Lain hal dengan Fenny yang menatap tajam kakaknya, bibirnya cemberut karena cemburu dengan suaminya yang terus memandangi saudara kembarnya. Ia pun berdecak. Matanya berputar menandakan dirinya malas.
“Aku dan Erland yang menghabiskan tiga ronde dalam satu malam saja tak terlambat untuk sarapan. Kau yang tak menghabiskan malam pertama malah membuat kami semua menunggumu lama,” sinis Fenny. Ia bergelayut manja di lengan suaminya. Tangannya memalingkan wajah Erland untuk menatapnya. “Iya kan, sayang?” Ia ingin meminta pembenaran agar tak terkesan berbohong.
Erland berdecak, ia sungguh tak suka dengan sifat Fenny yang selalu menyombongkan miliknya itu. Apa lagi ini masalah peranjangan, hal privasi yang seharusnya tak diumbar kepada siapapun.
Erland sungguh sebal, bagaimana bisa ia terjebak dengan wanita yang seharusnya menjadi adik iparnya itu. Ia menghempaskan tangan Fenny agar tak menyentuhnya. “Makanlah, kau terlalu banyak bicara karena kau kelaparan.” Ia berucap, namun matanya terus menatap Felly.
Fenny kesal bukan main, sudah menjadi suaminya pun tetap tak romantis dengannya. Padahal ia sudah membayangkan jika menikah dengan Erland akan hidup bahagia dengan perhatian dan keromantisan pria itu. Seperti saat Erland memperlakukan Felly.
Melihat perdebatan kecil yang bisa memicu pertengkaran besar antara kedua putrinya, membuat Mama Kyara memberikan kode pada suaminya.
Papa Rey yang paham pun mengeluarkan suaranya. “Baiklah, karena kita sudah lengkap. Mari kita mulai untuk sarapan. Sebelumnya, mari kita berdoa terlebih dahulu.” Ia pun memimpin doa bersama sebelum makan.
Mereka mulai mengambil makanan setelah berdoa. Bergantian satu sama lain.
“Makanlah.” Erland menyodorkan piring berisi nasi, sayur, dan lauk yang disukai oleh Felly.
Felly yang masih menunggu gilirannya pun mengalihkan pandangannya, kepalanya yang terus menatap kaca luar berpindah terisi seorang Erland yang tangannya menggantung di udara memegang piring ke arahnya.
Semua mata menatap ke arah Erland. Seharusnya ia mengambilkan untuk istrinya, kenapa ia justru mengambilkan untuk mantan kekasihnya? Pria itu masih belum terbiasa dengan Fenny.
“Tidak perlu, aku bisa mengambil makanan sendiri,” tolak Felly dengan halus. Ia tak ingin ribut dengan adik kembarnya. Matanya beralih menatap Fenny yang menatapnya penuh amarah. “Berikan saja pada istrimu, kau seharunya memberikan itu padanya.”
Bibir Fenny mencibir Felly. Entahlah, ia sangat kesal dengan kakaknya itu.
Fenny menghentakkan kakinya, giginya bergemelatuk. Ia sangat sebal. Ingin sekali ia mengusir kakaknya itu agar tak menjadi pusat perhatian suaminya. Tapi bagaimana caranya? Ia memutar otaknya yang tak seberapa pintar itu untuk berpikir. Jika masalah bisnis memang ia tak pandai, tapi masalah kelicikan, ia jagonya.
Fenny mengambil piring di hadapannya yang Erland ambilkan untuk Felly, namun ditolak dan berakhirlah tersaji di hadapannya. Ia sedikit berdiri dan menyodorkan piring itu ke hadapan Felly.
“Untukmu saja, aku kan tak suka sayuran. Suamiku mengambilkan makanan ini untukmu. Baik hati sekali dia sampai istrinya saja tak diperhatikan,” sinis Fenny. Tapi bibirnya mencoba mengulas senyum.
Felly menaikkan alisnya. “Sejak kapan kau tak menyukai sayuran?” tanyanya heran.
“Sejak hari ini.” Fenny berdecak. “Cepatlah, tanganku pegal.”
Felly menghembuskan napasnya, tak ingin merusak suasana sarapan di keluarganya yang biasanya hening. Ia mulai mengulurkan tangan untuk meraih piring itu. Namun ...
Prang!
Belum sempat teraih, piring itu sudah jatuh tepat di pangkuan Felly. Membuat baju yang indah itu menjadi kotor dan piring terhempas ke lantai.
...........
Jangan lupa:
1. Like
2. Komen
3. Hadiah
4. Follow akunku
5. Follow instagram aku: heynukha
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 195 Episodes
Comments
MyOne
Ⓜ️👀👀👀Ⓜ️
2024-06-06
0
Maulida Hayati
Dasar Fenny tidak tahu diri.
2024-05-24
1
Adi Juliawan
kelihatan banget Fenny jahat
2024-05-16
0