Di atas lantai sudah berserakan baju pengantin, dan seluruh kain yang tadinya membungkus dua manusia yang saat ini tengah berolahraga panas.
Bunga-bunga di atas tempat tidur itu sudah berhamburan. Suara-suara yang sulit diartikan dari kedua orang yang sedang mendaki ke atas nirwana pun menggema di dalam ruangan itu. Membuat sang pemain semakin menaikkan ritme hentakannya.
Meskipun sakit diawal permainan, namun Felly tetap melanjutkannya. Ini malam pertamanya, tak boleh gagal juga. Ia sungguh melupakan masalahnya saat ini. Hanya menikmati sensasi terbang ke atas nirwana kenikmatan yang diberikan oleh pria asing.
Peluh keduanya bercucuran membasahi tubuh tanpa sehelai benang itu. Padahal AC kamarnya sudah sangat dingin. Benar-benar olahraga panas hingga mengalahkan dinginnya kamar dengan AC sebanyak dua yang terpasang di dinding.
“Aku akan menyelesaikannya di luar.” Danesh ingin mengeluarkan miliknya saat merasakan hendak meledak.
“Aku belum selesai.” Felly menahan pinggang Danesh agar tak keluar dari gua. Ia belum mencapai puncak.
“Bisa dengan cara lain, biarkan aku melepasnya. Benihku bisa membuahimu jika aku tak segera melakukan hal itu.” Danesh mencoba memberitahu kemungkinan terburuknya.
Felly justru terkekeh mendengarnya. “Mana mungkin, hanya bermain satu kali akan langsung jadi,” elaknya.
“Terserah, aku tak ingin mengambil resiko.” Danesh hendak mencoba menarik miliknya. Namun dicegah oleh Felly.
Sial! Wanita baik-baik itu kenapa mendadak liar hanya karena patah hati dihari pernikahannya. Felly justru memandu pinggul Danesh agar tetap menghentak dirinya. Apa mungkin ini efek dia mabuk hingga membuatnya seperti ini?
“Shit!” Danesh mengumpat karena ledakannya tak tepat sasaran. Ia langsung menarik miliknya, meskipun sudah terlambat. Ledakan itu terjadi di dalam.
Danesh merebahkan dirinya di samping Felly. Keduanya terengah-engah dengan mata terpejam. Menetralisir tenaga yang sudah terkuras.
Danesh mulai membuka matanya, ia memiringkan kepalanya untuk melihat Felly. Ia ingin memastikan wanita itu menyesal atau tidak. Ada cairan bening yang keluar dari balik kelopak mata yang terututup itu, Danesh melihatnya dengan jelas.
Sial! Kenapa justru aku yang menyesal melakukannya! decak Danesh dalam hati.
Pria itu beranjak menuju kamar mandi. Ia membersihkan diri dan memakai bathrobe untuk menutupi tubuhnya yang kekar. Ia pun kembali lagi mendekati Felly. “Pakailah, tutupi dirimu.” Ia menyodorkan bathrobe yang sama persis dengannya kepada Felly.
Perlahan wanita itu membuka matanya. Ia meraih kain lembut itu dan memakainya. “Temani aku malam ini. Tidurlah di sini,” pinta Felly lagi. Ia sedang tak ingin sendiri. Lagi pula, ia akan membayar pelayan itu.
Felly menepuk sisi ranjangnya yang kosong agar Danesh tidur di sampingnya. “Hanya untuk malam ini, temanilah wanita menyedihkan ini,” pintanya dengan mengiba.
Danesh sungguh tak tega melihat Felly yang terus menunduk dengan air mata mengalir tanpa henti. Ia pun mulai naik ke atas benda empuk itu, tepat di samping Felly. Tangannya terulur untuk menepuk pundak wanita menyedihkan itu. Ia ingin menenangkan, tapi bingung juga harus bagaimana. “Tidurlah, aku akan menemanimu.”
Danesh dan Felly pun tertidur di atas ranjang yang sama, dengan jarak yang terkikis. Dua orang yang sama-sama kandas dalam cintanya itu saling memeluk satu sama lain.
Kicauan burung dari luar terdengar samar-samar. Felly bangun terlebih dahulu saat sinar matahari mencoba menerobos masuk dari sela-sela jendela yang tak tertutup rapat oleh gorden. Ia merasakan ada tangan yang melingkar di perutnya. “Erland?” panggilnya lirih. Ia menengok ke samping, ternyata bukan kekasihnya. Ia pikir gagal menikah semalam hanyalah mimpi. Ternyata semuanya nyata.
...........
Baca cerita temenku juga yuk, ceritanya gak kalah seru pastinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 195 Episodes
Comments
MyOne
Ⓜ️🫡🫡🫡Ⓜ️
2024-06-06
0
Tri Wahyuni
/Drool/
2024-06-05
1
Wiran
hmmmm
2024-03-08
0