Dokter Orlando sudah sampai di gedung pusat Excelent Group. Ia langsung menaiki lift menuju lantai paling atas di mana ruangan Felly berada.
“Di mana Nona Felly?” tanya Dokter Orlando pada Stefany yang tempat duduknya tepat berada di seberang pintu masuk ruangan Nona Felly.
Stefany yang tengah makan siang di mejanya pun menghentikan aktivitasnya. Ia mendongakkan kepalanya untuk menatap Dokter tampan di hadapannya.
Bukannya menjawab, Stefany justru mengulas senyumnya dan mengedipkan sebelah matanya.
Membuat Dokter Orlando memutar bola matanya malas. Sekretaris Nona Felly satu ini memang sedikit centil jika dengannya.
“Ehem!” Dokter Orlando berdehem dengan keras agar Stefany kembali pada posisi normalnya. “Tutup mulutmu, air liurmu bisa membuat banjir seisi gedung ini,” selorohnya.
Stefany langsung menutup bibirnya yang menganga dan menyeka air liurnya. Sungguh ia malu ketahuan memuja sang Dokter tampan itu. “Eh, Dokter Orlando sudah datang.” Ia tersenyum kikuk dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Di mana Nona Felly?” Sekali lagi Dokter Orlando bertanya.
“Di dalam ruangannya, Dok. Mari, saya antar.” Stefany berdiri dari duduknya. Ia membiarkan makanannya yang belum habis tetap di meja kerjanya.
Stefany langsung mengetuk pintu kayu yang lebar di hadapannya.
Tak ada sahutan dari dalam. Biasanya Nona Felly cepat sekali memberikan perintah untuk masuk.
“Nona? Dokter Orlando datang,” ujar Stefany. Ia masih mencoba mengetuk pintu.
Tapi tetap tak ada sahutan, membuat Stefany menjadi berpikiran yang tidak-tidak dengan Nona Felly. Apa jangan-jangan Nona Felly pingsan?
“Nona, saya masuk, ya?” Stefany langsung membuka pintu itu tanpa persetujuan.
Stefany dan Dokter Orlando berhenti setelah satu langkah memasuki ruangan Nona Felly. Keduanya saling berpandangan saat mendengar suara orang muntah di dalam kamar mandi.
“Jangan, nanti Dokter akan diusir jika mendekat.” Stefany mencegah Dokter Orlando yang hendak melihat kondisi Nona Felly di dalam kamar mandi.
Tak lama, Felly menyembul keluar dari kamar mandi. Ia mengerutkan keningnya saat melihat Stefany dan Dokter keluarganya sudah di ruangannya.
“Kau sungguh memanggil Dokter Orlando?” tanya Felly. Ia kembali duduk di sofa.
“Iya, Nona. Saya khawatir dengan kesehatan Nona,” terang Stefany.
Felly mengangguk. “Duduk, tapi di sana saja kalian duduk.” Ia menunjuk kursi yang ada di depan meja kerjanya. Kursi yang lumayan jauh dari sofa. Ia tak ingin menghirup aroma orang lain.
Meskipun bingung, tapi Stefany dan Dokter Orlando tetap mengikuti perintah Nona Felly.
“Anda sakit, Nona?” tanya Dokter Orlando.
“Iya, sepertinya begitu,” sahut Felly. Tangannya mencoba meraba kening dan lehernya. Tapi tak panas. Tambahnya dalah hati.
“Biar saya periksa.” Dokter Orlando sudah mengeluarkan stetoskopnya. Ia hendak beranjak mendekati Nona Felly.
“Stop.” Felly memberikan isyarat dengan tangannya agar Dokter Orlando tak mendekatinya. “Periksa dari sana saja, jangan mendekatiku.”
“Tidak bisa Nona, bagaimana caranya memeriksa dari kejauhan?” elak Dokter Erlando.
“Bisa, kau kan pintar. Tanyakan saja keluhanku, dari situ pasti kau sudah tahu sakitku,” ujar Felly.
Dokter Orlando hanya bisa menghela napasnya. Ia kembali duduk ke tempat semula.
“Baiklah, apa keluhan yang Nona Felly rasakan?”
“Akhir-akhir ini aku sering mual, setiap setelah makan pasti mual, menghirup aroma orang lain juga membuatku mual, tubuhku mudah sekali lelah, terkadang aku juga pusing, tapi anehnya aku tak panas,” jelas Felly.
Kenapa keluhannya seperti tanda-tanda orang hamil? Tapi kan Nona Felly tak jadi menikah. Gumam Dokter Orlando.
“Boleh saya bertanya, Nona?”
Felly mengangguk. “Tanyakan saja.”
“Kapan seharusnya Nona Felly datang bulan?”
“Biasanya awal bulan.”
“Lalu, apakah awal bulan ini Nona Felly sudah datang bulan?” tanya Dokter Orlando. Jika prediksinya tak salah, Nona Felly sedang hamil. Pasalnya, sekarang sudah pertengahan bulan mendekati akhir bulan.
Felly menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
Dokter Orlando kembali membuka tasnya. Ia mengambil testpack yang selalu ia bawa untuk berjaga-jaga saat seperti ini.
“Bisa coba di tes menggunakan urine Nona. Setelah mendapatkan hasilnya, saya baru bisa mengatakan penyebab dari keluhan Nona.” Dokter Orlando menyodorkan tiga testpack digital yang tingkat keakuratannya tinggi. Ia langsung kembali lagi ke tempat duduknya saat melihat wajah Nona Felly menahan mual.
Meskipun takut jika benar dirinya hamil, tapi Felly tetap penasaran. Ia membawa testpack itu dan mulai mengeceknya di dalam kamar mandi.
...........
Jangan lupa:
1. Like
2. Komen
3. Hadiah
4. Follow akunku
5. Follow instagram aku: heynukha
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 195 Episodes
Comments
MyOne
Ⓜ️😱😱😱Ⓜ️
2024-06-06
0
Maulida Hayati
positif
2024-05-24
0
Tuty Tuty
nekat juga
2024-03-18
0