NovelToon NovelToon
CLBK Couples

CLBK Couples

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Tamat
Popularitas:2.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Ichageul

Mengandung adegan 21+
Bijaklah dalam memilih bacaan

Kisah cinta tiga pasangan yang harus kandas namun belum sepenuhnya usai.

Kisah cinta Regan dan Sarah sampai di pernikahan. Keduanya hidup bahagia sampai ujian datang menerpa rumah tangganya. Mereka terpaksa berpisah saat kehilangan anak tercinta dengan cara yang tragis.

Irzal dan Poppy dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Di saat cinta mulai tumbuh, masalah datang menerpa. Seseorang dari masa lalu memporak porandakan biduk rumah tangga yang baru seumur jagung.

Berawal dari sebuah permainan. Rasa cinta antara Ega dan Alea mulai tumbuh. Sejarah kelam dan permusuhan orang tua membuat keduanya harus terpisah.

Sekian lama berpisah, ketiga pasangan ini bertemu kembali. Takdir mempertemukan mereka semua terhubung dalam ikatan yang sulit dijelaskan. Akankah mereka dapat bersatu kembali dengan orang yang dicintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Complicated Couple (2) Kesepakatan

Jam di dinding menunjukkan pukul sebelas lebih lima puluh menit. Irzal masih berkutat di depan laptopnya. Dia harus menyerahkan laporan peluncuran produk yang telah diadakan minggu lalu. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, ummi yang menelponnya. Tanpa melepaskan pandangan dari laptop, dia menjawab panggilan.

“Assalamu’alaikum.”

“Waalaikumsalam.. Irzal kamu lagi sibuk ngga?” terdengar suara ummi dari seberang.

“Lagi bikin laporan, kenapa ummi?”

“Temani ummi makan siang ya.. ummi ada di cafe di sebrang kantor kamu.”

“Tapi ummi..”

Belum sempat Irzal melanjutkan kalimatnya, ummi kembali berbicara.

“Ngga ada tapi-tapi, ummi tunggu sekarang!” ummi langsung memutuskan hubungan.

Irzal menghela nafas. Setelah menyimpan file laporannya, dia beranjak pergi menuju cafe yang dimaksud.

Jarak cafe dari kantor Irzal tidaklah jauh, dengan cepat dia sampai di cafe. Karena sekarang jam makan siang, suasana cafe cukup ramai. Irzal melihat berkeliling, namun tak menemukan sosok ummi. Namun pandangannya terhenti di sebuah meja yang berada diujung. Poppy sedang duduk di sana sambil bermain dengan ponselnya. Kini Irzal mengerti, ini hanya akal-akalan ummi saja. Dia berjalan menuju meja di mana Poppy berada lalu berhenti di depannya. Poppy yang sedang bermain ponsel melihat ke arah Irzal.

“Eh ummi udah dateng.. tumben ga pake hijab,” ledek Poppy.

Irzal menarik kursi dengan kasar lalu duduk di depannya. Baru saja duduk ponsel Irzal berbunyi, telepon masuk dari ummi.

“Assalamu’alaikum.”

“Waalaikumsalam.. kamu udah ketemu Poppy?” tanya ummi.

“Udah.”

“Kamu makan siang bareng Poppy dan jangan lupa kirim foto kalian ke ummi ya.”

Belum sempat menjawab, lagi-lagi ummi memutuskan hubungan. Irzal bertambah kesal, terlebih saat melihat Poppy yang cengar-cengir ke arahnya. Tak berapa lama pelayan datang. Dengan terpaksa dia memesan makanan, begitu pula dengan Poppy.

Mereka hanya terdiam dan asik dengan ponselnya sambil menunggu pesanan datang. Lima belas menit kemudian pesanan datang. Setelah menaruh pesanan, pelayan segera meninggalkan meja namun Poppy menahannya.

“Mba.. tolong fotoin kita dong,” pinta Poppy.

“Boleh mba,” jawab pelayan itu sambil tersenyum.

