Mobil BMW itu mulai melesat ke jalan raya, lalu memasuki jalanan sempit yang hanya bisa di masuki oleh satu mobil saja. Jika papasan dengan mobil lain, sudah pasti harus ada yang mundur salah satu. Tapi untungnya, hanya ada mobil yang ditumpangi Felly yang melewati jalan sempit itu.
“Sudah sampai, Nona.”
Mobil itu berhenti tepat di depan sebuah kontrakan yang terlihat sangat kumuh. Banyak sampah berserakan di sana.
Felly keluar dari mobilnya setelah dibukakan pintu oleh supirnya. Semua mata penduduk sekitar memusatkan perhatian pada Felly karena turun dari mobil mewah. Tak biasanya ada mobil mewah datang ke kampung mereka. Kecuali ingin memberikan peringatan untuk menggusur.
Warga yang saling berbisik dan menatap tak suka pada Felly membuat wanita dengan pakaian rapi itu tak enak. Felly pun memberikan senyum ramah pada warga sekitar untuk menunjukkan bahwa ia datang bukan untuk mencari masalah dengan mereka.
“Perlu saya temani, Nona?” tawar supir pridadi Nona Felly.
“Tidak perlu, Pak. Bapak tunggu saja di dalam mobil,” tolak Felly.
Supir itu hanya mengangguk dan menuruti perintah.
“Aw ....” Felly mengusap tangannya yang baru saja digigit oleh nyamuk.
“Ada ya bule bisa tinggal di lingkungan seperti ini?” gumam Felly.
Jika Felly menjadi Danesh. Sudah dipastikan ia tak akan betah. Sudah kumuh, banyak nyamuk, bau sampah pula.
“Auto kena demam berdarah aku jika tinggal di sini.”
Felly mengedarkan matanya, ia pun menemukan rumah kontrakan yang ia cari. Ia melangkahkan kakinya ke sana dan mengetuk pintu yang terlihat tak kokoh itu dengan hati-hati. Takut roboh.
Tak ada sahutan dari dalam. Ia pun kembali mengetuknya.
“Cari siapa, Neng?” tanya seorang pria yang sepertinya tetangga Danesh karena keluar dari rumah kontrakan samping.
“Danesh, Pak,” jawab Felly.
“Oh ... yang bule itu?”
Felly mengangguk ramah. “Iya, betul.”
“Dia udah pindah. Noh, di sono pindahnya.” Pria itu menunjuk sebuah gedung pencakar langit yang tak terlalu mewah. Tapi Felly tahu jika itu adalah bangunan apartemen.
Felly berterima kasih kepada pria yang memberikannya informasi, tak lupa ia memberikan orang itu beberapa lembar uang seratus ribuan.
“Wah ... sering-sering aja, Neng, tanyain Danesh ke sini. Kalau tiap hari sih gak perlu kerja lagi saya,” ujar pria itu dengan senang setelah menerima uang dari Felly.
Felly tak menanggapi lagi. Ia masuk kembali ke dalam mobil dan memberikan perintah pada supirnya untuk ke gedung apartemen yang tak jauh dari perkampungan itu.
...........
“Unit atas nama Danesh ada di lantai berapa dan nomor berapa, ya?” Felly bertanya kepada resepsionis yang berjaga di sana.
“Lantai sepuluh nomor satu nol satu nol, Nona.”
Setelah mendapatkan informasi unit apartemen Danesh, Felly langsung menuju lantai tersebut.
Dada Felly bergemuruh, antara takut, grogi, dan rindu bercampur menjadi satu.
Felly menghela napasnya sebelum ia memencet bel di pintu dengan angka yang terpampang nyata di sana 1010.
“Semoga Danesh ada di dalam.” Jemari lentik itu mulai memencet bel.
“Ya, sebentar.” Ada suara lirih yang terdengar menyahut dari dalam.
Apartemen itu bukanlah bangunan yang mahal, jika dilihat dari interiornya sepertinya dibangun memang untuk kalangan menengah. Bahkan setiap unitnya pun tak dilengkapi kedap suara. Buktinya, Danesh berbicara saja bisa terdengar hingga keluar.
Klek!
Danesh membuka pintu dari dalam.
“Eh ... hai.” Felly menyapa dengan canggung. Kata-kata yang sudah ia rangkai untuk diucapkan pada Danesh mendadak menghilang semua saat bertemu dengan orangnya langsung.
...........
Jangan lupa:
1. Like
2. Komen
3. Hadiah
4. Follow akunku
5. Follow instagram aku: heynukha
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 195 Episodes
Comments
MyOne
Ⓜ️😵💫😵💫😵💫Ⓜ️
2024-06-06
0
santi
Danish sakit ngidam kali thor ya
2024-04-04
2
Retno Anggiri Milagros Excellent
kasihan Danish . sakit apa .
2024-02-28
0