Clarissa adalah seorang mahasiswi kedokteran di Prancis. Tidak sengaja ia bertemu dengan lelaki bernama Jio, yang berprofesi sebagai Bodyguard profesional, yang juga hidup di Kota Paris, Prancis.
Jio lelaki dingin yang pernah patah hati, membuat Clarissa menjadi penasaran. Dengan segala cara, Clarissa mencoba mencari perhatian Jio.
bagaimana kisah Clarissa dan Jio?
Novel ini adalah sekuel dari novel sebelumnya yang berjudul Oh My Mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de'rini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10# Si ceroboh
Clarissa menatap Jio dengan seksama, saat lelaki itu membersihkan luka di ujung jarinya. Jio tampak sigap membubuhkan obat dan memperban luka di jari Clarissa.
"Terima kasih." Ucap Clarissa.
Jio menatap Clarissa dengan tatapannya yang dingin. Tanpa kata, Jio beranjak dari duduk nya dan berjalan menaruh kotak obatnya di lemari. Lalu, ia kembali menuju dapur dan melanjutkan membersihkan pecahan kaca yang masih tersisa di lantai dapurnya.
Jio menghidangkan masakannya di atas meja dapur. Lalu, ia menatap Clarissa.
"Ayo makan." Ucapnya tanpa ekspresi.
Clarissa tersenyum kepada Jio, lalu ia berjalan menghampiri meja dapur. Mereka duduk berhadap-hadapan, Clarissa menatap lauk pauk dan nasi hangat yang berada di atas meja.
"Chinese food? sup sehat?"
"Kenapa? gak suka?" Tanya Jio.
"Kamu bisa memasak Chinese food?" Tanya Clarissa sambil menatap Jio dengan tak percaya.
"Kalau aku gak bisa masak, ini namanya apa?" Tanya Jio.
Clarissa mengulum senyumnya.
"Suami idaman, ok Fix harus jadi suami ku." Gumam Clarissa di dalam hati.
"Gak usah kagum begitu kepadaku. Semua lelaki mandiri pasti pintar memasak." Ucap Jio.
Clarissa mencebikkan bibirnya.
"Bagaimana dia bisa tahu kalau aku kagum kepadanya?" Batin Clarissa.
"Makan, jangan bengong." Ucap Jio sambil menyerahkan sepasang sumpit kepada Clarissa.
Dengan ragu, Clarissa meraih sepasang sumpit itu dari tangan Jio.
Clarissa menyantap masakan Jio sambil terus menatap lelaki itu. Jio tampak tak perduli dengan dirinya yang terus mengagumi Jio. Lelaki itu makan dengan lahap hingga nasi di piringnya pun habis tak tersisa.
Jio beranjak dari duduknya dan berjalan ke wastafel.
"Aku ke kamar dulu. Habis makan, tolong di bereskan. Jangan lupa cuci piring. Tolong tahu diri sedikit." Ucap Jio.
Clarissa mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan pedas dari Jio.
"Huh...! dasar gak punya hati. Ya iyalah aku bakalan membereskan ini semua. Dia kira aku hanya sekedar numpang makan doang kali ya." Gumam Clarissa sambil mendengus kesal.
"Kalau kamu mengomel, sana tidur di luar." Ucap Jio yang sempat mendengar keluhan Clarissa.
"Ah, enggak kok." Ucap Clarissa sambil tersenyum terpaksa.
Jio melengos dan masuk kedalam kamarnya.
Clarissa menghabiskan makan malamnya. Lalu, ia membersihkan meja dan mencuci semua piring kotor yang ada di wastafel. Setelah itu, Clarissa membersihkan kompor dan mengelap peralatan makan dan memindahkannya kedalam lemari yang ada di atas kitchen set.
Setelah itu, Clarissa kembali duduk di sofa ruang tamu. Clarissa mulai celingak-celinguk mengamati apartemen Jio.
"Dia kemana sih? sudah tidur apa memang gak mau keluar gara-gara ada aku disini? hhhhh..dasar freak..!" Gumam Clarissa.
Bugggggg..!
Sebuah bantal dan selimut mendarat di kepala Clarissa.
"Aduh...!" Clarissa menoleh kebelakang dan menatap Jio.
"Upssss sorry." Ucap Jio sambil tersenyum manis.
"Sengaja ya..!" Ucap Clarissa.
"Iya." Sahut Jio sambil mematikan lampu ruangan itu.
"Kok di matikan? Aku belum mau tidur loh." Ucap Clarissa.
"Tuan rumahnya siapa?" Tanya Jio.
"Kamu."
"Ya sudah, aku mau tidur. Ya kamu juga harus tidur." Ucap Jio sambil berjalan menuju ke kamarnya.
"Hei.., kamar mandi dimana?" Tanya Clarissa.
"Apartemen ini sama dengan apartemen mu. Kau bisa cari sendiri." Ucap Jio sambil menutup pintu Kamarnya.
"Tapi.."
Brakkkkkkkkk..!
Jio sudah menutup pintu kamarnya.
"Kalau sama, berarti ada dua kamar. kenapa aku tidak di kamar saja?" Gumam Clarissa.