Poppy memberi isyarat pada Irzal untuk memberikan ponselnya pada pelayan itu. Dengan malas Irzal memberikan ponselnya. Pelayan segera mengambil gambar Poppy dan Irzal. Kemudian pamit pergi. Setelah mengirimkan foto dirinya dan Poppy pada ummi, Irzal mulai menyantap makanannya. Lagi-lagi tidak ada percakapan di antara keduanya, masing-masing hanya sibuk dengan pikirannya sendiri.

Dari arah pintu, masuklah sepasang suami istri ke dalam cafe. Mereka melihat sekeliling untuk mencari meja yang kosong. Lalu pandangannya tertuju pada Poppy. Keduanya berjalan mendekat.

“Permisi,” ucap wanita itu pada Poppy.

Poppy yang sedang makan langsung melihat ke arah datangnya suara. Dia mengenali wanita itu.

“Oh ibu,” Poppy bangun dari duduknya.

“Bapak gimana keadaannya, sudah baikan?” tanya Poppy pada laki-laki di sebelah wanita itu. Irzal melihat ke arah mereka dan mengenali lelaki itu.

“Alhamdulillah.. terima kasih sudah menolong suami saya. Kalau darah tingginya kumat, suami saya tidak bisa jalan. Dan maaf kemarin karena panik saya ngga sempat bertanya nama mba.”

“Saya Poppy bu.”

“Makasih ya mba Poppy,” ucap laki-laki yang pernah ditolongnya.

Poppy hanya mengangguk sambil tersenyum. Mereka pun pamit pada Poppy dan tak lupa tersenyum pada Irzal. Lelaki itu balas tersenyum.

Seperginya pasangan itu, Poppy melihat ke arah Irzal dengan pandangan meledek. Irzal hanya diam saja, meneruskan makannya. Sesekali dia berdehem menghilangkan perasaan tidak enaknya karena sudah menuduh Poppy yang bukan-bukan tempo hari. Poppy pun tidak mempedulikannya.

Seusai makan, Poppy memanggil pelayan untuk meminta bill. Tak berapa lama pelayan datang memberikan bill. Poppy membuka tasnya, mengeluarkan dompetnya.

“Aku aja yang bayar, kan ummi yang ngajak kamu makan siang.”

Irzal mengambil billing dari tangan Poppy. Dia mengeluarkan dompetnya, mengambil sejumlah uang lalu memberikannya pada pelayan tersebut.

“Kembaliannya ambil aja.”

“Terima kasih pak,” jawab pelayan itu sambil tersenyum.

Poppy memasukkan kembali dompetnya ke dalam tas, lalu berdiri dan,

“Ok, makasih buat makan siangnya dan permintaan maaf kamu diterima.”

Tanpa menunggu jawaban dia langsung pergi. Irzal mengendus kesal, sikap Poppy benar-benar membuatnya jengkel.

❤️❤️❤️

Malamnya sepulang kerja, Irzal mencari adiknya yang sedang asik bermain ponsel di kamarnya. Rena tidak memperdulikan kedatangan kakanya, terus saja bermain game. Irzal duduk di tempat tidur lalu menarik kursi yang sedang diduduki Rena.

“Aduh.. apaan sih kak, ganggu orang aja,” gerutu Rena kesal.

“Katanya mau bantuin kakak, mana?”

“Ya nanti dong, kan harus disusun dulu rencananya.”

“Ok, kalau gitu hpnya kakak sita sampai kamu udah dapet rencananya.”

Irzal mengambil ponsel dari tangannya. Rena yang tak terima langsung berdiri mencoba mengambil kembali ponselnya. Irzal mengangkat tangannya tinggi-tinggi sehingga tidak dapat dijangkau.

“Iya.. iya aku bantu sekarang, tapi kasihin dulu hp nya,” pinta Rena tapi Irzal tak menggubrisnya.

“Aku mau telpon ka Poppy sekarang jadi tolong hpnya please,” kata Rena lagi.

