Mala Jinaya tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.
Ia hanya seorang junior di sebuah perusahaan yang terbiasa menunduk, mengalah, dan berkata "nggak apa-apa" setiap kali rekan senior memanfaatkannya.
Sampai sebuah kejadian membuatnya harus menikah diam-diam dengan Rafael Ibra—lead engineer yang bahkan nyaris tidak pernah ia temui di kantor.
Tidak ada pesta.
Tidak ada cinta.
Bahkan, tidak ada perasaan apapun di antara mereka.
Hanya sebuah pernikahan yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Dan yang lebih buruk, mereka harus berpura-pura tidak saling mengenal di tempat kerja.
Namun akankah mereka akan tetap begitu? atau ada yang berubah seiring berjalannya waktu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon songjihee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Gelisah Ibra
Ibra yang teleponnya tidak diangkat menghela napas panjang. Bahkan pesannya sejak tadi siang tidak kunjung dibalas. Pria itu mengacak rambutnya dengan kasar, lalu menjatuhkan tubuhnya ke sandaran sofa.
Sudah beberapa kali ia mencoba menghubungi Naya, tetapi tidak satu pun mendapat jawaban.
Ponsel di tangannya kembali ia buka, menampilkan chat rata kanan miliknya.
Ia tahu, Naya pasti masih ketakutan. Ia juga sadar, bahwa kehadirannya mungkin justru membuat perempuan itu semakin tidak nyaman, seperti ucapan Mama beberapa menit lalu. Namun, berdiam saja juga bukan pilihan baginya.
Ah sial!
Ia pun memilih untuk mengetik sesuatu.
^^^Ibra|^^^
^^^Naya, kalau kamu sudah baca pesan saya, balas satu kali saja. Saya cuma mau tahu keadaanmu.^^^
Ibra menatap kalimat itu lama. Jarinya berhenti di atas tombol send, bimbang antara kirim atau tidak.
Beberapa detik kemudian, seluruh tulisan tersebut ia hapus, melempar pelan ponselnya ke sebelahnya.
"Harus gimana, sih..." gumamnya pelan seraya menyandarkan kepala ke bahu sofa, memejamkan mata sejenak.
Pagi tadi, ia berjanji akan bertanggung jawab. Tetapi semakin ia memikirkan semuanya, semakin ia sadar bahwa tanggung jawab bukan sekadar mengucapkan kalimat saja.
Bertanggungjawab yang bagaimana? Dirinya saja masih bingung dengan hidupnya sendiri, lalu bagaimana ketika kemungkinan buruk itu terjadi dan dia harus benar-benar bertanggungjawab?
Ck, ia bahkan tidak tahu apa yang sedang Naya butuhkan darinya. Diberi jarak? Ditemani? Atau justru dibiarkan?
Ibra mengerang frustrasi. Ia bingung, gundah bukan main. Ia meraih ponselnya lagi, ingin menghubungi Naya, ingin bertanya. Namun untuk pertama kalinya, Ibra ragu, apakah keinginannya untuk memastikan Naya baik-baik saja justru akan terasa seperti tekanan bagi perempuan itu?
Akhirnya, Ibra mengunci kembali layar ponselnya.
"Kalau dia belum siap bicara..." gumamnya lirih, "artinya gue harus nunggu."
Ia meletakkan ponsel di atas meja meski pikirannya tidak ikut tenang. Entahlah, yang jelas sejak pagi tadi bayangan wajah Naya yang ketakutan terus menghantui kepalanya. Tatapan putus asanya masih tergambar jelas.
Ah, jika begini, Ibra tak akan bisa menyelesaikan pekerjaannya. Pikirannya terbagi, juga rasanya sakit sekali. Meski ia tahu, ini bukan sepenuhnya salahnya, namun tetap saja, ini menjadi kesalahannya sebab melakukan hal itu.
Ibra beranjak, menuju kamar mandi dan membasuh wajahnya di wastafel. Sungguh, ini melelahkan. Dia pusing, dia lelah, seharian ini pikirannya kacau balau sampai lupa kalau dia tidak menyentuh makanan apapun sejak pagi.
Di depan cermin, wajahnya terlihat jauh lebih kusut daripada biasanya. Rambutnya berantakan, mata lelah serta ekspresi yang tidak bisa menyembunyikan kegelisahan.
Tangannya perlahan menarik kerah bajunya ke bawah, bekas pukulan Naya tadi pagi memang masih terasa nyeri. Kendati demikian, yang jauh lebih membekas justru suara tangis perempuan itu.
"Aku takut..."
Suara Naya kembali terngiang di kepalanya.
Ibra membuka mata, menatap dirinya sendiri dengan tatapan kosong.
Ia belum bisa membicarakan semua ini kepada siapa pun selain mamanya. Ia bahkan tidak sanggup membayangkan harus menceritakan kejadian semalam kepada orang lain, termasuk kepada papanya.
Namun beberapa jam lagi, Papa akan pulang.
Dan tentu saja, Ibra harus mengulang semuanya. Bicara lagi, menjelaskan lagi, dan menerima apa pun reaksi yang akan diberikan Papanya.
Ibra mengembuskan napas panjang. Entah bagaimana respons Papa nanti, ia tidak tahu.
Marah? Kecewa? Atau bahkan lebih buruk.
Kedua tangan Ibra bertaut erat di depan wajah.
Ia sudah siap kalau-kalau Papa memarahinya, menampar atau memukulnya karena kecewa, Ibra tidak akan menghindar.