Clarissa mulai berjalan menuju ke kamar Jio. Di depan kamar Jio terdapat sebuah kamar yang lainnya. Clarissa mulai memutar pintu kamar itu. Clarissa mencoba menyalakan lampu di kamar itu. Lalu, ia pun masuk dan melihat sebuah ranjang disana.
"Dasar pelit. Masa aku di suruh tidur di sofa, sedangkan disini ada kamar." Gumam Clarissa.
Ia mulai menaruh bantal dan selimut yang jio berikan kepadanya di atas ranjang. Lalu, ia beranjak ke kamar mandi di kamar tersebut.
Clarissa menuntaskan hajatnya, lalu ia mencuci wajahnya yang terasa lengket. Setelah mencuci wajahnya, Clarissa baru teringat bila ia tidak diberikan handuk oleh Jio. Clarissa pun membuka bajunya dan menjadikan bajunya sebagai handuk untuk wajahnya.
Saat Clarissa akan memakai kembali bajunya, baju itu pun terasa lembab dan tak layak untuk di pakai kembali. Sedangkan tubuh Clarissa mulai terasa lengket dan tidak nyaman. Karena seharian dia di kampus dan di rumah sakit.
Clarissa mengendus tubuhnya. Ia langsung merasa tidak nyaman dan mengibas-ngibaskan tangannya di depan hidung nya. Lalu, Clarissa pun berniat untuk mandi dan langsung membuka semua pakaian yang menempel di tubuhnya. Clarissa pun masuk kedalam bathtub dan menyalakan air hangat untuk ia berendam.
Setelah hampir dua jam lamanya, Clarissa pun keluar dari kamar mandi. Sebelum membuka pintu, ia mengintip terlebih dahulu dari celah pintu kamar mandi itu.
Clarissa pun merasa aman saat melihat tidak ada siapa-siapa di kamar itu. Clarissa keluar dari kamar itu tanpa sehelai benangpun. Lalu, ia beranjak ke lemari yang berada disana.
Sial baginya, di lemari itu tidak ada satupun baju Jio atau pakaian yang tergantung disana. Clarissa pun langsung meraih selimut dan membalutkan nya di tubuh polosnya. Lalu, Clarissa kembali ke kamar mandi dan menatap pakaiannya yang basah dengan putus asa.
Mau tidak mau, Clarissa berjalan keluar dari kamar itu dengan berbalutkan selimut. Lalu, ia pun memberanikan diri untuk berjalan menuju laundry room.
Setelah sampai di laundry room, Clarissa memasukan pakaiannya kedalam mesin cuci. Lalu, ia menekan tombol washing dan dry. Setelah itu, ia pun berniat kembali ke kamar.
Bruggggg...!
Clarissa menabrak Jio saat ia membalikkan tubuhnya, ternyata Jio sudah berdiri di belakangnya dan sedang memperhatikan dirinya yang mencuci pakaian di mesin cuci milik lelaki itu tanpa izin.
Clarissa menatap Jio dengan salah tingkah, terutama karena ia hanya terlilit selimut dan tampak sedikit berantakan karena rambutnya yang basah dan tak di sisir.
"Ck," Ucap Jio sambil tersenyum kecil dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ma-maaf kalau aku tidak izin sebelumnya. Hanya saja, kalau tidak di cuci, besok aku harus pakai apa? kan aku tidak bisa masuk ke apartemen ku." Ucap Clarissa.
Jio menatap Clarissa dari ujung kaki hingga ke ujung rambut gadis itu. Tentu saja tatapan Jio membuat tubuh Clarissa menjadi gemetar.
"Terus setelah ini kamu mau meminjam pakaian dalam ku?" Tanya Jio.
Clarissa menundukkan kepalanya.
"Oh iya, aku pakai apa ya? Duh, bodohnya aku." Gumam Clarissa sambil menepuk-nepuk dahinya.
"Atau jangan-jangan kamu sengaja mau membuat aku khilaf?" Tanya Jio sambil berbisik di telinga Clarissa.
"Ti-ti-tidak." Ucap Clarissa dengan gemetar di tubuhnya yang semakin hebat.
Jio tertawa kecil saat melihat ekspresi wajah Clarissa yang merasa takut kepadanya.
"Tenang saja, aku tidak berminat. Nih..!" Ucap Jio dengan wajah yang datar sambil menyerahkan sebuah kemeja dan celana pendek kepada Clarissa. Lalu, ia membalikkan tubuhnya dan kembali ke kamarnya.
Clarissa terpaku menatap punggung Jio. Setelah lelaki itu masuk ke kamarnya Clarissa pun terduduk lemas di atas lantai laundry room itu.
"Astagaaaa..!" Gumam Clarissa.
..
Jio menatap gerak gerik Clarissa dari monitor di ruangannya. Jio diam-diam tersenyum sambil menggelengkan kepalanya saat melihat gadis yang sangat membuat dirinya terganggu itu tampak lemas dan terduduk di atas lantai.
Jio memang mempunyai banyak cctv di apartemennya kecuali di dalam kamar. Sejak ia masuk kedalam kamarnya, bukan berarti Jio sudah tertidur. Tetapi, ia terus menatap Clarissa yang tampak mulai aktif saat dirinya tak berada di sekitar gadis itu.
"Nama mu sekarang si ceroboh. " Gumam Jio sambil tersenyum jahil.