Shofiyya Mardhia, 30 tahun menikah dengan seorang pria yang ternyata telah menikah dan Memiliki 2 orang putra.
Syafiq Azwar Maliki, 28 tahun terpaksa menikah yang kedua atas keinginan istri pertamanya.
Nuha Syafura, 26 tahun terpaksa meminta dimadu karena sakit yang dideritanya.
Semua menjadi dilema saat Shofii mengetahui kebenaran setelah janji suci terucap.
Sanggupkah mereka terus harmonis?
Bagaimana ketiganya membawa hati yang ingin memiliki namun tak ingin menyakiti ...
Mampukah Syafiq adil, tak berpihak dan tak condong pada salah satunya ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bubu.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sepuluh
Shofii ... mengapa aku berfikir kini, jika semua tak adil untukmu. Lalu aku harus bagaimana? dan hati Syafiq terus bergemuruh di dalam sana.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sebulan berlalu sudah ...
Sebulan pula Syafiq hampir selalu pulang di jam 22:30.
Sebulan pula Shofii tertidur di sofa menunggu Syafiq.
Sebulan pula Shofii selalu memasakkan menu yang berbeda dengan ikhlas untuk sang suami.
Sebulan pula Syafiq selalu mengalihkan perhatian Shofii dengan memintanya bercerita guna menghindari hubungan suami istri diantara mereka.
Sebulan pula Shofii selalu tertidur dalam dekapan dan sapuan lembut Syafiq.
Sebulan pula Syafiq memiliki aktifitas baru mengamati wajah Shofii yang tertidur.
Sebulan pula Syafiq mulai sering berbohong pada Fura bahwa ia telah makan di kantor karena ingin makan masakan di rumah Shofii.
Sebulan pula Syafiq mulai menanti masakan lezat apa yang Shofii masak hari ini.
Sebulan pula Shofii berpositif thinking bahwa Syafiq pasti letih sehingga tak meminta haknya.
Dan sebulan pula ternyata banyak hal telah terjadi ...
Fura telah ikhlas dengan takdir hidupnya yang kini setiap malam harus tidur sendiri dan membiarkan Syafiq bersama Shofii, semua bukan tanpa alasan. Sebab nyatanya ia sangat yakin cinta Syafiq hanya miliknya. Terlebih Syafiq sering bercerita jika ia belum menyentuh Shofii lagi setelah malam pertama mereka. Dan kalaupun mereka berhubungan, dalam hati Fura tetap yakin bahwa Shofii hanya akan menjadi penyaluran hasrat Syafiq saja tanpa cinta menjadi landasannya.
Shofii mulai tak percaya diri .... Walau nyatanya Syafiq kerap memuji masakannya. Bahkan dekapan dan sapuan lembut selalu diterima dan membuatnya tenang terlelap. Syafiq selalu menjadi teman untuknya bercerita, tapi Shofii merasa tak sempurna menjadi istri. Semua disebabkan Syafiq tak pernah lagi meminta haknya setelah malam itu. Jika hanya menjadi teman berbincang, tentunya temanku juga banyak di rumah sakit untuk berbincang. Tapi aku adalah istri ... saat suami enggan berhubungan denganku. Hancurlah aku ... dalam benak Shofii terus bertanya, *Apa Salahku*??
Dan Syafiq ...
Cintanya pada Fura memang sudah tak perlu diragukan, namun hubungannya pada Shofii sungguh membuatnya tertekan. Semakin banyak Shofii bercerita tentang dirinya, rasa iba kerap memenuhi otaknya. Yang awalnya Syafiq ingin segera membuka segalanya pada Shofii, kini Syafiq kerap mengulur karena hawatir kata-katanya akan menyakiti hati Shofii. Dan lagi, hak Shofii yang sering ia lalaikan, seakan menghindarinya ternyata membuat Syafiq merasa bersalah. Ia kerap menahan hasratnya pada Shofii, hawatir dengan hubungannya tersebut ia turut memasukkan hati di dalamnya. Ia sungguh takut hatinya benar-benar terbagi untuk Shofii.
Karena sesungguhnya ia merasa tak sulit menyukai Shofii, dengan wajah cantik yang dimiliki Shofii yang tak kalah dari *Juriyy*-nya. Kepandaian Shofii memasak, kemandirian, kesabaran, juga sifat ceria yang sering ia tunjukkan padahal hatinya memiliki banyak sesak di masa lalu. Jika saja Syafiq membuka celah sedikit untuk Shofii, sangat mudah kepribadian positif Shofii memasuki hatinya. Kini Syafiq mulai dilema dengan semua itu.
Kamis, 07:00
Seperti biasa Shofii sudah terlihat memukau di pagi hari. Shofii memang sosok wanita masa kini yang pandai merawat wajah dan tubuhnya. Tubuhnya yang sedikit berisi di beberapa bagian, kulit-kulitnya yang masih tampak kencang sebab rutinitas senam senantiasa ia lakukan setiap sore menjelang maghrib. Juga gerakannya yang telihat luwes dan gesit melakukan sesuatu, menjadikan setiap aktifitas yang ia lakukan membuatnya semakin cantik.
