NovelToon NovelToon
Mekanik Sang Ustadz

Mekanik Sang Ustadz

Status: tamat
Genre:Action / Mengubah Takdir / Perjodohan / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Sebuah salah paham di malam khitbah menyatukan Farhan, seorang ustadz muda yang tenang, dengan Alika—mekanik jalanan yang liar dan pemberontak. Alika yang terbiasa hidup dengan debu aspal dan kunci pas harus beradaptasi menjadi istri dalam keluarga religius yang selama ini memandangnya sebelah mata. Di tengah ancaman masa lalu dan fitnah yang kejam, Farhan tidak mengubah Alika, melainkan membantunya "merestorasi" jati diri. Inilah kisah tentang pembuktian bahwa tangan yang hitam karena oli tetap bisa menggenggam surga dengan mulia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suara yang bergetar di dapan tamu

Dua minggu setelah kunjungan Ayah yang penuh ketegangan, Ummi Salamah menyampaikan sebuah rencana besar. Keluarga Farhan akan mengadakan pengajian rutin bulanan sekaligus syukuran kecil-kecilan atas pernikahan mereka. Ini bukan sekadar acara makan-makan; bagi Alika, ini adalah ujian terbuka. Selama ini, ia dikenal sebagai "si kembar yang bermasalah". Sekarang, ia harus tampil sebagai menantu di hadapan kerabat jauh, tetangga, dan yang paling mencemaskan: keluarganya sendiri.

"Alika, Ummi ingin kamu yang memimpin bacaan Surat Al-Ikhlas dan An-Nas nanti di depan ibu-ibu," ujar Ummi saat mereka sedang melipat mukena di ruang tengah.

Alika hampir menjatuhkan mukenanya. "Ummi, Alika baru sampai Iqra tiga. Tajwid Alika masih berantakan. Nanti kalau salah, memalukan keluarga Farhan."

"Tidak ada yang malu, Nak. Semua orang tahu kamu sedang belajar. Justru Ummi ingin menunjukkan bahwa menantu Ummi punya kemauan," balas Ummi dengan nada santai namun tidak menerima penolakan.

Selama tiga hari sebelum acara, Alika tidak berhenti berlatih. Ia mengabaikan ponselnya yang penuh dengan pesan dari teman-teman lamanya yang mengajak balapan liar atau sekadar nongkrong di kafe. Fokusnya hanya satu: lembaran Al-Qur'an besar milik Farhan. Ia menandai hukum bacaan dengan pensil, bertanya berulang kali pada Farhan tentang panjang pendeknya nada, hingga suaranya serak.

Hari yang ditentukan tiba. Ruang tamu rumah Farhan sudah penuh dengan hamparan karpet hijau. Aroma kayu cendana dan makanan khas hajatan memenuhi udara. Di sudut ruangan, Alika melihat Ayahnya duduk dengan wajah kaku, sementara Ibu dan Alya duduk di barisan wanita. Alya menatap Alika dengan senyum tipis yang tulus, namun Ibu tampak gelisah, seolah takut Alika akan melakukan hal memalukan.

Acara dimulai dengan pembukaan oleh Farhan. Setelah beberapa sambutan, tiba saatnya Ummi memberikan mikrofon kepada Alika. Suasana mendadak hening. Alika bisa merasakan tatapan tajam Ayahnya yang seolah meragukan kapasitasnya.

Alika memegang mikrofon dengan tangan gemetar. Ia menarik napas panjang, mencoba mengingat semua bimbingan Farhan setiap malam.

"Assalamu’alaikum warahmatullah..." suara Alika terdengar kecil di awal, namun ia mencoba menguatkan mentalnya.

Ia mulai membaca. "Bismillahir rahmaanir rahiim..."

Suaranya tidak selirih atau semerdu Alya yang sudah berpengalaman. Suara Alika lugas, sedikit berat, dan ada getaran ketakutan di setiap ujung ayat. Namun, ia membacanya dengan sangat hati-hati. Ia memastikan setiap huruf keluar dari tempat yang benar. Saat sampai pada ayat terakhir Surat An-Nas, Alika sempat terdiam sejenak karena tenggorokannya tercekat oleh rasa haru. Ia tidak pernah menyangka akan berada di posisi ini—berdiri sebagai orang yang mengajak orang lain berdoa, bukan orang yang dijauhi karena maksiat.

Begitu selesai, suasana tetap hening selama beberapa detik sebelum hadirin menyahut dengan ucapan "Aamiin" yang serempak. Alika melirik ke arah Ayahnya. Pria tua itu tidak memuji, namun ia tidak lagi memalingkan muka. Ia menunduk, mungkin merasa aneh melihat anak yang selalu ia maki kini bisa bersikap sesantun itu.

Setelah acara inti selesai, saat para tamu mulai menyantap hidangan, Alya menghampiri Alika di dapur.

"Kamu hebat, Al," bisik Alya sambil memegang lengan kembarannya. "Aku bahkan tidak menyangka kamu bisa menghafalnya secepat itu."

"Aku takut salah tadi, Al. Aku lihat Ayah terus," jawab Alika jujur sambil mengelap keringat di dahinya.

"Ayah tidak bicara apa-apa, tapi tadi aku lihat dia mendengarkanmu dengan serius. Itu kemajuan besar," kata Alya. Namun, raut wajah Alya kembali berubah sedih saat melihat ke arah Farhan yang sedang melayani tamu pria di luar.

Alika menyadari itu. "Al, kamu masih belum bisa melupakan Farhan?"

Alya menggeleng cepat, mencoba tersenyum. "Bukan itu. Aku cuma merasa... iri melihat betapa tenangnya hidupmu sekarang. Di rumah, Ayah makin sulit diajak bicara sejak kamu pergi. Dia seperti kehilangan sasaran amarahnya, dan sekarang aku yang sering terkena imbasnya kalau ada hal kecil yang salah."

Alika terdiam. Ia baru menyadari bahwa kepindahannya ke rumah Farhan meninggalkan lubang besar bagi Alya. Dulu, Alika adalah "tameng" bagi Alya; selama Alika nakal, Alya selalu aman sebagai anak emas. Sekarang, tanpa adanya Alika yang bisa disalahkan, standar kesempurnaan Ayah sepenuhnya dibebankan pada Alya.

"Nanti aku bicara pada Farhan. Kita cari jalan supaya kamu bisa sering main ke sini," janji Alika.

Malam itu, setelah semua tamu pulang, Farhan mendatangi Alika yang sedang membereskan sisa piring di dapur. Ia mengambil piring dari tangan Alika dan meletakkannya kembali ke meja.

"Sudah, biar Ummi dan asisten yang teruskan. Kamu sudah bekerja keras hari ini," kata Farhan.

"Aku cuma baca dua surat pendek, Farhan. Malu kalau dibilang kerja keras," sahut Alika.

"Bagi kamu itu cuma dua surat, tapi bagi saya itu adalah pernyataan perangmu terhadap masa lalu. Dan kamu menang," Farhan menatap Alika dengan bangga. "Terima kasih sudah menjaga nama baik keluarga saya di depan tamu-tamu tadi."

Alika tersenyum, kali ini senyumnya lepas tanpa beban. Ia mulai menyadari bahwa menjadi "sholehah" ternyata bukan tentang menjadi sempurna seperti Alya, melainkan tentang berani mengakui kesalahan dan mau belajar meski harus merangkak dari nol.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
NN
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!