Irzal pun memberikan ponsel tersebut. Rena segera mengambilnya dari tangan Irzal. Mengetuk ikon kontak, mencari nama Poppy kemudian menelponnya. Terdengar suara menyambung, tak berapa lama terdengar suara Poppy.

“Halo.”

“Halo kak Poppy, ini Rena.”

“Oh ada apa Ren?”

“Ngga.. cuma pengen ngobrol aja. Kak Poppy kan calon kakak ipar aku.”

Irzal melotot ke arah Rena. Sedang Poppy hanya tertawa kecil mendengar ucapan Rena.

“Menurut kak Poppy, Kak Irzal gimana?”

“Hmm.. gimana ya.”

“Nyebelin ya,” sambar Rena.

“Harus super sabar kalo ngadepin kak Irzal. Orangnya tuh nyebelin, galak, pelit, juteknya tingkat dewa, pokoknya yang jelek-jelek numpuk semua di dia. Kalau bisa, sebenernya Rena pengen tuker tambah kakak, kaya Steffan William gitu. Kalo ngeliat muka kak Irzal tuh asem banget,” tambahnya.

Wah Rena, berani sekali dia melontarkan pujian indah pada kakaknya. Aksinya ini langsung dihadiahi jeweran Irzal. Rena meringis sambil memegang telinganya.

“Mending kakak pikirin lagi deh soal perjodohan sama kak Irzal. Dari pada kak Poppy makan hati, nanti badan jadi kurus, penyakitan pula. Dia itu suka menindas yang lemah, dan Rena tuh selalu jadi korban penindasannya. Jadi sebelum terlambat, sebelum kacang ijo menjadi bubur, mending kak Poppy menjauh. Kalau kak Poppy butuh saksi, Rena dengan senang hati akan bersaksi di depan mama kak Poppy, supaya kak Poppy ngga jadi korban kebengisannya kak Irzal. Aduh ada kak Irzal, gawaat.. udah dulu ya kak.. bye..bye..”

Rena langsung mematikan ponselnya. Dia melihat ke arah Irzal yang sudah menunjukkan wajah perang sambil mengangkat jarinya membentuk huruf V.

“Hehehe.. peace kak.”

Irzal mendekat, lalu dengan cepat mengambil ponsel dari tangan Rena.

“Ponsel ini kakak sita sampai jangka waktu yang tidak ditentukan!”

“Ya kak, jangan gitu dong,” rengek Rena.

“Kamu sendiri yang bilang, kakak tuh orangnya bengis dan suka menindas!”

Irzal keluar dari kamar adiknya. Tapi sebelumnya sebuah toyoran mendarat di kepala adiknya. Rena melempar bantal dengan kesal ke arah Irzal sambil berteriak marah.

❤️❤️❤️

"Assalamu’alaikum,” salam Rena pelan saat memasuki rumah.

Langkahnya gontai, wajahnya cemberut. Rena terus berjalan tanpa menengok kanan dan kiri. Saat akan naik ke lantai atas, ummi yang sudah menunggunya di ruang tengah langsung memanggilnya.

“Rena.”

Rena menengok ke arah ummi. Dia langsung menghampiri ummi, mencium punggung tangannya lalu ikut duduk di sampingnya.

“Hp kamu mana? Ummi hubungi dari tadi ngga nyambung-nyambung.”

“Disita kak Irzal,” jawab Rena pelan.

“Apa? disita sama kak Irzal? Kenapa bisa?”

Rena terdiam, menyesal kenapa harus keceplosan. Kan bisa panjang urusannya.

“Kamu baru beli hp kan? Dapat uang dari mana?”

“Nabung ummi.”

“Kamu mana bisa nabung, hobinya jalan-jalan sama jajan. Ayo jujur sama ummi, kamu dapat uang dari mana beli hp baru terus kenapa hp kamu sampe disita sama kak Irzal?”

Rena terdiam. Ini adalah saat-saat menegangkan untuknya. Dirinya seperti makan buah simalakama. Kalau dijawab bakal kena pentung kakaknya, ngga dijawab kena pentung ummi. Rena menggaruk-garuk kepalanya walau tidak terasa gatal.

