"Mas Akball itu mobilan Aqil balikin ngga!" teriak sebuah suara cempreng dari arah ruang tengah.
"Bukan! Ini punya Mas Akbar! Kemarin Aqil udah main yang warna merah, sekarang Mas yang biru!" balas Akbar
Sejak perceraiannya tiga tahun lalu, Abi memang mantap untuk tidak mempekerjakan ART. Ia ingin merawat dan membesarkan kedua buah hatinya dengan tangannya sendiri, meski statusnya sebagai duda beranak dua sering kali menguras energi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Motor Abi berhenti tepat di depan pekarangan rumah Bu Marni. Belum juga mesin motor mati sepenuhnya, Akbar dan Aqil sudah sibuk bersiap untuk turun. Begitu Abi membantu menapakkan kaki mereka ke tanah, kedua bocah itu langsung berlari kegirangan masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum, Nenek!" seru Akbar dan Aqil kompak dari arah depan.
"Waalaikumsalam..." sahut suara Bu Marni yang terdengar dari arah dapur.
Akbar melongokkan kepalanya ke dapur, mendapati neneknya yang sedang sibuk memegang sodet di depan kompor. "Nenek lagi masak buat Akbar juga?"
Bu Marni menoleh lalu tersenyum hangat menatap kedua cucunya. "Iya, buat Mas Akbar, Aqil, Ayah, sama Tante Nadia. Nanti kita makan malam di sini, oke?"
"Oke, Nenek!" jawab Akbar girang.
Tak lama kemudian, Abi melangkah masuk ke dalam rumah membawa tas kain berisi pakaian dan tumpukan guling buluk anak-anak. Ia berjalan menuju dapur menyusul ibu dan anak-anaknya.
"Assalamualaikum, Bu," sapa Abi tenang.
"Waalaikumsalam..." Bu Marni mematikan kompor sebentar.
"Gimana jadinya?"
Abi mengerti arah pertanyaan ibunya yang menanyakan soal perkembangan masalah Arya. Namun, melihat kedua anaknya masih berdiri di sana, Abi memegang bahu Akbar dan Aqil pelan.
"Mas Akbar sama Aqil samperin Tante Nadia di kamar gih, dipanggil Tantenya tuh," suruh Abi lembut, memberi jalan agar ia bisa berbicara empat mata dengan ibunya.
Bu Marni mengusap tangannya ke celemek yang terikat di pinggang, lalu menatap Abi dengan raut wajah cemas dan penasaran. Dipastikannya langkah kedua cucunya sudah benar-benar masuk ke dalam kamar Nadia sebelum ia melanjutkan pembicaraan.
"Gimana, Bi? Arya ada ngga nelpon kamu?" tanya Bu Marni pelan.
"Ada, Bu. Tadi sebelum ke sini Arya wis nelpon aku," jawab Abi tenang sambil meletakkan tas pakaian dan guling buluk anak-anak di atas kursi.
Bu Marni mendekat setapak, memegang lengan Abi. "Oalah... Trus opo sing diomongake dheweke, Bi? Dheweke panik opo piye?"
"Yo panik banget, Bu," sahut Abi.
"Arya njaluk pangapura banget karo Abi. Dheweke cerita yen masalah wingi kuwi murni salah paham pas situasi darurat medis. Dheweke janji arep rene mengko weng, mau ketemu langsung sama Nadia dan Ibu buat jelasin semuanya sambil bawa buktinya."
Bu Marni mengelus dadanya, menghela napas panjang yang terasa berat. "Gusti Allah... Mugi-mugi pancen mung salah paham, Bi. Kasihan Nadia, lagi ngandhut ngene kok malah diuji pikiran abot."
Abi menepuk pelan punggung tangan ibunya untuk menenangkan. "Iya, Bu. Mulane Ibu tenang wae dhisik. Mengko ben Arya cerita kabeh wae ben padhang."
Suara tangis nyaring tiba-tiba pecah dari arah kamar. Belum sempat Abi dan Bu Marni mencerna keadaan, Aqil sudah berlari keluar sambil menangis sesenggukan. Nadia menyusul cepat dari belakang dengan raut wajah panik bercampur cemas.
"Ayahhh!" jerit Aqil, langsung menubruk dan memeluk erat kaki ayahnya.
Abi yang terkejut seketika berjongkok. Ia merengkuh tubuh mungil itu, lalu menangkup kedua pipi Aqil yang sudah basah oleh air mata.
"Lho, lho... kenapa nangis, Jagoan?" tanya Abi lembut sambil mengusap air mata anaknya. "Kenapa, Nak? Ada yang sakit?"
Bu Marni yang ikut cemas langsung menatap adiknya. "Nadia, kamu apain anak ini?"
"Nggak diapa-apain, Bu, Mas," sahut Nadia cepat, tangannya mengusap dada sendiri.
"Di... di perut Tante Nadia ad-ada kaki, Yah! Hikz..." adu Aqil terbata-bata di antara isakannya, menyembunyikan wajah di leher Abi. "Bayinya... bayinya nendang Tante Nadia! Kasihan Tante Nadia disakitiii!"
