GPS: Galactic Parcel Service
Di galaksi tempat ribuan peradaban saling berdagang, berperang, dan jatuh cinta, selalu ada satu kapal yang tetap terbang mengantarkan paket.
Arka Orion Saputra adalah kapten kapal kargo GPS. Bersama Null, makhluk materi gelap yang namanya nyaris mustahil diucapkan, dan Pi'Pi'Pi'Kra'Va'Tul, kepala keamanan mungil dari planet bergravitasi dua ratus kali Bumi, mereka menghubungkan dunia demi dunia melalui pengiriman antarbintang.
Bagi mereka, paket hanyalah pekerjaan. Yang membuat setiap perjalanan berkesan justru para pelanggannya: pasangan beda spesies yang bertengkar, kerajaan alien dengan permintaan aneh, hingga paket-paket yang seharusnya tidak pernah dikirim.
Di balik semua itu, mereka hanya ingin hidup yang layak, diakui, dan... mungkin menemukan seseorang yang bisa mereka sebut sebagai rumah.
Sebab pada akhirnya, setiap paket selalu memiliki tujuan. Mungkin... begitu pula dengan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Es Teh, Lengan Meleleh, dan Anak Hidroponik
Menatap belasan alien jantan dari berbagai ras yang sedang bersembunyi di balik tumpukan kargo demi mencuri pandang ke arah Eve, pundak Harry merosot seketika. Harapan di hatinya hancur berkeping-keping sebelum sempat bersemi.
"Hah... ya sudahlah. Ke kantin aja yuk, temenin makan," ajak Harry dengan suara lemas, membuang jauh-jauh bayangan wajah bidadari Seraphi itu dari kepalanya.
Febri menggoyangkan tubuh jelinya yang berwarna hijau kebiruan, menghasilkan suara slosh-slosh pelan di setiap langkahnya. "Boleh. Pas banget dari tadi pagi aku juga belum makan."
Mereka berdua pun berjalan bersisian menyusuri koridor logam menuju Kantin Sektor C.
"Ngomong-ngomong..." Harry melirik temannya itu. "Kau sendiri nggak tertarik sama Eve? Cantik paripurna bersinar-sinar begitu masa kau nggak kepincut sama sekali?"
"Cantik sih," jawab Febri santai. "Tapi sayang dia bukan seleraku."
Harry mendengus tak percaya. "Gayamu. Seleramu yang kayak gimana emangnya?"
"Rahasia."
"Halah, palingan juga selera kau sama-sama mentok di ras Slime. Nyari sesama cewek lendir, kan?" ledek Harry.
"Enak aja! Sok tahu kau, botak," balas Febri tak terima. "Cinta itu nggak terbatas oleh wujud dan anatomi, tahu!"
Pintu otomatis kantin mendesis terbuka, langsung menyambut mereka dengan tamparan udara hangat yang membawa campuran berbagai aroma aneh, mulai dari wangi daging panggang rempah, hingga bau amis cairan sintetis yang menyengat. Ruangan itu masih agak lengang karena pergantian shift besar belum dimulai.
Dari kejauhan, mereka melihat Kapten Arka sedang duduk menyendiri di salah satu meja bundar. Bukannya sedang makan, sang kapten justru tampak sibuk menggeser-geser tumpukan dokumen holografik yang melayang di atas meja. Ia ditemani oleh YUI yang duduk anteng di sebelahnya, serta segelas besar es teh manis yang dinding kacanya sudah berembun.
"Ngapain kamu ngikutin saya terus, sih?" keluh Arka tanpa mengalihkan pandangannya dari layar holo yang menampilkan rute galaksi. "Kan udah kubilang, nanti aja kita cari tahu urusan dan alasannya Tuan Putri itu kalau dia udah baikan."
YUI memutar bola matanya, jemari berbalut sarung tangan rendanya memainkan ujung rambut sintetisnya dengan bosan. "aku juga ogah kali ngikutin Kapten terus. Tapi protokol sistemku memang di-setting begitu. Kecuali di luar jam kerja, Aku bakal nempel terus sebagai asisten."
"Bohong banget," sahut Arka sinis. "Kalau memang sistemnya maksa harus nempel dua puluh empat jam, kenapa tadi kamu nggak ngikutin saya sekalian ke WC?"
YUI menghentikan putaran jarinya di rambut. Mata merah menyalanya menatap Arka dengan senyum mekanis. "Kapten tahu nggak, kalau secara statistik galaktika, lantai kamar mandi adalah tempat yang paling banyak membunuh makhluk humanoid karena terpeleset? Aku cuma memastikan ada yang lapor kalau Kapten tiba-tiba mati konyol di sebelah kloset."