Ummi tidak menyerah dia terus membombardir Rena dengan berbagai pertanyaan. Hingga akhirnya gadis itu pun tak bisa mengelak dan menceritakan semuanya. Tentang kesepakatan antara dirinya dengan Irzal, sampai yang terjadi kemarin malam.

“Berapa uang yang dikasih kak Irzal sama kamu?”

“Satu juta enam ratus ummi.”

Setelah mendengar jawaban Rena, ummi masuk ke dalam kamar. Setelah itu ummi keluar sambil membawa dompetnya. Dia mengeluarkan uang dari dompetnya, menghitungnya sebentar lalu menyerahkannya pada Rena.

“Nih, kembaliin uangnya kak Irzal,” ucap ummi seraya menyodorkan uang ke arah Rena.

Sesaat Rena masih terdiam, lalu mengulurkan tangannya hendak mengambil uang tersebut. Tapi belum sempat diambil, ummi menarik lagi tangannya.

“Tapi ada syaratnya.”

Rena memandang tak percaya pada ummi. Kakak dan umminya ternyata memiliki kesamaan, senang memanfaatkan dan memeras dirinya.

“Kamu harus bantu ummi supaya perjodohan kakak kamu sama Poppy berhasil.”

“Ngga usah Rena bantu juga pasti berhasil. Kak Irzal mana berani ngebantah ummi sama abi. Makanya kak Irzal minta bantuan Rena karena kakak ngga berani ngebantah ummi.”

“Ummi tau soal itu. Yang ummi maksud, kamu harus bantuin ummi bikin kak Irzal sama Poppy deket. Gimana caranya mereka biar bisa mengenal satu sama lain, kamu kan sering punya ide yang aneh-aneh. Siapa tau ada yang berhasil.”

Rena tersenyum mendengar ucapan ummi. Dia melihat ada celah bagi dirinya membuat kesepakatan yang menguntungkan.

“Deal... sekarang mana uangnya?”

Ummi melihat sejenak pada Rena lalu menyerahkan uang tersebut padanya. Rena menghitung uang di tangannya, jumlahnya pas satu juta enam ratus.

“Uang ini untuk biaya pembatalan kontrak dengan kak Irzal, uang asuransinya mana?”

“Asuransi apa?” tanya ummi tak mengerti.

“Asuransi jaminan keselamatan Rena. Ummi ngga tau apa gimana nyereminnya kak Irzal. Kalau dia tahu Rena bikin kesepakatan sama ummi, bisa habis Rena. Makanya ummi, Rena minta tambahan uang asuransi,” Rena berusaha meyakinkan ummi (bisa ae gentong aer).

Ummi geleng-geleng kepala mendengarnya. Dia tidak tahu dari mana anaknya ini mempunyai bakat seperti makelar. Ummi akhirnya menyerah, mengambil uang lagi dari dompetnya lalu menyerahkan pada Rena. Dengan cepat Rena mengambil uang dari tangan ummi dan memasukkan ke saku bajunya. Setelah itu dia naik ke atas menuju kamarnya.

Sesampainya di kamar, dia segera duduk di depan meja belajarnya. Mengambil buku dan pulpen lalu mulai menulis sebuah surat. Rena melepaskan kertas dari buku. Melipatnya, kemudian memasukkan uang beserta surat ke dalam amplop, merapatkannya diakhiri dengan menuliskan nama Irzal pada amplop tersebut.

Rena keluar dari kamarnya, masuk ke dalam kamar Irzal. Dia menaruh amplop di atas meja kerja. Selanjutnya mulai menggeledah kamar mencari keberadaan hp-nya. Rena mencari di meja dan laci, tapi tidak ada. Lalu meraba ke sela-sela kasur, masih belum ketemu. Lanjut membuka lemari baju, mencarinya di laci dan sela-sela tumpukan baju, tetap tidak ada. Rena melihat ke atas lemari, mungkin ada di sana pikirnya. Dia pun menarik kursi ke dekat lemari dan menaikinya. Meraba-raba, namun hp yang dicarinya belum juga ditemukan.

