“Kau tahu, kenapa aku menyesal menerima tawaranmu?”
Felly menggeleng.
“Karena kau menahanku saat milikku akan meledak, dan berakhirlah semuanya tertumpah di dalam. Kau tahu? Hal itu bisa membuatmu hamil. Itulah yang mengusik pikiranku.” Kini, wajah gusar Danesh telihat jelas di mata Felly.
“Kau tenang saja, kita hanya sekali bermain,” balas Felly mencoba menenangkan. Namun dalam hatinya, ia penasaran dengan sosok Danesh yang menyesal hanya masalah benihnya yang tersemai di dalam.
“Tahu dari mana?” Nada bicara Danesh sedikit meninggi. Pasalnya Felly terlalu yakin, sedangkan dirinya masih gusar. “Meskipun hanya sekali, tapi dilakukan saat masa sel telur subur, maka akan mudah membentuk zigot.”
Felly terdiam, ia tak bisa menanggapi Danesh. Sebab, wajah pria di hadapannya mendadak memerah seolah menahan amarah yang ia tak tahu mengapa bisa seperti itu.
Perlahan tangan Felly meraih ponselnya yang berada di atas meja. Ia membuka aplikasi khusus untuk memprediksi masa kesuburan sel telur.
Glek!
Susah sekali Felly menelan salivanya, seolah ia sedang menelan pasir. Sial! Kemarin adalah masa suburku.
Felly meletakkan kembali ponselnya. Ia menghembuskan napasnya perlahan. Jujur saja ia kini juga takut, ia tak sepercaya diri tadi.
“Apa sekarang kau sudah menyadari alasanku menyesalinya?” tanya Danesh. Ia melihat perubahan mimik wajah Felly setelah membuka sebuah aplikasi yang berisi tanggal. Dan ia tahu apa itu.
Felly tetap berusaha menenangkan dirinya. “Tenang saja, aku pasti tak akan hamil,” ujarnya mencoba tetap percaya diri, padahal dalam lubuk hatinya ada kegelisahan.
“Bagaimana aku bisa tenang? Di dalam, bukan di luar. Terlebih tak menggunakan pengaman.” Danesh merutuki dirinya sendiri yang juga lalai.
“Shtt ....” Felly meletakkan telunjuknya di depan bibirnya. “Jangan mengatakannya lagi, ucapan adalah doa. Jika kau mengucapkannya seperti itu terus, bisa jadi kenyataan. Lebih baik kau mengucapkan seperti diriku jika tak mungkin hamil.”
Danesh menghela napasnya, sialnya ia orang yang rasional. Ia berpikir tentang kenyataan yang bisa saja terjadi, sehingga mengesampingkan hal seperti yang disebutkan Felly.
“Kita sudahi pembicaraan ini, lebih baik habiskan makanannya.”
Menyudahinya adalah pilihan terbaik menurut Felly, ia akan perlahan melupakan pikiran buruknya juga.
Keduanya pun kembali makan dengan keheningan. Hidangan dari chef khusus itu pun habis dalam waktu tiga puluh menit.
Danesh langsung membersihkan meja makan itu. Seluruh piring ia tata di atas trolley lagi.
“Tugasku sudah selesai. Ada lagi yang bisa dibantu?” tanya Danesh yang sudah berdiri di samping trolley.
Felly harus mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah lawan bicaranya. Jujur, ia sangat ingin tahu mengapa Danesh menyesali perbuatannya. Ia yakin ada sesuatu yang membuat pria itu gusar.
“Boleh aku bertanya sesuatu?”
Danesh hanya menjawab dengan anggukan.
“Kenapa kau sangat menyesal dan takut jika aku hamil?”
Dengan wajahnya yang datar, Danesh menundukkan kepalanya untuk menatap Felly. Wajahnya terlihat sangat serius.
“Kau sangat ingin tahu?”
“Ya.” Felly mengangguk antusias.
“Karena aku tak bisa bertanggung jawab jika kau hamil,” jelas Danesh.
“Kenapa? Apa karena kau hanya seorang pelayan dan bukan dari keluarga kaya raya? Lalu kau tak percaya diri dengan keluargaku?” tebak Felly.
Untuk saat ini memang dirinya hanyalah seorang pelayan, namun jati dirinya yang asli bukanlah orang biasa. Tapi, Danesh tak bisa mengungkapkannya. Ia harus menutupi identitas aslinya.
“Ya, salah satunya adalah itu. Tapi ada alasan lain kenapa aku tak bisa bertanggung jawab.”
“Apa?”
Felly begitu serius menatap Danesh. Ia sangat penasaran. Bahkan ia mengesampingkan pesona Danesh yang mendebarkan jiwanya.
“Karena aku sedang menunggu seseorang yang aku cintai untuk kembali ke dalam hidupku. Aku tak ingin meruntuhkan hatinya saat ia kembali dan aku memiliki hubungan dengan wanita lain.” Danesh mengatakan alasannya, alasan yang mendominasi ketakutannya. Ia masih berharap bisa bersatu dengan Violet.
Felly mengulas senyumnya dan mengangguk. “Apa kau sangat mencintainya?”
“Ya, sangat.”
Baiklah, Felly sekarang mengerti. Setidaknya ia cukup terkesan dengan kejujuran Danesh dan kesetiaan pria itu untuk menunggu seseorang. Ditambah kegelisahan Danesh yang takut melukai hati orang yang dicintai.
Jika Felly hamil, bukan sepenuhnya salah Danesh. Karena dirinya yang meminta Danesh dan tanpa sadar menahan Danesh hingga meledakkan di dalam.
“Oke, sekarang kau bisa keluar. Lanjutkan saja pekerjaanmu. Aku akan pastikan jika benihmu tak akan berkembang di dalam rahimku,” tutur Felly.
Danesh membungkuk memberikan hormat. Ia mendorong trolley keluar dan kembali ke pantry.
...........
Jangan lupa:
1. Like
2. Komen
3. Hadiah
4. Follow akunku
5. Follow instagram aku: heynukha
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 195 Episodes
Comments
MyOne
Ⓜ️😵💫😵💫😵💫Ⓜ️
2024-06-06
0
Runik Runma
duh kasih an
2024-03-15
1
Retno Anggiri Milagros Excellent
Felly.. pasrahkan semua pada Allah. kalau memang jodoh pasti ketemu.. God bless you..❤️
2024-02-28
0