Felly hanya merebahkan dirinya di atas ranjang, matanya terpejam. Ia tak tidur, hanya saja sedang membersihkan pikirannya dari hal-hal yang membuatnya pusing. Termasuk Erland yang masih perhatian dengannya.
Matanya terbuka lebar saat mendengar bel kamarnya berbunyi. Ia segera bangkit dan membukanya.
“Pesanan makanan untuk kamar tiga?” Danesh memastikan terlebih dahulu, apakah yang ia antarkan itu benar pesanan sang pemilik kamar atau tidak.
Felly mengangguk dan mengulas senyumnya. “Ya, tolong bawa masuk,” pintanya.
Danesh pun mendorong trolley itu hingga ke dalam. Ia tak bersuara sedikit pun, tangannya menyajikan hidangan ke atas meja makan yang ada di kamar itu.
Felly yang duduk di sana pun hanya melihat pekerjaan Danesh hingga selesai. Wajahnya bak malaikat, tak ada angkuhnya sama sekali.
“Ada lagi yang bisa dibantu?” Danesh bertanya setelah menyelesaikan tugasnya untuk menyajikan makanan.
“Duduklah, temani aku makan,” pinta Felly.
Danesh mengangguk, dia hanya pelayan. Jadi menurut saja. Ia pun ikut duduk di hadapan Felly.
“Kau sudah makan?” tanya Felly. Ia yakin jika pria di hadapannya tak ada waktu untuk mengisi perut.
“Belum,” jawab Danesh singkat.
Baru kali ini Felly bertemu dengan pelayan yang jujur dan tak malu-malu seperti pelayan lainnya. Biasanya, jika ia bertanya pasti para pelayannya akan berbohong mengatakan jika sudah makan. Kebanyakan dari mereka takut untuk berdekatan dengan majikannya. Tapi tidak dengan pria yang bersamanya kini.
Ulasan senyum menghiasi wajah Felly. “Kita belum kenalan. Aku Felly.” Ia mengulurkan tangannya.
“Danesh.” Ia balik membalas tangan Felly.
“Baiklah Danesh, aku suka denganmu.”
Ungkapan dari Felly membuat Danesh menatap wanita itu dengan tajam, raut wajah Danesh begitu terkejut. Bagaimana tak terkejut, mereka baru saja bertemu dan tiba-tiba menyatakan suka? Bercanda!
“Jangan menyukaiku, aku tidak mengizinkannya,” tolak Danesh.
Felly memberikan isyarat tangan kanan yang bergoyang ke kanan dan kiri. “Bukan suka sebagai pasangan, aku suka kejujuranmu. Ayo kita berteman.”
“Aku hanya seorang pelayan, tak pantas berteman dengan putri pemilik perusahaan besar sepertimu,” tolak Danesh.
“Aku tak pernah membedakan kasta dalam berteman. Dan, aku saat ini membutuhkan seorang teman. Karena aku tak memiliki teman, hidupku ku habiskan untuk belajar bisnis, bekerja, dan bersama Erland yang sekarang menjadi adik iparku,” jelas Felly.
Cerita Felly sungguh menyedihkan terdengar di telinga Danesh. Wanita secantik itu ternyata hidupnya sangat sempit. “Oke, kita berteman.”
Felly pun mengajak Danesh untuk makan bersama. Ia sedang tak ingin sendiri. Jika sendiri, ia takut akan teringat dengan Erland lagi. Lain hal ketika bersama orang lain, ia bisa mengalihkan pikirannya.
Danesh menurut, ia menemani Felly menghabiskan hidangan yang ia bawa. Meskipun ia terbiasa makan sajian lezat di negara asalnya, tapi di sini terasa lebih lezat karena kondisi ekonominya yang memprihatinkan.
Namun, pikiran Danesh seolah terusik dengan Felly. Wanita berwajah bak malaikat yang tak jauh beda dengan mantan kekasihnya—Violet, terlihat sangat tenang. Ia menjadi tak fokus untuk menghabiskan makanan di piringnya, matanya seolah terkena magnet untuk menatap Felly.
“Kenapa tak di makan? Apa kau tak suka dengan makanannya? Kau bisa pesan sendiri makanan yang kau sukai.” Felly bertanya seperti itu karena ia sudah menghabiskan dua hidangan sekaligus, sedangkan pria di hadapannya belum menghabiskannya. Ia tak rakus, hanya saja ia belum makan dari semalam. Terlalu sedih tertampar kenyataan dirinya yang gagal menikah, hingga ia tak merasakan lapar. Barulah pagi ini ia merasa perutnya menginginkan asupan.
...........
Jangan lupa:
1. Like
2. Komen
3. Hadiah
4. Follow akunku
5. Follow instagram aku: heynukha
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 195 Episodes
Comments
Nur Syamsi
yg sabar Felly
2025-01-22
0
MyOne
Ⓜ️🙎🙎🙎Ⓜ️
2024-06-06
0
Retno Anggiri Milagros Excellent
makan yang banyak Fally.. jaga kesehatan mu ya . Danish juga..
2024-02-28
1