Bukan karena ia merasa pantas disakiti.
Sebab kali ini, ia merasa tidak punya hak untuk melarikan diri. Ia sadar bahwa ada sesuatu yang jauh lebih berat daripada menerima kemarahan orang lain, menghadapi akibat dari kesalahan yang bahkan tidak bisa ia tarik kembali.
Ponselnya kembali ia lirik, tidak ada pesan balasan dari Naya. Ibra menghela napas dalam, rasanya melelahkan.
Begitulah, Ibra dan gelisahnya.
****
Lady dan Marina sepulang kerja tadi pergi ke salon terkenal yang ada di dalam pusat perbelanjaan. Rambut keduanya sedang ditangani oleh pegawai salon ketika pembicaraan mereka kembali berputar pada satu nama yang sejak pagi menghantui pikiran.
Naya.
Atau lebih tepatnya, mereka sedang membicarakan perempuan itu di belakang punggungnya, alias menggosip.
Tentang Naya yang dapat bonus libur. Tentang Naya yang dianggap pandai mencari muka. Tentang bagaimana Pak Danang terus memuji karyawan kontrak yang menurut mereka baru bekerja sebentar itu.
Dua bulan terakhir, rasa kesal mereka terhadap Naya memang semakin menjadi-jadi.
Bukan karena Naya pernah melakukan sesuatu yang benar-benar merugikan mereka. Justru karena Naya selalu berhasil melakukan pekerjaannya dengan baik.
Hal yang bagi orang lain mungkin biasa saja, tetapi bagi Lady dan Marina terasa seperti ancaman.
"Kak..." Marina membuka suara sambil menatap pantulan dirinya di cermin besar salon. "Aku mikirnya Naya bangun, tapi enggak di kamar siapa pun."
Lady yang duduk di sebelahnya mengangguk kecil. "Kayaknya."
"Yaudah, berarti enggak perlu takut kita," tutur Marina.
"Takut dari apa? Kayaknya kamu aja yang berpikir berlebihan," tolehnya.
Marina mengangguk, menyandarkan tubuhnya pada kursi salon, masih menatap pantulan wajahnya di cermin.
"Besok kita jalan, yuk, Kak. Mumpung weekend."
Lady yang sejak tadi memainkan ponselnya mengangkat wajah. "Besok?"
"Iya. Katanya mau cari sepatu sama makan di tempat baru."
Lady terdiam sejenak, lalu menggeleng kecil. "Kayaknya enggak bisa, deh."
"Lho, kenapa?"
"Ada urusan."
"Urusan apa?"
Lady hanya tersenyum tipis, lalu kembali menatap layar ponselnya. "Ada yang harus aku temui."
Marina mengerutkan kening, tetapi tidak bertanya lagi. Sedangkan Lady kembali menunduk, menyembunyikan ekspresi yang sekilas berubah ketika sebuah notifikasi baru muncul di layar ponselnya.
Satu nama muncul di sana.
Nama yang seharusnya tidak pernah menghubunginya lagi.
Lady melirik Marina diam-diam, tatapannya lama, sulit diartikan, lalu bergulir ke layar ponsel guna memberikan balasan, pada kontak itu.
Di tempat yang berbeda, sebuah mobil hitam baru saja memasuki halaman rumah mewah dengan interior klasik modern itu. Mobil berhenti tepat di depan teras.
Seorang sopir turun lebih dulu dan membukakan pintu belakang.
Sosok pria paruh baya keluar dengan setelan kerja yang masih melekat di tubuhnya. Menyerahkan tas kepada salah satu pelayan sebelum melangkah masuk tanpa banyak bicara.
Di lantai atas, Ibra yang sejak tadi berdiri di balkon akhirnya menangkap pergerakan itu. Dari kejauhan, tatapannya mengikuti sosok sang Papa yang menghilang di balik pintu utama.
Ibra mengembuskan napas panjang. Tangannya yang bertumpu pada pagar balkon mengencang, sementara kepalanya sedikit menunduk.
"Datang juga..."
Ia sudah menunggu beberapa jam untuk momen ini.
Dan sekarang, ketika waktunya benar-benar tiba, keberanian yang tadi ia kumpulkan perlahan terasa menguap.
Ibra melirik pantulan dirinya pada pintu kaca balkon. Rambutnya masih sedikit berantakan, tetapi wajahnya terlihat jauh lebih lelah dari sebelumnya.
Malam ini, ia harus mengungkapkan semuanya.
Tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi.
Ibra memutar badan meninggalkan balkon. Dengan berat keluar kamar dan menuruni tangga.
Dan kini, Ibra menghentikan langkah tepat di lantai dasar, berdiri kaku menantikan sosok pria yang amat diseganinya itu muncul dari balik belokan.
Tiga detik berikutnya, pria paruh baya dengan wibawa yang begitu kental itu datang. Jasnya sudah ditanggalkan, kini tersisa kemeja putih yang tertekuk di lengan. Tatapan mata sang Papa yang tajam seketika mengunci sosok Ibra yang berdiri membisu di tengah ruangan.
"Ibra," panggil Papa dengan suara baritonnya yang tenang namun berbobot. "Mamamu bilang kamu menunggu Papa sejak siang. Ada hal penting yang mau kamu bicarakan, benar?"
Ibra mengangguk. Dan tanpa jeda langsung membungkuk, maksudnya berlutut--sebuah gestur pengakuan bersalah yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.
"Pa, maafin Ibra. Ibra gagal..."
Makasih thor lanjut up ya