Felly terus memandangi sebuah kertas yang tadi siang diberikan oleh Dokter kandungan. Setelah melakukan pengecekan menggunakan testpack, untuk memastikan lagi Felly langsung pergi ke rumah sakit milik salah satu cabang bisnis Excelent Group.
Dan ternyata, memang benar Felly hamil. Tangan wanita itu terus menatap print cetak hasil USG tadi siang. Matanya berkaca-kaca, antara sedih dan senang. Senang karena bisa merasakan menjadi ibu hamil, sedih karena ia bingung bagaimana menutupi aibnya sendiri.
Felly tak ingin mencoreng nama baik keluarganya, tapi bagaimana? Danesh, ayah dari anaknya sudah mengatakan sejak awal jika tak bisa bertanggung jawab karena ada wanita yang ia tunggu.
Felly menghembuskan napasnya kasar dan menyandarkan tubuhnya di kursi dalam mobilnya. “Aku harus apa?” desahnya bingung.
“Anda bertanya dengan saya, Nona?” tanya supir pribadi Nona Felly.
Memiliki masalah membuat Felly lupa jika ia tak sendirian di dalam mobilnya. “Tidak, Pak. Aku bicara sendiri,” elaknya.
Supir pribadi Nona Felly tak menyahuti lagi, namun melihat jam dan juga langit yang sudah sangat gelap.
“Nona, sudah jam sembilan malam. Apakah Nona akan tetap di parkiran rumah sakit, atau pulang sekarang?” tanya supir itu dengan melihat Nona Felly dari kaca spion depan.
Felly memijit pelipisnya yang tiba-tiba saja berdenyut akibat terlalu banyak berpikir. “Sudah jam sepuluh, ya? Berapa lama kita ada di sini?”
“Kurang lebih tujuh jam kita berada di rumah sakit, Nona,” jawab supir itu.
Felly menganga tak percaya, ternyata selama itu ia menghabiskan waktu di rumah sakit. “Kita pulang sekarang, Pak,” titahnya.
“Baik, Nona.”
Meskipun supir pribadi Nona Felly bingung, mengapa Nonanya selalu pulang malam, padahal waktu kerjanya pun hanya sampai pukul empat sore. Tapi ia mengurungkan semua keingintahuannya, ia hanya supir yang tak boleh ikut campur dengan urusan majikannya. Yang penting gajinya tepat waktu saja.
Hingga tak terasa mobil BMW itu sudah memasuki rumah besar keluarga Wilson.
“Nona, sudah sampai.” Supir itu membangunkan Nona Felly yang tertidur dengan memegang hasil USG di tangan.
Apa Nona Felly hamil, ya? Tapi tak mungkin, Nona Felly kan wanita baik-baik. Berbeda dengan saudari kembarnya. Gumam supir itu dengan segala keingintahuannya yang tak bisa diutarakan.
“Nona ....” Sekali lagi supir itu membangunkan Felly.
“Hm ....” Felly mengucek matanya dan mengerjapkan beberapa kali.
“Sudah sampai di rumah besar, Nona.”
“Oh ... terima kasih atas kerja kerasnya, Pak.” Felly segera memasukkan kertas hasil USG ke dalam tasnya. Ia pun keluar dari mobil setelah pintu dibuka oleh supirnya.
Perlahan Felly melangkahkan kakinya agar tak menimbulkan suara berisik. Ia membuka pintu rumah besar itu dengan hati-hati. Menutup kembali pintu itu dengan perlahan juga.
“Huft ....” Felly bisa bernapas lega melihat rumah besar keluarga Wison sudah gelap gulita. “Untung semua orang sudah tidur, jadi aku tak perlu banyak menjawab pertanyaan,” gumamnya.
Felly berjalan mengendap-endap menuju lantai dua di mana kamarnya berada. Ia sudah seperti seorang maling di rumah keluarganya sendiri.
“Dari mana saja, kau? Jam segini baru pulang?” Suara berat dan tegas itu menghentikan langkah kaki Felly yang hendak menapaki satu anak tangga.
Seketika lampu rumah menjadi hidup hingga Felly harus mengerjapkan matanya. Ia pun berbalik dan melihat sudah ada Papa Rey yang berdiri tegas dengan tatapan mengintimidasi tepat lima langkah dari Felly berdiri.
...........
Baca karya temen aku juga yuk, ga kalah seru kok. Ketik di kolom pencarian judulnya seperti di bawah ini. Thanks, all. I love u.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 195 Episodes
Comments
MyOne
Ⓜ️🫡🫡🫡Ⓜ️
2024-06-06
0
Retno Anggiri Milagros Excellent
yaa
2024-02-28
0
Wirda Wati
kamu ketahuan..
2024-01-30
0