Felly memijat pelipisnya yang terasa pusing. Ia mengingat semua kejadian semalam.
“Untung dia tampan,” gumam Felly setelah melihat seluruh wajah partner pemuas ranjangnya. Matanya teralihkan pada ponsel di atas nakas yang berbunyi. Ia meraih benda pipih itu dan menggeser tombol hijau.
“Ya, ada apa, Ma?” tanyanya pada Mama Kyara yang menelponnya.
“Apa kau baru bangun? Semua sudah menunggumu untuk sarapan.”
Felly menghela napasnya. Ia belum siap makan bersama dengan Erland dan Fenny. Sudah dipastikan pengantin baru itu ada di sana. Tradisi keluarganya yang selalu makan bersama, tak mungkin kedua manusia itu absen.
“Fel?” panggil Mama Kyara lagi karena tak ada sahutan dari putrinya. “Apa kau baik-baik saja?”
“Hm? Ya, aku baik-baik saja. Aku akan segera ke sana.” Felly tak sepenuhnya berbohong. Tubuhnya memang baik, hanya hatinya saja yang tak baik.
...........
“Kau sudah bangun?” tanya Felly. Ia baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang masih basah. Setelah mendapatkan telepon dari Mamanya, ia langsung membersihkan dirinya.
Danesh duduk dan mengangguk memberikan jawaban. Ia melihat semua aktivitas yang dilakukan oleh Felly. Menunggu reaksi wanita itu menyesali kejadian semalam.
Tapi Felly justru biasa saja. Ia duduk di meja riasnya. “Banyak sekali bekasnya,” keluhnya saat melihat kissmark di lehernya. Ia pun mengambil foundation dan mengoleskannya di leher untuk menutupinya. Ia tak ingin mendapatkan banyak pertanyaan saat sarapan.
“Apa kau ingat semalam?” tanya Danesh. Ia sungguh resah melihat Felly yang terlihat tenang.
“Ya.” Felly mengangguk tanpa menoleh. Ia tetap melihat ke cermin dengan tangan memoles wajah dan lehernya.
“Kau tak menyesalinya?” Danesh ingin memastikan sekali lagi.
“Tidak, aku tak pernah menyesali keputusan yang sudah aku buat sendiri,” jelas Felly. Ia memutar kursinya agar menghadap ke Danesh. “Kenapa? Apa kau menyesal? Aku akan membayarmu, sebutkan jumlahnya dan nomor rekeningmu. Atau, aku tinggalkan kau cek kosong berisi tanda tanganku. Kau bisa menulis nominal yang kau inginkan sendiri.”
Danesh mengangguk, ia memang sedikit menyesal. Pasalnya, ia memuntahkan di dalam. Hanya dua orang yang menerima benihnya, Violet—mantan kekasihnya yang ia setubuhi tiga bulan lalu dan wanita asing yang menyedihkan di matanya.
“Kau bisa saja hamil karena aku. Dan kau harus tahu, aku tak bisa bertanggung jawab jika hal itu terjadi,” jelas Danesh. Di hatinya masih terisi Violet, mana bisa ia menggeser wanita pujaan hatinya itu.
Felly terkekeh, ia berdiri setelah selesai mengeringkan rambut dan menyisirnya. “Tenang saja, itu tak mungkin terjadi. Kita hanya melakukannya satu kali. Tak perlu cemas,” ujarnya. Tangannya membuka laci meja, mengeluarkan selembar kertas yang sangat berharga. Meraih pulpen yang ada di atas meja dan membubuhkan tanda tangan di selembar cek.
“Ini bayaran untukmu. Terima kasih sudah menemaniku.” Felly memberikan cek itu kepada Danesh. Ia pun menepuk pundak pria yang tak berekspresi itu agar tak mencemaskan perbuatan semalam.
Felly lalu masuk ke dalam walk in closet untuk berganti pakaian.
“Aku sudah mengatakan resikonya padamu,” ujar Danesh. Felly pun bisa mendengarnya, tapi enggan menjawab.
Danesh masih menunggu Violet mencarinya, mungkin saja mantan kekasihnya itu hamil setelah malam terakhir mereka bertemu. Tapi hingga saat ini, tak ada wanita pengisi hatinya itu mencarinya. Dan terus membuatnya menerka-nerka kesalahan apa yang sudah ia perbuat hingga ditinggalkan tanpa alasan jelas.
...........
Jangan lupa:
1. Like
2. Komen
3. Hadiah
4. Follow akunku
5. Follow instagram aku: heynukha
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 195 Episodes
Comments
MyOne
Ⓜ️🙄🙄🙄🙄Ⓜ️
2024-06-06
0
Adi Juliawan
kenapa dia bisa hamill
2024-05-16
0
Atang Priatna
1 partnya dikit amat thor?
2024-03-13
1