluarkan ponselnya dan membuka sebuah pesan berisi foto testpack. “Bisa kau jelaskan, apa ini?” Ia melemparkan ponselnya pada Felly.
Felly gelagapan untuk menangkap ponsel milik Papa Rey. Namun untungnya ia berhasil menangkap ponsel itu sebelum jatuh ke lantai.
“Dasar orang kaya, main seenaknya saja melempar ponsel mahal,” gerutu Felly sangat pelan yang tak terdengar oleh Papa Rey. Ia mengumpati Papanya sendiri.
“Lihat dan jelaskan pada Papa!” titah Papa Rey agar Felly melihat ponselnya.
“Mati, Pa.” Felly memperlihatkan ponsel Papanya yang layarnya sudah terkunci.
Papa Rey berdecak, ia mengambil dengan kasar ponselnya dari tangan Felly. Ia menempelkan sidik jarinya untuk membukanya dan memperlihatkan layar ponselnya pada Felly. “Lihat baik-baik dan jelaskan pada Papa, apa maksudnya ini!”
Felly menelan salivanya susah payah saat melihat gambar testpack di ponsel itu. Tidak mungkin kan itu miliknya? Tapi benar-benar mirip dengan alat yang tadi siang digunakan olehnya. “Itu testpack, Pa. Alat untuk mengetes kehamilan.” Ia menjawab pertanyaan Papanya dengan pura-pura tak mengetahui jika itu miliknya.
“Aku juga tahu fungsinya! Yang aku tanyakan, bisa kau jelaskan bagaimana bisa kau hamil?” Papa Rey meralat dan mengulangi pertanyaannya.
“Eh ... anu, Pa.” Felly menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia bingung harus menjelaskan pada Papanya. Sudah dipastikan Papanya akan marah besar jika ia mengatakan kejadian yang sesungguhnya.
“Aku tunggu di ruang kerja Papa!” Papa Rey langsung beranjak pergi meninggalkan Felly dengan wajahnya yang sudah merah padam.
“Haish ....” Felly mengacak-acak rambutnya. “Kenapa ceritanya jadi runyam begini? Baru mau aku carikan jalan keluar, sudah ketahuan saja oleh Papa,” gerutunya.
Felly pun memilih untuk mengikuti perintah Papanya yang meminta untuk menemui di ruang kerja. Ia sudah tak bisa kabur ataupun mengelak memberikan alasan lagi.
“Dasar Dokter Orlando ember, aku lupa tak memberinya uang tutup mulut, langsung laporan pada Papaku,” decak Felly merutuki dirinya yang terlalu kaget atas berita kehamilannya hingga lupa memberikan uang pada Dokter keluarganya. “Dokter mata duitan,” imbuhnya mengumpati Dokter Orlando.
Padahal memang tugas Dokter keluarga Wilson salah satunya adalah memberikan laporan apa pun kepada Tuan Besar Rey. Sehingga tak bisa disuap sedikitpun untuk menutupi informasi kepada Tuan Besarnya.
Klek!
Perlahan Felly membuka pintu ruang kerja Papanya. Ia masuk ke dalam dan menutup lagi dengan hati-hati.
Papa Rey sudah menyandarkan sebagian tubuhnya di meja kerja dengan tangan yang terlipat. Matanya tetap terlihat mengintimidasi Felly.
“Apa yang kau lakukan selama satu bulan ini hingga setiap hari pulang larut?” tanya Papa Rey.
Felly menunduk tak berani menatap Papanya. Kedua tangannya meremas ujung jas kerjanya. “Aku lembur, Pa,” jawabnya lirih.
“Lembur? Apa ini hasilnya kau lembur setiap hari? Lembur di mana hingga membuatmu hamil? Kau satu-satunya harapan Papa agar tak mencoreng nama baik keluarga Wilson! Tapi ternyata kau dan adikmu sama saja! Mempermalukan!” Suara Papa Rey begitu menggelegar. Untung saja ruangan itu kedap suara, jika tidak pasti seisi rumah sudah bangun mendengar bentakan dari Papa Rey.
...........
Jangan lupa:
1. Like
2. Komen
3. Hadiah
4. Follow akunku
5. Follow instagram aku: heynukha
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 195 Episodes
Comments
MyOne
Ⓜ️🤔🤔🤔Ⓜ️
2024-06-06
0
Retno Anggiri Milagros Excellent
ya papa Rey ga tau rasanya ditelikungi hatinya oleh saudara kembarnya ya kan.. sabar ya ..
2024-02-28
0
Wirda Wati
🤣🤣🤣🤣menikah
2024-01-30
0