Rena kembali memeriksa tempat-tempat yang tadi sudah digeledahnya, takut-takut ada yang terlewat, tapi memang tidak ada. Dia berpikir sejenak, lalu membuka kembali lemari. Kali ini dia menggeledah di bagian pakaian yang menggantung. Dia melihat jas Irzal, lalu meraba bagian saku dalam jasnya dan aha.. ini dia. Rena berhasil menemukan hp nya. Dia jingkrak-jingkrak kegirangan. Rena lalu membereskan kembali kamar Irzal dan keluar dari kamar sambil mencium hp nya.

Irzal memasuki kamarnya, hari ini dia letih sekali. Begitu banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya sampai harus lembur hingga tengah malam. Irzal meletakkan tasnya di atas meja. Pandangannya tertuju pada amplop bertuliskan namanya. Dia segera mengambil amplop tersebut dan membukanya. Di dalamnya terdapat uang dan selembar surat.

*Dear kak Irzal tersayang...

Sebelumnya dari lubuk hati Rena yang paling dalam Rena meminta maaf yang sebesar-sebesarnya karena tidak bisa menepati janji Rena untuk menjadi sekutu kakak sampai akhir. Apa boleh buat, ummi mengetahui konspirasi kita untuk memboikot perjodohan. Dan demi keselamatan serta kelangsungan uang jajan Rena, akhirnya dengan berat hati Rena menyetujui perintah ummi untuk mengembalikan uang kakak.

Kakak percaya kan kalau jodoh di tangan Tuhan, sekuat apapun ummi dan abi menjodohkan kalau tidak jodoh maka ngga akan terjadi pernikahan. Sebaliknya biar kakak lari ke ujung dunia kalau kak Poppy jodoh kakak, pada akhirnya kakak pasti bakal bertemu di depan penghulu.

Jadi kakakku tersayang, tolong lupakan semua tentang kesepakatan kita. Sebenarnya ini dilema untuk Rena, tapi mau bagaimana lagi. Rena tidak mau menjadi anak durhaka, jangan sampai Rena dikutuk jadi coet sama ummi. Nanti kakak ngga akan bisa melihat wajah Rena yang cantik rupawan ini. Sekali lagi Rena minta maaf dan Rena cuma bisa mengatakan selamat berjuang kakakku tersayang, fighting...

Dari adikmu yang cantik dan baik hati, Renata Aurelia*.

Irzal tertawa membaca surat dari Rena, adiknya ini memang konyol. Dia lalu membuka lemari pakaian, meraba saku dalam jasnya, hp yang disembunyikan olehnya sudah tidak ada.

Awas Rena, tunggu pembalasan dari kakak.

❤️❤️❤️

Hari ini Irzal janji bertemu dengan Poppy. Dia ingin membicarakan tentang perjodohan mereka secara serius. Irzal yakin kalau Poppy juga tidak menyetujui perjodohan ini, jadi tak ada salahnya jika mereka bekerja sama untuk mencapai tujuan yang sama. Suasana d’Light cafe malam ini tidak begitu ramai. Irzal sudah berada di meja menunggu Poppy.

Lima menit kemudian Poppy datang. Dia masih mengenakan pakaian kerjanya. Irzal memperhatikan pakaian yang dikenakannya. Kemeja dusty dan rok berwarna abu. Dia cukup risih melihat rok yang dikenakan Poppy begitu minim. Namun tak dipedulikannya itu. Berusaha tetap fokus dengan hal yang akan dibicarakannya. Poppy menghampiri meja Irzal dan langsung duduk di depannya.

“Sorry ya telat, baru beres kerja soalnya.”

“Ngga pa pa.. mau pesen apa?” suara Irzal terdengar santai.

Poppy sedikit heran dengan sikap Irzal hari ini yang terkesan lebih baik.