"Idih, gitu aja marah bawa-bawa statistik kematian," cibir Arka, buru-buru menyeruput es tehnya.
Tak lama kemudian, Harry dan Febri datang membawa nampan makanan mereka, seporsi Mi Akar Kenyal dan semangkuk sup nutrisi fosfor, lalu menepi ke meja sang kapten.
"Siang... atau sore? Eh, malam ya, Kapten?" sapa Harry bingung menyesuaikan zona waktu kapal yang selalu membingungkan.
"Siang sih ya harusnya kalau waktu Bumi, kan Kap?" timpal Febri.
Arka mendongak dan menggeser kursi di depannya dengan ujung sepatu. "Oh, sini-sini. Ambil kursi sebelah situ biar pas duduknya. Iya, siang kalau ikut jam operasional Bumi. Sorry ya meja ini agak sempit gara-gara ada robot yang nggak butuh makan tapi malah maksa ikutan duduk."
"Weh, kalau Mbak YUI yang cantik sih nggak apa-apa makan tempat," goda Febri. Ia merapatkan tubuh jelinya ke arah YUI lalu mengedipkan salah satu titik hitam di wajah transparannya ke arah sang AI.
YUI langsung memasang wajah jijik jual mahal. "Idih, sok imut banget mentang-mentang jeli berjalan."
Harry tertawa kecil lalu mulai mengaduk minya. "Lagi sibuk ngapain, Kap?"
"Ini, lagi ngurusin mapping rute buat paket suplai ke bangsa Urana nanti," jawab Arka.
YUI, yang tampaknya muak melihat deretan angka logistik berkedip di udara, mendengus pelan. Ia menepuk rok gotiknya dan berdiri. "Ya udahlah. Kalau cuma bahas rute pengiriman, saya mending pergi aja. Mau jalan-jalan keliling dek."
Baru saja YUI melangkah, tiba-tiba lengan slime Febri memanjang bak karet dan meraih pergelangan tangan sang asisten gotik itu.
"Mau ke mana sih, Mbak YUI? Buru-buru amat, temenin dulu napa di sini," rayu Febri memamerkan jurus buayanya.
YUI membeku. Ia menunduk menatap lengan lendir yang menempel di sarung tangannya dengan tatapan kosong. Tanpa peringatan, terdengar bunyi dengungan micro-core dari balik kulit besi YUI. Dalam hitungan milidetik, ia menaikkan suhu termal di permukaan lengan kanannya hingga menembus titik didih.
Bloop... ssssshhhh!
Asap putih mengepul disertai bau seperti plastik terbakar.
"Aduuuh! Aduh! Aduh! Panas, panas!" jerit Febri melengking. Lengan jelinya melepuh seketika, mendidih dan lumer jatuh ke lantai kantin menyerupai es krim hijau yang dilempar ke atas wajan panas.
"Kapok! Bwahahahaha!" tawa Harry pecah hingga ia memukul-mukul meja.
"Haduuuh..." Arka geleng-geleng kepala melihat tingkah anak buahnya, namun ujung bibirnya menyunggingkan senyum tertahan.
Setelah memberi tatapan tajam terakhir pada sisa genangan lendir Febri, YUI melenggang pergi tanpa rasa bersalah meninggalkan kantin.
"Gimana, Feb? Seleramu ternyata robot, kan? Enak dilelehkan?" goda Harry puas.
Febri yang masih sibuk meniup-niup lengannya yang melepuh membalas sinis, "Huuff... huuff... Eh, seleraku itu yang pasti-pasti dan bisa digapai, ya! Mau terbuat dari logam atau apapun itu, yang penting realistis. Nggak kayak kamu, seleranya ngawang ketinggian!"
"Kalian ini..." tegur Arka tersenyum lebar. "Heh, Feb, kelakuanmu narik-narik tangan anak orang barusan itu bisa masuk hitungan pelecehan, loh. Awas kalau besok-besok kamu dipanggil ke ruang HRD gara-gara YUI laporan."
Febri membela diri, wajah lendirnya beriak cemberut. "Nggak bisa dong, Pak. Kan dia bukan makhluk biologis."
"Iya," potong Harry cepat dengan mulut penuh mi. "Tapi kalau dia sampai ngelelehin seluruh badanmu jadi kuah sup, masuknya juga ke kecelakaan kerja, bukan pembunuhan terencana! Nggak ada asuransi yang bakal belain kau."
Mendengar logika absurd itu, tawa Arka meledak. "Ahahahahaha! Udah-udah, saya jadi nggak bisa kerja kalau kalian ngelawak melulu."
Di tengah suasana yang mulai cair itu, seorang gadis Reptola muda melangkah ragu menghampiri meja mereka. Ia mengenakan overall kerja berwarna hijau daun khas Divisi Hydroponik, lengkap dengan noda tanah di ujung sepatunya.