Shofii juga pandai menempatkan sesuatu, ia kerap berdandan cukup cantik di rumah, digunakannya pewarna bibir yang merona juga eyeliner dan blushon tipis di wajahnya yang sudah ayu tanpa makeup, menjadi lebih memukau setelah dihias. Ia juga sering berpakaian menggoda di hadapan Syafiq, karena memang mereka tinggal hanya berdua, jadi Shofii merasa nyaman dengan tampilannya di rumah.
Namun saat jam 9 dimana Shofii bersiap berangkat ke rumah sakit menjalankan aktifitasnya. Sosok menggoda seketika berubah menjadi sosok anggun dengan polesan tipis di wajahnya. Semua tampak baik-baik saja dengan keceriaan yang Shofii tampilkan, walau nyatanya jiwanya kesepian, sebab sang suami sepertinya kurang tergoda dengan kecantikannya.
Di meja makan telah tersedia kini opor ayam yang ternyata merupakan menu kesukaan Syafiq. Shofii tak pernah letih berkutik di dapur setiap pagi untuk memuaskan perut sang suami. Ia sangat bahagia setiap kali melihat raut wajah Syafiq saat menikmati masakan yang ia buat. Kalaupun mas Syafiq enggan menyentuhku paling tidak aku melihat senyumnya saat menyantap hidangan yang kusajikan, lirih dan hancur dalam batin Shofii sesungguhnya.
Setelah makan seperti biasa Syafiq langsung berpamitan. Kecupan hangat yang Shofii tunggu lagi-lagi tak ia dapat, dan setelah sebulan ini agaknya sudah menjadi angan kosongku saja memperoleh keromantisan mas Syafiq, namun kecupan lembut di punggung tangan Syafiq tetap Shofii ikhlaskan menjadi satu-satunya sentuhan yang masih tersisa dalam hubungan mereka yang masih baru dan harusnya masih sangat hangat walau nyatanya Shofii merasa hambar.
APV Syafiq telah meninggalkan tempatnya. Shofii tampak tersungkur di tepi meratapi nasibnya. Iapun bertekad, walau perpisahan akan menjadi hal terburuk yang terjadi kembali, namun malam ini ia harus menanyakan segalanya. Alasan apa yang mendasari Syafiq seolah menghindarinya. Jika ada kesalahan dalam dirinya, ia akan berusaha merubahnya sebisa mungkin.
•
•
•
Waktu maghrib telah terlewat, ba'da sholat Isya Shofii dengan piyama tidurnya mulai menyalakan radio hendak mendengar kajian seperti biasa di radio. Kali ini ia memasang alarm agar di jam 10 ia terbangun dan siap menyambut Syafiq.
Beberapa saat berlalu ...
•
•
Alarm di ponsel Shofii telah berbunyi, seketika Shofii terbangun. Hingga beberapa saat terdengar mobil Syafiq telah masuk ke pekarangan.
Jika Mas Syafiq tau aku tidak tidur, ia tidak akan mengangkatku ke kamar. Aku pura-pura tidur saja ahh ... batin Shofii.
Hingga kini terdengar Syafiq masuk dan segera mendekat ke tubuh sang istri, disapunya kepala Shofii baru setelahnya ia merengkuh tubuh Shofii hingga ke ranjang.
Dihirupnya harum tubuh Syafiq saat mendekapnya. Mas Syafiq saat harum bahkan ia belum mandi tapi aroma tubuhnya seperti telah mandi. Seketika pula Shofii membuka matanya saat tubuhnya mendarat di ranjang.
"Mass ...."
"Jika kamu sangat mengantuk tidurlah kembali. Aku akan mengambil makananku sendiri," lirih Syafiq.
"Aku akan menyiapkannya, Mas," ucap Shofii mengangkat tubuhnya dan segera beranjak ke dapur.
"Beberapa saat Shofii tampak kembali dengan sepiring nasi, opor ayam dan acar di sisinya."
Syafiq pun tak berselang lama menghabiskan menu makan malam di piringnya tersebut. Hingga seperti biasa Syafiq mulai bertanya mengenai aktifitas Shofii seharian ini.
Tidak Mas ... hari ini aku sedang tidak ingin bercerita tapi ada yang harus kutanyakan padamu, batin Shofii.
"Mass, ada sesuatu yang ingin kubicarakan," lirih Shofii dengan saat hati-hati.
Sesuatu yang sangat sulit kukatakan tapi akupun enggan berbalik ...
"Katakanlah Sof," ucap Syafiq tenang.
"Mass ... sebulan sudah kita bersama. Maafkan jika kehadiranku tak berkenan untukmu," ucap Shofii yang bersandar di head board namun enggan menatap Syafiq.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu, Sof?"
"Karena nyatanya seperti itu, bukan?" lugas Shofii.
"Tunggu! Aku semakin tak mengerti ...," tutur Syafiq dengan wajah seakan heran.
"Ayolah Shof ... jangan berteka teki," lirih Syafiq seraya tak melepas tatapan Shofii.
"Kenapa kamu seakan bingung Mas. Kamu sungguh tak tau yang terjadi? Semua lantaran kamu selalu menghindariku, Mas----
"Mass ... apa aku tak cukup cantik untukmu? Hingga kamu tak tertarik menghabiskan malam denganku?"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
💔Happy reading❤❤