Irzal melambaikan tangannya pada seorang pelayan yang sedang standby di meja kasir. Pelayan itu datang menghampiri. Dengan cepat dia mencatat pesanan, setelah itu pergi untuk mempersiapkan pesanan. Setelah pelayan itu pergi, tanpa basa-basi Poppy langsung membuka pembicaraan.

“Aku tau tujuan pembicaraan kita hari ini soal perjodohan kan. Dari awal aku udah tegasin kalau aku juga ngga setuju dengan perjodohan ini. So, mau kamu gimana?”

“Sepertinya kita harus bicara dengan orang tua masing-masing. Kita harus bisa meyakinkan mereka. Pernikahan yang dipaksakan seperti ini, aku ngga yakin ke depannya bakal kaya gimana.”

“Ok aku setuju. Aku bakal ngeyakinin mama buat ngebatalin perjodohan ini. Kamu juga begitu, jadi apa yang kita bicarakan nanti tuh sejalan, kalau kita sama-sama ngga setuju.”

Irzal mengangguk mendengar ucapan Poppy. Baru kali ini Poppy bisa diajak serius dan tidak membuatnya emosi jiwa. Kalau dari awal dia seperti ini pasti masalah perjodohan akan cepat selesai.

“By the way kamu kerja dimana?” tanya Irzal.

“Di dealer mobil.”

“SPG?”

“Bukan, aku bagian akunting.”

Irzal mengangguk-angguk tanda mengerti. Tak lama pesanan datang, mereka langsung menyantapnya. Sesekali mereka berbicara tentang pekerjaan masing-masing. Poppy cukup terbuka menjawab pertanyaan Irzal. Dia pun sudah tidak bersikap ketus lagi.

“Ini karena aku laper atau emang makanannya yang enak ya,” ucap Poppy.

Makanan di piringnya sudah tersapu bersih. Irzal tertawa kecil mendengarnya.

“Dua-duanya mungkin, yang kamu makan itu menu andalan cafe ini,” Irzal menjelaskan. Dia adalah pelanggan tetap cafe ini.

“Oh iya aku permisi ke toilet dulu ya,” ucap Irzal. Poppy mempersilahkan dengan menggunakan tangannya.

Sambil menunggu Irzal kembali, Poppy melihat-lihat ponselnya. Ada beberapa pesan yang masuk. Dia mulai membalas pesan satu persatu. Suasana cafe berangsur ramai, hampir semua meja terisi penuh. Hanya tinggal dua meja yang masih kosong. Kedua meja itu letaknya berdekatan dengan meja Poppy.

Terdengar suara pelayan menyambut pengunjung yang datang. Tiga orang pemuda baru saja masuk. Pelayan langsung memandu mereka ke meja di dekat meja Poppy. Ketiganya langsung duduk. Mereka melihat ke arah Poppy yang sedang asik dengan ponselnya. Pandangan ketiganya langsung tertuju ke bagian bawah Poppy. Rok yang dikenakan Poppy begitu pendek, hingga hampir setengah bagian pahanya terlihat. Ketiga pemuda itu terus menatap paha putih mulus, sesekali mereka berbisik membicarakan dirinya.

Irzal keluar dari toilet berjalan kembali ke mejanya. Dia melihat tiga pemuda yang duduk dekat mejanya sedang menikmati pemandangan gratis kemolekan tubuh Poppy. Irzal menjadi gerah. Dengan cepat dia berjalan ke kursinya lalu mengambil jaketnya. Kemudian meletakkan jaket di pangkuan Poppy untuk menutupi pahanya. Poppy terkejut dengan apa yang dilakukan Irzal. Dia hendak menyingkirkan jaket itu tapi Irzal melarangnya.

Setelah itu dia membalikkan badannya ke arah tiga pemuda tersebut. Melihat ke arah mereka dengan tatapan tajam. Karena tidak enak hati mereka pun memalingkan wajah. Irzal kembali duduk di hadapan Poppy.

