Aku Abhinav Ruchir mencintaimu dengan cara yang mungkin membuatmu sesak aku menginginkan seluruh perhatianmu, seluruh waktumu, dan seluruh duniamu hanya untukku. Cintaku padamu seperti geranium yang tumbuh liar ia menuntut ruang untuk terus berada di dekatmu, terkadang melupakan batasan, hanya karena ia takut kehilangan tempatnya di sisimu.
Aku tahu caraku mencintaimu mungkin terasa dominan. Aku tidak ingin berbagi satu detik pun darimu dengan dunia lain, karena bagiku, kamu adalah satu-satunya nutrisi yang membuat hatiku tetap bertahan hidup. Ada kalanya aku merasa egois karena ingin memilikimu seutuhnya.
Namun, inilah caraku menjaga hubungan ini tetap bersemi dengan memegangmu seerat mungkin, meski aku tahu keegoisan ini mungkin akan melukai kita berdua.
Biarkan aku menjadi orang yang paling 'membutuhkanmu' di dunia ini. Bukan karena aku lemah, tapi karena di antara segala kesibukanmu, aku selalu ingin menjadi alasan utama mengapa kamu harus pulang dan tetap tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Suasana di dalam kamar itu begitu mencekam, hanya menyisakan suara denting es batu yang beradu dengan gelas kristalnya setiap kali ia menyesap vodka. Ia duduk di kursi tepat di depan tempat tidurku, memandangiku dengan tatapan yang begitu dingin dan tajam, seolah-olah ia sedang membedah setiap ketakutan yang kusembunyikan di balik isak tangisku.
" Maaf... aku mohon... aku benar-benar tidak akan melakukannya lagi," bisikku berulang kali, suaraku parau dan pecah karena tangis yang tak kunjung berhenti. Aku meringkuk di sudut tempat tidur, mencoba membuat diriku sekecil mungkin agar tidak menarik perhatiannya lebih jauh.
Ia diam sejenak, membiarkan permohonanku menggantung di udara yang terasa berat, lalu ia meletakkan gelasnya dengan dentuman pelan namun tegas di atas meja.
Abhi " Tidak ada lain kali lagi," ucapnya dingin, memutus harapanku. Suaranya rendah, penuh penekanan yang membuat jantungku seakan berhenti berdetak. " Aku pastikan itu. Dan jika kamu berani mencoba melakukannya lagi, jika kamu berani menguji kesabaranku sekali saja, aku pastikan kamu akan menyesal seumur hidupmu."
Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, tatapan matanya yang membunuh kini mengunci pandanganku.
Abhi " Aku pasti akan mengambil sesuatu yang paling berharga darimu sebagai gantinya. Kamu tahu persis apa itu, bukan? Sesuatu yang akan membuat duniamu runtuh seketika."
Ia kembali menyandarkan punggungnya dengan angkuh, menatapku seolah aku hanyalah pion dalam permainannya yang kejam.
Abhi " Aku tidak peduli seberapa hancur dirimu nanti. Mungkin, melihatmu hancur adalah satu-satunya cara untuk memastikan kau tetap berada dalam genggamanku selamanya."
Kata-katanya terasa seperti vonis mati. Aku tidak bisa menjawab, aku hanya bisa menatapnya dengan pandangan nanar, menyadari bahwa di mata pria ini, aku tidak pernah memiliki hak atas diriku sendiri bahkan hak untuk sekadar berbuat salah.
Sebelum ia beranjak, ia berdiri tepat di depanku, menjulang tinggi bagaikan bayangan yang menelan sisa-sisa keberanianku. Tanpa peringatan, tangannya mencengkeram rahangku dengan kekuatan yang menyakitkan, memaksaku mendongak. Ia membungkuk, lalu menghujamkan bibirnya ke bibirku dengan ciuman yang lebih dari sekadar kasar itu adalah sebuah serangan.
Aku merasakan gigi-giginya menekan bibirku hingga kulit yang tipis itu robek. Rasa anyir darah memenuhi mulutku seketika, disusul rasa nyeri yang menyengat dan berdenyut hebat. Namun, ia tidak peduli. Ia justru menarik diri dengan seringai tipis yang tidak mencapai matanya, meninggalkan bibirku yang kini bengkak dan terluka.
Abhi " Tidurlah," suaranya parah, namun sarat dengan ancaman. " Aku akan tidur di kamar lain. Kamu tidak ingin melihatku semakin marah, bukan ? "
Aku tidak bisa berkata-kata. Rasa sakit di bibirku membuat setiap gerakan mulut menjadi siksaan. Aku hanya bisa menatapnya dengan pandangan nanar, mataku yang memerah karena lelah dan takut menatap lantai dengan gemetar. Dengan sisa kesadaran yang kupunya, aku mengangguk pelan sebuah gestur menyerah yang mutlak.
Ia berbalik tanpa menoleh lagi. Langkah kakinya yang berat menjauh, meninggalkan bau parfumnya yang kini terasa seperti aroma penjara bagiku. Tak lama kemudian, aku mendengar dentuman pintu kamar yang tertutup, diikuti suara logam yang beradu klik.
Ia mengunciku.
Aku benar-benar sendirian di dalam kamar yang luas ini. Aku meringkuk di atas kasur, memeluk lututku yang masih gemetar hebat. Rasa perih di bibirku adalah pengingat konstan akan harga yang harus kubayar karena mencoba melawan. Di tengah keheningan apartemen yang mencekam, aku hanya bisa memejamkan mata, membiarkan air mata yang tersisa terus mengalir hingga akhirnya aku terlelap dalam ketakutan yang tak kunjung usai.