Felly keluar dari ruangan yang berisikan barang-barang dengan brand ternama. Ia sudah rapi dengan wajah cantik dan manisnya. “Aku akan sarapan bersama keluargaku. Terserah kau mau tetap di sini atau bekerja. Sebagai pemilik hotel tempatmu bekerja, aku membebaskanmu untuk hari ini.” Felly tak menunggu jawaban. Ia langsung keluar dan menutup pintunya.
Felly tak takut jika barang-barangnya dicuri. Toh, di dalam kamarnya ada CCTV yang terhubung dengannya.
Sepeninggalan Felly, Danesh berdecak kesal. “Jika tak mengingat aku butuh uang, tak mau aku tidur dengan wanita yang gagal menikah itu.” Ia pun mulai turun dari ranjang. Ia harus bekerja, ia bukan sultan lagi yang bisa mendapatkan apa pun tanpa mengeluarkan keringat.
Bayang-bayang wajah Violet terus menghantui pikirannya. Hari-hari bahagia yang Danesh lalui bersama mantan kekasihnya itu tak pernah terlupakan sedikitpun.
Rasa cintanya masih sama, tak berkurang sama sekali meskipun Violet mencampakmannya. Ia yakin jika wanita yang memenuhi hatinya itu tak bermain di belakangnya. Buktinya, dia mendapatkan keranuman Violet untuk pertama kalinya. Ditambah ia adalah salah satu putra pebisnis terkaya di Eropa, wajah juga tampan. Apa lagi yang kurang dari dirinya?
Tak ada alasan wanita menolaknya, hanya Violet yang membuatnya terus berpikir kesalahan apa yang sudah ia perbuat hingga ditinggalkan ketika cinta itu sudah sampai di puncaknya.
“Violet, maafkan aku,” gumam Danesh di bawah guyuran air dari shower.
Danesh tak pernah menyesal tidur dengan wanita, karena ia selalu menggunakan pengaman. Tapi tidak untuk kali ini, ia sangat menyesal. Jika saja wanita menyedihkan itu tak menghalanginya untuk menarik disaat yang tepat, pasti ia tak akan menyesal seperti ini.
“Argh ....” Danesh mengacak-acak rambutnya. “Setidaknya aku sudah mengatakan padanya jika aku tak bisa bertanggung jawab.”
...........
Bunyi pertemuan antara lantai dengan sepatu heels itu terdengar mendekat ke arah meja panjang yang kursinya sudah penuh oleh dua keluarga besar. Hanya ada satu kursi yang kosong, dan pastinya itu adalah tempat untuk wanita yang saat ini berjalan ke sana.
Semua mata menatap ke arah wanita itu. Hanya Fenny yang menatapnya sebal, karena harus menunggu wanita yang gagal menikah itu. Padahal perut sudah sangat lapar.
Felly membiarkan rambutnya yang lurus terombang ambing seirama dengan tubuhnya yang berlenggak lenggok. Dress berwarna peach itu sangat cocok dipakai olehnya. Cantik dan mempesona, memang tak pernah bisa lepas dari sosok Felly.
Felly pun menarik kursi yang kosong itu dan duduk di sana. “Maaf membuat kalian menunggu, semalam aku sangat lelah,” sesal Felly. Ia memasang wajah sebiasa mungkin, tetap mengulas senyum manisnya yang membuat pria di hadapannya tak berkedip sedikitpun sedari kedatangannya.
Ya, pria itu adalah Erland. Tak bisa dipungkiri jika Felly jauh lebih cantik daripada Fenny. Wajahnya juga tak membosankan untuk dipandang terus. Felly berwajah bak malaikat, lain hal dengan Fenny yang wajahnya judes. Sifatnya pun berkebalikan antara Felly dan Fenny. Felly rendah hati, dewasa, dan bisa diandalkan untuk meneruskan bisnis keluarga. Sedangkan Fenny sombong, apa pun yang dimiliki oleh Felly harus ia miliki, manja, dan tak bisa mengurusi bisnis keluarga.
Felly memutus pandangan matanya saat bertemu dengan iris mata berwarna coklat milik Erland. Ia sudah melepaskan pria itu untuk adiknya, ia tak ingin larut dalam perasaannya. Secepatnya ia harus melupakan Erland. Apa lagi mereka akan tinggal di rumah besar milik keluarga Wilson, tentu saja atas permintaan Papa Rey dan Mama Kyara yang tak ingin jauh dari kedua putri kembar itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 195 Episodes
Comments
MyOne
Ⓜ️🆗🆗🆗Ⓜ️
2024-06-06
0
Retno Anggiri Milagros Excellent
sabar ya Felly, jangan sedih. Tetap bahagia.. 🤭😍
2024-02-28
1
liberty
tapi situ doyan...kan bangs*t🙄
2024-01-26
1