“Kamu ngga bisa apa pakai rok yang lebih panjang?”

“Emang kenapa?” Poppy menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lagi.

“Kamu tahu kalau tadi tuh cowo-cowo di meja sebelah lagi ngeliatin paha kamu. Kamu ngga risih apa?” nada suaranya terdengar kesal.

“Ah dasar mereka aja yang otaknya ngeres,” ucap Poppy santai. Irzal menatap tak percaya padanya.

“Ya udahlah ngga usah digede-gedein. Oh iya soal cara aku berpakaian bisa kamu jadiin alasan untuk menolak perjodohan, oke.”

Irzal hanya diam tidak menjawab. Kalau itu Rena mungkin sudah habis dijewer olehnya. Poppy sendiri seolah bersikap tak perduli. Padahal dalam hatinya dia kagum dengan apa yang dilakukan Irzal barusan. Setidaknya itu menunjukkan kalau Irzal bukanlah laki-laki brengsek dan mata keranjang. Setelah menghabiskan minumannya Poppy berdiri, dia menyerahkan jaket kepada Irzal.

“Udah malem, aku pulang dulu ya. Oh iya makasih buat makan malamnya.”

Tanpa menunggu jawaban, Poppy segera beranjak pergi. Kalau berlama-lama bisa gawat, bukan tidak mungkin dia kepincut oleh sikap laki-laki ini.

Irzal berjalan menuju kasir untuk membayar tagihan. Sesekali melihat ke arah Poppy yang terus berjalan menuju pintu keluar. Setelah menyelesaikan pembayaran Irzal buru-buru keluar dari cafe. Menengok ke kanan dan kiri mencari sosok Poppy. Akhirnya dia melihat Poppy yang sedang berjalan menuju sebuah halte. Irzal buru-buru menyusulnya.

“Kamu pulang naik apa?” tanya Irzal begitu berada di dekat Poppy.

“Naik bis, kenapa?”

Irzal tak menjawab pertanyaan Poppy. Di saat yang bersamaan lewat sebuah taksi kosong. Dia buru-buru menyetopnya.

“Naik taksi aja, udah malem.”

Tanpa menunggu persetujuan Poppy, Irzal langsung membukakan pintu taksi. Menarik tangannya masuk ke dalam. Poppy tidak bisa menolak karena Irzal terus memaksanya. Irzal segera menutup pintu taksi. Setelah itu berjalan menuju motornya yang terparkir di depan cafe.

Di dalam taksi Poppy masih kebingungan dengan sikap Irzal.

Kenapa hari ini tuh orang sikapnya manis banget ya.

Sikap Irzal hari ini bertolak belakang dengan apa yang dilihat sebelumnya. Tapi Poppy tidak mau ambil pusing. Setelah menyebutkan alamat yang dituju, dia duduk bersandar sambil memejamkan matanya. Poppy tidak menyadari kalau Irzal mengikuti taksi yang ditumpanginya dari belakang.

Taksi yang ditumpangi Poppy akhirnya sampai di perumahan tempatnya tinggal. Setelah membayar ongkos taksi, dia keluar dan tak lama taksi itu pergi. Irzal menghentikan motornya di tempat yang agak jauh dari rumah Poppy. Dia terus memperhatikannya, menunggunya masuk ke dalam rumah. Setelah Poppy masuk ke dalam rumah, Irzal membalikkan motornya, memacu motornya pulang ke rumah.

“Assalamu’alaikum,” ucap Poppy seraya membuka pintu.

“Waalaikumsalam,” terdengar suara mama menjawab salam Poppy.

Poppy langsung masuk ke dalam kamar mama. Wanita paruh baya itu masih belum tidur, sedang menyelesaikan jahitan pelanggannya. Poppy mencium punggung tangannya.

“Mama belum tidur?”

“Tanggung nih bentar lagi beres, besok mau diambil jahitannya,” jawab mama tanpa menghentikan pekerjaannya.

Poppy duduk di atas kasur, memperhatikan mamanya yang sedang memasang kancing.

