Lily adalah gadis biasa yang suka makan kue dan membaca novel, tiba-tiba masuk ke dalam dunia buku yang baru saja ia baca! Dan yang lebih parah—ia bukan menjadi tokoh utama, melainkan penjahat sampingan yang nasibnya berakhir sangat menyedihkan di akhir cerita.
Dengan wajah imut, sifat polos, dan hobi makan kue, Lily bertekad mengubah takdirnya. Tapi siapa sangka, rencana hidup tenangnya malah berubah jadi rumit—karena siswa paling dingin di sekolah, ketua OSIS yang tegas, dan bahkan pewaris perusahaan besar… semuanya jadi terpesona padanya!
"Kau ini sebenarnya makhluk apa?" tanya siswa dingin itu dengan wajah datar, tapi tangannya tak melepaskan pinggangnya.
Lily tersenyum polos sambil memegang kue: "Aku cuma gadis yang suka makan, Mas~"
Apakah Lily bisa selamat dari akhir cerita yang tragis? Atau malah menemukan kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia Utari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 16: Jejak yang Mulai Terlihat
Hari pertama berlalu tanpa hasil yang nyata. Tim akuntan yang dikirim ayah Ethan bekerja sepanjang malam, memeriksa ribuan lembar laporan keuangan, namun tidak menemukan kesalahan hitung yang jelas. Semua transaksi terlihat sah dan rapi, seolah-olah kerugian itu terjadi murni karena penurunan pasar yang tiba-tiba. Namun aku tahu—itu semua hanyalah kepura-puraan. Dalang di balik ini pasti sudah merencanakannya jauh-jauh hari, menyusun segalanya sedemikian rupa sehingga sulit ditemukan jejaknya.
Malam itu, aku duduk di ruang kerja Ayah, menatap tumpukan laporan yang membumbung tinggi di atas meja. Mataku terasa perih dan berat karena kurang tidur, namun aku tidak bisa berhenti. Di sampingku, Ethan duduk diam tanpa mengeluh, sesekali memberiku segelas air hangat atau menyisir rambutku pelan dengan jari tangannya, memberiku kekuatan tanpa perlu banyak bicara. Mark juga tidak pulang—ia terus mengakses data transaksi dari perangkatnya, wajahnya tegang dan serius. Elena mengirimkan pesan berkali-kali, menanyakan kabar dan mengirimkan informasi yang ia temukan dari berita-berita lama tentang perusahaan pesaing.
"Kita tidak melihatnya karena kita mencari di tempat yang salah," ucap Mark tiba-tiba di tengah keheningan malam, suaranya terdengar tajam dan penuh keyakinan. Ia mengangkat layar perangkatnya dan menunjuk ke sebuah baris angka yang samar. "Semua kerugian besar tercatat terjadi dalam tiga bulan terakhir, tepat setelah ada perubahan sistem pelaporan keuangan internal perusahaan. Dan setiap kali ada transaksi besar yang keluar, ada satu nama yang selalu muncul di daftar penandatangan—Paman Gerald, wakil direktur keuangan perusahaan Ayahmu sendiri."
Aku tertegun. Paman Gerald? Dia adalah paman jauhku yang sudah bekerja di perusahaan keluarga sejak aku masih kecil. Selama ini aku mengenalnya sebagai orang yang pendiam, rajin, dan selalu sopan kepada semua orang. Ayah sangat mempercayainya, bahkan menganggapnya seperti saudara sendiri. Bagaimana mungkin dia bisa melakukan hal seperti ini?
"Tapi… dia selalu begitu baik," gumamku pelan, masih sulit mempercayainya. "Dia tidak punya alasan untuk menjatuhkan perusahaan itu."
"Orang yang paling kita percayalah yang paling tahu di mana letak kelemahannya," jawab Ethan lembut namun tegas. "Dan kalau dia yang melakukannya, pasti ada jejak yang tersisa. Kita hanya perlu menemukannya sebelum waktu habis."
Keesokan paginya, aku menemui Ayah di ruang kerjanya. Wajahnya terlihat semakin tua dan lelah, lingkaran hitam di bawah matanya semakin tebal. Saat aku menyebutkan nama Paman Gerald, Ayah terdiam lama sekali, lalu perlahan menggeleng dengan tatapan penuh keraguan.
"Tidak mungkin, Lily. Gerald sudah bersamaku selama belasan tahun. Dia setia…"
"Aku juga tidak mau percaya, Ayah," potongku pelan namun tegas. "Tapi data menunjukkan dialah yang menandatangani setiap transaksi yang mencurigakan. Dan dia adalah satu-satunya orang yang memiliki akses penuh ke sistem keuangan sejak awal. Ayah, kita tidak punya waktu untuk membiarkan perasaan menutupi kenyataan. Kalau kita salah, kita bisa meminta maaf nanti. Tapi kalau kita benar dan tidak segera bertindak, semuanya akan hancur."
Ayah menatapku lekat-lekat, seolah baru pertama kali melihat putrinya yang dewasa dan berani. Perlahan, ia mengangguk pelan. "Baik. Aku akan memeriksanya. Tapi… bagaimana kalau ini benar? Bagaimana kalau orang yang kupercaya selama ini mengkhianatiku?"
"Kalau itu benar," jawabku dengan suara yang mantap, "itu bukan salah Ayah. Itu pilihan dia. Dan kita akan menghadapinya bersama-sama."
Siang itu, Ayah memerintahkan untuk memblokir akses Paman Gerald ke sistem perusahaan sementara tim penyelidik menelusuri lebih dalam. Namun baru beberapa jam setelah perintah itu dikeluarkan, kabar buruk datang lagi—beberapa investor besar menarik dana mereka lebih cepat dari yang diperkirakan, dan batas waktu yang tersisa kini tinggal satu hari saja. Satu hari untuk menyelamatkan perusahaan yang sudah puluhan tahun dibangun keluarga Shen.
Malam itu, aku pulang ke rumah dengan perasaan berat. Langit di luar tampak gelap gulita, tanpa bintang tanpa bulan, seolah mencerminkan hatiku yang penuh kegelisahan. Tante Lisa menyambutku di pintu dengan wajah cemas, namun sebelum aku sempat masuk, ponselku berdering. Itu pesan dari nomor yang tidak dikenal, berisi satu kalimat singkat yang membuat darahku membeku:
Berhenti mencari. Kalau tidak, kau dan keluargamu akan menyesal.
Aku menatap layar ponsel itu lama sekali, lalu perlahan mengepalkan tanganku erat-erat. Ancaman. Itu artinya kita berada di jalur yang benar. Mereka takut. Dan ketakutan mereka adalah tanda bahwa kita bisa menang.
"Aku tidak akan berhenti," gumamku pelan, menatap kegelapan malam di luar jendela. "Tidak peduli apa pun yang terjadi. Aku tidak akan membiarkan kalian merampas kebahagiaanku dan keluargaku."