Abi dan Bu Marni seketika saling pandang. Ketegangan yang tadi sempat membelenggu dapur mendadak menguap, berganti senyum lega bercampur geli di wajah mereka.
Tak lama, Akbar menyusul keluar dari kamar sambil menepuk dahi sendiri. "Aqil penakut banget, Yah! Padahal tadi adiknya cuma nendang pelan!"
"Oalah... jadi gara-gara itu kamu nangis?" sahut Bu Marni sambil terkekeh pelan, menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah sang cucu.
"Aqil, dengerin Ayah ya. Adik bayinya nggak nyakitin Tante Nadia, Sayang. Justru itu tandanya adik bayinya sehat, lagi main-main di dalam perut."
"Beneran, Yah? Nggak sakit?" tanya Aqil sesenggukan, matanya berkedip-kedip menatap sang ayah.
"Nggak sakit sama sekali, Aqil," timpal Nadia lembut. Ia berjongkok di sebelah Abi, lalu mengambil tangan kecil Aqil dan menempelkannya perlahan ke perutnya sendiri. "Nih, coba pegang lagi. Adiknya cuma mau nyapa Mas Aqil sama Mas Akbar."
Tepat saat tangan mungil itu menempel, sebuah dorongan halus kembali terasa dari dalam. Aqil sempat terlonjak kaget, tetapi kali ini matanya membelalak bukan karena takut, melainkan heran bercampur kagum.
"Tuh kan! Nggak sakit kan, Qil?" celetuk Akbar.
Tawa kecil akhirnya pecah di ruang tengah itu, mencairkan seluruh sisa ketegangan yang sempat menggantung sebelum kedatangan mereka.
Nadia tiba-tiba memegang perutnya lalu menatap Abi dengan pandangan penuh harap.
"Mas, beliin pecel, dong," pinta Nadia tiba-tiba.
Abi membelalakkan mata, refleks melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam. "Hah? Udah malam gini mana ada yang jual pecel, Nad? Tukang pecel mah biasanya jualan pagi sampai siang."
"Ada, Mas! Yang di dekat gapura desa itu loh, masih buka," sahut Nadia tak mau kalah.
"Beliin ya, Mas... Please,"
Bu Marni hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan putri bungsunya. "Halah, Nadia... Nadia. Jam segini kok malah aneh-aneh mintanya."
"Tapi beneran ada kok, Bu! Mas Abi, beliin ya?" rengek Nadia lagi sambil menarik-narik ujung baju kakaknya.
Abi menghela napas panjang, lalu terkekeh pelan sambil merogoh saku celananya untuk mengambil kunci motor. "Ya udah, iya. Tak cariin ke gapura desa. Kalau tutup, Mas nggak tanggung jawab ya."
"Ikut, Yah! Aqil ikut beli pecel!" seru Aqil mendadak antusias, air matanya yang tadi membasahi pipi mendadak kering tak berbekas.
"Akbar juga ikut, Yah! Mau naik motor!" timpal sang kakak, tak mau kalah gesit memegang ujung celana Abi.
Abi menggeleng tegas sambil menjauhkan kunci motor dari jangkauan kedua anaknya. "Kalian di sini aja. Dingin angin malamnya, nanti kalian masuk angin."
"Pake jaket, Ayah!" cetus Akbar tak mau kalah, memutar otak mencari alasan agar tetap diajak.
"Nggak ada," balas Abi singkat dan mantap, memutus celah tawar-menawar. "Jaket kalian kan di rumah, nggak dibawa ke sini. Kalian di rumah aja sama Nenek dan Tante Nadia."
Mendengar penolakan tegas dari ayahnya, bibir Aqil langsung cemberut, siap-siap mengeluarkan senjata tangisan ronde kedua. Namun, Bu Marni dengan sigap langsung menengahi.
"Udah, sama Nenek aja di sini. Nanti Nenek kupasin buah naga di dapur. Mau nggak?" tawarnya membujuk.
Mendengar kata buah naga, pertahanan Aqil dan Akbar langsung goyah. Kedua bocah itu saling pandang sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan, walau wajah mereka masih sedikit ditekuk karena gagal naik motor.
"Ya udah deh... tapi Ayah cepat pulang ya!" pesan Akbar.
"Sip. Ayah jalan dulu ya," pamit Abi lalu melangkah keluar pintu rumah.
"Beliin buat Aqil juga ya, Yah!" seru Aqil.
Abi menghentikan langkahnya sejenak, lalu menunduk menatap putra bungsunya dengan alis terangkat. "Uangnya mana?" tanya Abi pura-pura serius.
"Kan Ayah... ayahnya Aqil!" sahutnya santai.
"Duh, pinter banget ngomongnya. Ya udah, Ayah beliin. Tapi nanti dimakan bareng Mas Akbar, ya?" jawab Abi sambil mengusap gemas rambut Aqil.
"Siap, Ayah!" seru Aqil girang, lalu berbalik berlari masuk ke rumah sambil bersorak menghampiri kakaknya.