“Ma.”

“Hmm..”

“Ma, aku mau ngomong soal perjodohan.”

“Ada apa?”

“Aku kayanya ngga bisa ngelanjutin perjodohan ini ma.”

Mendengar ucapan Poppy, sontak mama menghentikan pekerjaannya. Dia membalikkan badannya. Menatap anak sulungnya ini lalu berkata,

“Apa alasannya?”

“Aku ngga bisa aja ma. Lagian Irzal juga ngga setuju dengan perjodohan ini. Jadi lebih baik kita batalin aja ya ma. Aku janji akan secepatnya menikah, tapi ngga dalam waktu dekat ini dan ngga sama Irzal juga.”

Mama menghela nafas, tidak menanggapi ucapan Poppy. Hanya kembali melanjutkan pekerjaannya.

“Ma, jawab dong, please.”

“Ngga ada yang perlu mama jawab. Buat mama keputusan untuk menikahkan kamu dengan Irzal sudah bulat. Kalau kamu sayang mama, tolong turuti keinginan mama ini,” mama berkata sambil meneruskan pekerjaannya.

“Tapi ma.”

“Lebih baik kamu cepat tidur, pasti cape habis lembur.”

Poppy terdiam sebentar, kemudian bangkit dari duduknya segera pergi menuju kamarnya. Mama melihat sekilas ke arah Poppy, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.

❤️❤️❤️

Hhmmm.. kira-kira mereka jadi nikah ngga ya? Ayo terus ikutin kisah mereka selanjutnya. Jangan lupa ditunggu like, comment dan vote nya ya😉💖

1
Sri Mulyati
pelaku utama mamanya ega karna ega bkn anak kandungnya
aurora
otw sah ini🤭🤭
aurora
kalau yang muncul part Ega udah auto cengar cengir 🤣🤣
Lina Suwanti
keren Poppy,anaknya nakal lsg bicara ma orang tuanya
Lina Suwanti
tuh kan part ini tentang kepergian ummi😭😭
Lina Suwanti
iyalah bukan Ega,,kayaknya Ega dikasih obat tidur nah klo Soraya baru dikasih obat perangsang
Lina Suwanti
kak author bikin laper iih bahas nasi liwet dkk😁
Lina Suwanti
pasti Sarah yg kena,,ya Allah kak author jgn pisahkan Regan dgn Sarah baru jg mereka menikah kembali
Lina Suwanti
Alhamdulillah.....ga perlu buka google translate 🤣
Lina Suwanti
akhirnya Ega n Alea akan segera menikah dgn restu para ayah
Lina Suwanti
ternyata Adit n Rizal orang yg sama😁
Lina Suwanti
secret admirer Debby itu bisa jd Adit atau Afrizal....
Lina Suwanti
dibikin penasaran sm author tentang siapa pelaku sebenarnya 🤔
Lina Suwanti
klo menurut saya bagus kok kak alurnya,,nyambung....jd tau kisah awal persahabatan antara Regan,Irzal n Ega jg Sarah,Poppy,Alea n yg lain walau suka greget klo ada couple yg mist komunikasi jd salah faham
Lina Suwanti
apakah orang yg sama yg modus merampok Sarah?
Lina Suwanti
kurang deh kayaknya kak🤣
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru merilis cerita berjudul : "In Between" ✨️
Kalau berkenan silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Mila tidak pernah menyangka kalau 'penghancur' masa remajanya akan kembali lagi jadi bosnya di kantor. Ini bukan cuma soal benci, tapi soal luka yang dipaksa sembuh saat pelakunya ada di depan mata.
total 1 replies
Lina Suwanti
beginilah klo blm kenal maka jd salah faham antara Poppy n Alea😄
Lina Suwanti
awal hubungan persahabatan ya kak
Lina Suwanti
awal mula pertemanan antara Regan,Irzal n Ega nih karena seringnya pertemuan tak sengaja
Lina Suwanti
lah kenapa pada berpisah ini kak....😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!