"Siang, Kapten," sapanya pelan.
Arka menoleh dan tersenyum ramah. "Oh, Mbak Rizer. Mau ikutan makan di meja ini juga?"
"Oh, enggak, Pak. Saya ke sini cuma mau nyerahin laporan persentase panen hidroponik kebun," jawab Rizer gugup sambil menyerahkan sebuah sabak digital. Gadis ras Reptola inilah yang pada hari pertama tak sengaja tersandung dan menumpahkan jus jambu milik Pipi di pelabuhan orbital.
Arka mengambil sabak tersebut. "Ngomong-ngomong, gimana kabarnya Bu Pipi? Udah baikan setelah kalian baku hantam kemarin?"
"U-udah, Pak. Kami berdua sudah saling memaafkan kok dari semalam."
"Saya sejujurnya agak kaget loh, nggak nyangka ternyata kamu kerjanya di kapal kargo ini juga," ucap Arka.
Wajah bersisik pucat Rizer seketika memerah malu. "I... iya, Pak."
"Si Razor itu... beneran kakak kandungmu?" selidik Arka.
"Iya, Pak. Ayah kami adalah manajer eksekutif GPS cabang Nebula. Jadi kami sengaja dimasukkan di tempat dan kapal yang sama."
Arka manggut-manggut. Masuk akal, batinnya. Sang ayah pasti sengaja mengatur agar Razor bisa melindungi adiknya yang pemalu ini dari kerasnya kehidupan antar-galaksi.
Melihat ada gadis biologis manis di depan mata, jiwa buaya Febri merestart dirinya sendiri. Ia mencondongkan tubuhnya, meregenerasi sisa lengan jelinya dengan cepat, dan mengulurkannya ke arah Rizer.
"Ehem... kenalin, Neng. Namaku Febri dari Divisi Kargo."
Rizer membalas uluran tangan itu dengan kaku. Sensasi lengket sedingin agar-agar menyentuh telapak tangannya. "Eh, iya... aku Rizer dari Divisi Teknikal Hidroponik."
"Aku dari Divisi Kargo juga. Temannya si lendir buaya ini," celetuk Harry cepat. "Panggil aja Harry."
"Salam kenal ya, Mas Harry, Mas Febri..." Rizer menunduk sungkan, lalu menatap Arka kembali. "Ya sudah, Kapten, saya langsung balik ke dek pertanian ya. Masih banyak kerjaan bibit yang belum disiram."
"Oh, iya, silakan," kata Arka. "Nanti saya suruh Pipi buat ngasih hadiah kecil ke kamu sebagai bentuk permintaan maaf."
"Ah, nggak perlu, Kapten!" tolak Rizer cepat. "Lagian, kakak saya kan bawahannya Bu Pipi secara teknis, nanti rasanya malah nggak enak kalau dikasih hadiah gitu."
"Ya sudah kalau kamu maunya gitu. Semangat ya kerjanya."
Rizer mengangguk, wajahnya semakin memerah tomat, lalu buru-buru berbalik dan berjalan cepat meninggalkan kantin.
Begitu sosok gadis pertanian itu menghilang di balik pintu, Febri menopang dagu dengan lengannya yang baru tumbuh. "Cakep banget, Kap. Kenal di mana sama bidadari kebun itu?"
Harry menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah. "Seleramu ini bener-bener ya, nggak ada remnya."
"Kemarin di stasiun orbital Bumi pas mau boarding," jawab Arka santai, mengingat kembali insiden jus jambu tersebut. "Kebetulan kenal aja sih."
Ning... Nung... Ning... Nung...
Suara lonceng digital yang nyaring mendadak memotong suasana santai itu. Suara jernih milik YUI menggema dari seluruh speaker Public Address (PA) kapal, mengalahkan dengungan suara pengunjung kantin.
"Panggilan ditujukan kepada Kapten Arka dan Kepala Divisi Kargo, Null. Dimohon untuk segera merapat ke Ruang Transmisi Pusat. Panggilan masuk dari Kantor Pusat terdeteksi. Sekali lagi..."
Arka mendesah panjang. Waktu istirahatnya jelas sudah berakhir. Ia buru-buru mematikan layar holo-nya, menyambar sabaknya, dan berdiri merapikan seragamnya.
"Wah, dipanggil pusat tuh, Kap," ucap Harry. "Sampai nanti, Kapten."
"Oke, saya duluan ya," pamit Arka sambil bergegas membelah keramaian kantin.
Febri tidak menjawab, ia hanya melambai-lambaikan tangan jelinya ke arah punggung kapten mereka dengan malas karena mulutnya sedang penuh mengunyah makanan.